Desil 6-10 Dinilai Mulai Mampu Berinvestasi, Ini Pilihan Instrumennya

Istilah desil menjadi perbincangan di tengah masyarakat seiring wacana pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi Pertalite. Perhatian publik terhadap pengelompokan kesejahteraan rumah tangga pun meningkat. Banyak masyarakat kemudian mengecek posisi ekonomi keluarga mereka melalui Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

Dalam DTSEN, tingkat kesejahteraan rumah tangga dikelompokkan ke dalam desil 1 hingga 10. Pengelompokan tersebut turut mendorong masyarakat untuk memahami kondisi finansial keluarga, termasuk kemampuan dalam menyisihkan dana untuk kebutuhan masa depan dan investasi.

Meski demikian, pemilihan instrumen investasi perlu disesuaikan dengan kemampuan keuangan, kondisi rumah tangga, tingkat pemahaman terhadap produk, serta tujuan investasi. Perencana keuangan menilai setiap kelompok ekonomi memiliki pilihan instrumen dan strategi yang berbeda.

Desil 6-7 Dinilai Mulai Memiliki Ruang untuk Berinvestasi

Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menilai kesiapan untuk menyisihkan dana investasi secara teori mulai terbentuk ketika rumah tangga berada pada kelompok ekonomi menengah, yakni desil 6 dan 7.

Pada tingkatan tersebut, kebutuhan pokok harian umumnya telah terpenuhi. Kondisi ini dinilai dapat memberikan ruang finansial untuk menyisihkan sebagian pendapatan, meskipun jumlah dana yang tersedia belum tentu besar.

“Sebaiknya kita mulai berinvestasi ketika masuk kriteria mulai desil 6-7 karena masuk kategori ekonomi menengah yang secara teori sudah memiliki dana lebih setelah berbagai kebutuhannya tercukupi,” ujar Andi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (20/8).

Sementara itu, Perencana Keuangan Tatadana Consulting Tejasari mengatakan setiap lapisan masyarakat idealnya tetap berupaya menyisihkan sebagian pendapatannya. Menurut dia, kebiasaan tersebut penting untuk membantu masyarakat menghadapi kebutuhan keuangan sekaligus mengurangi risiko terjerat utang konsumtif, termasuk pinjaman online.

Namun, Tejasari mengakui bahwa kelompok menengah merupakan kalangan yang pada kenyataannya paling mampu menyisihkan uang secara rutin setiap bulan, baik kelompok menengah bawah maupun menengah atas.

Pilihan Instrumen Investasi Berdasarkan Kelompok Ekonomi

Desil 6-7: Instrumen Berisiko Rendah hingga Moderat

Untuk masyarakat yang berada pada desil 6 dan 7, Andi menyarankan pemilihan produk investasi dengan tingkat risiko rendah hingga moderat. Pertimbangan tersebut berkaitan dengan jumlah dana lebih yang biasanya belum terlalu besar dan masih berpotensi digunakan untuk kebutuhan tidak terduga.

Beberapa instrumen yang dapat dipertimbangkan kelompok ini antara lain deposito, logam mulia, surat berharga negara (SBN) ritel, dan reksa dana. Instrumen tersebut dinilai lebih sesuai untuk kondisi keuangan yang masih membutuhkan kestabilan dan fleksibilitas.

Desil 8-10: Berpeluang Memilih Instrumen Berisiko Lebih Tinggi

Berbeda dengan desil 6 dan 7, masyarakat yang berada pada desil 8 hingga 10 dapat mempertimbangkan instrumen dengan risiko lebih tinggi dan jangka investasi yang lebih panjang. Andi menyebut reksa dana campuran, reksa dana saham, serta investasi langsung di pasar saham sebagai sejumlah pilihan.

Selain itu, kelompok desil teratas juga dapat mempertimbangkan instrumen dengan volatilitas tinggi, seperti pasar komoditas hingga aset kripto. Namun, Tejasari menekankan bahwa keputusan tersebut tetap harus disesuaikan dengan kondisi keuangan dan tingkat literasi terhadap produk yang dipilih.

Menurut Tejasari, kalangan menengah bawah dapat memilih produk ritel yang relatif stabil, seperti tabungan emas, reksa dana pasar uang, atau reksa dana pendapatan tetap. Sementara itu, kelompok menengah atas yang memiliki fondasi keuangan lebih kuat dan pemahaman terhadap pasar modal dapat melirik produk berisiko tinggi, seperti saham atau reksa dana saham.

Strategi Investasi dan Penyesuaian dengan Tujuan Keuangan

Selain menentukan instrumen, strategi penempatan dana juga menjadi hal penting. Andi menyarankan masyarakat tidak langsung menaruh seluruh modal sekaligus. Sebagai alternatif, investor dapat menggunakan metode cost averaging, yaitu berinvestasi sedikit demi sedikit secara berkala.

Strategi tersebut ditujukan untuk meminimalkan risiko sekaligus mengoptimalkan peluang keuntungan. Andi juga menyarankan diversifikasi investasi agar dana tidak hanya ditempatkan pada satu jenis instrumen.

Tejasari menambahkan, jangka waktu investasi harus ditentukan berdasarkan tujuan keuangan. Untuk kebutuhan jangka pendek, termasuk dana darurat, masyarakat disarankan memilih instrumen yang likuid dan aman. Contohnya adalah tabungan emas dan reksa dana pasar uang.

Adapun untuk kebutuhan jangka menengah hingga panjang, seperti dana pendidikan anak, reksa dana pendapatan tetap dinilai dapat menjadi pilihan. Sementara untuk dana pensiun, masyarakat yang telah memahami investasi saham dapat mulai mempertimbangkan saham dengan fundamental kuat.

Kesimpulan

Pengelompokan desil dalam DTSEN dapat menjadi salah satu gambaran mengenai kondisi kesejahteraan rumah tangga, termasuk kemampuan dalam menyisihkan dana untuk investasi. Secara teori, kelompok desil 6 dan 7 dinilai mulai memiliki ruang untuk berinvestasi karena kebutuhan pokok telah tercukupi. Namun, instrumen yang dipilih sebaiknya tetap berada pada tingkat risiko rendah hingga moderat.

Sementara itu, kelompok desil 8 hingga 10 memiliki lebih banyak pilihan untuk mempertimbangkan instrumen berisiko tinggi, dengan catatan kondisi keuangan dan pemahaman terhadap produk telah memadai. Ke depan, masyarakat perlu memetakan tujuan keuangan, memilih instrumen sesuai kemampuan, menerapkan investasi berkala, serta melakukan diversifikasi agar strategi investasi dapat berjalan lebih terarah.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment