4 Syarat Motor Listrik Nasional atau Molinas, TKDN Wajib di Atas 60 Persen
Motor listrik yang diproduksi di Indonesia tidak otomatis dapat menyandang status sebagai Motor Listrik Nasional atau Molinas. Pemerintah menetapkan sejumlah ketentuan yang harus dipenuhi secara bersamaan agar sebuah produk dapat masuk dalam kategori tersebut. Aturan ini dirancang untuk memastikan program Molinas tidak hanya berfokus pada penjualan kendaraan, tetapi juga memperkuat kemampuan industri nasional.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menetapkan empat syarat utama bagi motor listrik yang ingin menggunakan label Molinas. Persyaratan tersebut mencakup tingkat komponen dalam negeri, pengembangan desain dan rekayasa, penggunaan baterai berbasis nikel, serta harga yang sesuai dengan kebutuhan pasar domestik.
Empat Syarat Motor Listrik Nasional
Keempat ketentuan tersebut harus dipenuhi sekaligus. Artinya, motor listrik yang hanya memenuhi sebagian persyaratan belum dapat dikategorikan sebagai Molinas. Pemerintah ingin label ini mencerminkan produk yang benar-benar memiliki basis produksi, teknologi, dan rantai pasok dalam negeri.
1. TKDN di atas 60 persen
Syarat pertama adalah tingkat komponen dalam negeri atau TKDN di atas 60 persen. Ketentuan ini mencakup sejumlah bagian utama kendaraan, seperti powertrain, frame atau struktur, serta komponen plastik dan body panel.
Persyaratan TKDN tersebut menunjukkan upaya pemerintah untuk meningkatkan penggunaan komponen lokal dalam produksi motor listrik. Dengan demikian, program Molinas diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri komponen di dalam negeri.
2. Desain dan rekayasa dikembangkan di Indonesia
Motor listrik nasional juga harus memiliki desain dan rekayasa yang dikembangkan di dalam negeri. Syarat ini menegaskan bahwa Molinas tidak hanya ditujukan untuk produk yang dirakit di Indonesia, melainkan kendaraan yang memiliki kemampuan pengembangan teknologi dan engineering nasional.
Pengembangan desain dan rekayasa di dalam negeri menjadi bagian penting dalam membangun kapasitas industri otomotif nasional. Fokus tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan sumber daya dan perusahaan lokal dalam menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia.
3. Menggunakan baterai berbasis nikel
Syarat berikutnya adalah penggunaan baterai berbasis nikel. Ketentuan ini diarahkan untuk mendukung hilirisasi nasional. Baterai menjadi salah satu komponen penting dalam kendaraan listrik, sehingga penggunaannya diharapkan dapat terhubung dengan pengembangan rantai pasok industri di Indonesia.
4. Harga terjangkau
Selain memenuhi aspek teknologi dan kandungan lokal, motor listrik nasional juga harus ditawarkan dengan harga terjangkau. Harga tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasar domestik agar kendaraan listrik dapat diterima lebih luas oleh masyarakat.
Molinas Ditujukan untuk Membangun Ekosistem Industri
Program Molinas tidak semata-mata diarahkan untuk menjual unit motor listrik. Fokus utamanya adalah membangun kemampuan nasional dalam bidang desain, engineering, manufaktur, teknologi, dan rantai pasok.
Dengan pendekatan tersebut, program ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem yang melibatkan berbagai sektor. Ekosistem tersebut mencakup manufaktur, industri komponen, produksi baterai, hingga infrastruktur pengisian daya.
Peluang Pasar Motor Listrik Masih Terbuka Lebar
Dari sisi pasar, peluang pengembangan motor listrik di Indonesia masih sangat besar. Populasi motor konvensional di dalam negeri telah mencapai 145,25 juta unit. Sementara itu, jumlah motor listrik baru mencapai 229.554 unit hingga Desember 2025.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penetrasi motor listrik masih berada pada tahap awal. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memperkirakan permintaan motor listrik akan meningkat dalam dua tahun mendatang.
Asisten Deputi Pengembangan Industri Kemenko Perekonomian Atong Soekirman menyampaikan bahwa total permintaan motor listrik pada 2028 diperkirakan mencapai 1,5 juta unit. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta dan dikutip Antara pada Kamis (20/8).
Perkiraan permintaan tersebut bahkan jauh lebih besar dibandingkan dengan rencana kapasitas produksi Molinas yang ditargetkan mencapai 100 ribu unit per tahun.
Alva dan Gesits Masuk Program Molinas
Saat ini, terdapat dua merek dalam negeri yang menjadi bagian dari program Molinas, yakni Alva dan Gesits. Skema pembiayaan untuk kedua merek tersebut masih dalam tahap penyelesaian. Pembiayaan itu diharapkan dapat membantu menekan harga jual sebelum motor listrik resmi dipasarkan.
Selain mendorong penggunaan kendaraan listrik, program Molinas juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Atong sebelumnya menyampaikan bahwa program ini berpotensi menghemat subsidi bahan bakar minyak sebesar Rp82,2 triliun sepanjang 2027 hingga 2037. Proyeksi tersebut menggunakan asumsi terdapat 11 juta unit motor listrik yang beroperasi pada 2037.
Dampak Ekonomi dan Peresmian Program
Ekosistem Molinas diperkirakan dapat menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp150 triliun sepanjang 2026 sampai 2031. Program ini juga disebut berpotensi menciptakan sekitar 215 ribu lapangan kerja di sektor manufaktur, komponen, baterai, dan infrastruktur pengisian daya.
Dari sisi perdagangan, pengembangan motor listrik nasional juga diharapkan memperkuat neraca perdagangan melalui substitusi impor minyak senilai Rp45 triliun.
Molinas beserta ekosistem pendukungnya diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group atau ALVA, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis (13/8). Dalam acara tersebut, Prabowo menyatakan secara resmi meluncurkan motor listrik nasional beserta ekosistem pendukungnya.
Kesimpulan
Motor listrik yang ingin masuk kategori Molinas harus memenuhi empat syarat utama, yaitu TKDN di atas 60 persen, desain dan rekayasa yang dikembangkan di Indonesia, penggunaan baterai berbasis nikel, serta harga yang terjangkau bagi pasar domestik.
Melalui ketentuan tersebut, pemerintah berupaya menjadikan Molinas sebagai program penguatan industri nasional, bukan sekadar pengembangan produk kendaraan listrik. Dengan potensi permintaan yang diperkirakan mencapai 1,5 juta unit pada 2028, tantangan berikutnya adalah memastikan kesiapan produksi, pembiayaan, teknologi, dan rantai pasok agar target program dapat tercapai.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment