Mengenal Fisiognomi Korea: Ciri Wajah yang Dipercaya Membawa Keberuntungan
Fisiognomi atau ilmu membaca wajah merupakan tradisi yang meyakini bahwa bentuk dan karakteristik wajah dapat memberikan gambaran mengenai kepribadian, kehidupan, hingga keberuntungan seseorang. Praktik ini masih dikenal di Korea Selatan dengan sebutan gwansang dan hingga kini masih diminati masyarakat.
Sejumlah orang mendatangi ahli fisiognomi untuk mencari petunjuk tentang masa depan, sebagaimana mereka melakukan pembacaan saju atau garis tangan. Salah satu ahli yang telah menekuni bidang tersebut selama hampir enam dekade adalah Shin Ki-won, yang kini berusia 85 tahun.
Dalam wawancara dengan The Korea Herald, Shin mengatakan seseorang tidak dapat sepenuhnya menjalani kehidupan yang bertentangan dengan karakteristik fisiognominya. Menurutnya, sejumlah bagian wajah dipercaya memiliki makna tertentu dalam kehidupan seseorang.
Wajah Ideal Menurut Tradisi Fisiognomi
Shin menjelaskan, wajah yang dianggap baik adalah wajah yang memiliki keselarasan dengan karakteristik dasar alam. Dalam fisiognomi, setiap bagian wajah dianalogikan dengan unsur alam tertentu. Dahi dan dagu diibaratkan sebagai langit dan bumi, mata sebagai sungai, hidung sebagai gunung, mulut sebagai laut, sedangkan alis dianalogikan seperti tumbuhan.
Berdasarkan penafsiran tersebut, dahi dan dagu yang lebar serta tinggi dipercaya memiliki karakteristik yang baik. Hidung idealnya tampak kokoh dan berwibawa seperti gunung. Namun, hidung yang terlalu tinggi justru dipercaya dapat menjadi pertanda seseorang menjalani kehidupan yang kesepian.
Mulut juga menjadi bagian yang diperhatikan. Dalam tradisi fisiognomi, mulut yang lebar dianggap lebih baik, sementara mulut berukuran kecil dipercaya dapat menghambat seseorang meraih kesuksesan besar.
Selain itu, alis yang menyambung dan terawat dinilai memiliki makna positif. Secara keseluruhan, bentuk wajah yang harmonis dan tidak terlalu sempit dianggap sebagai karakteristik ideal.
Makna Tahi Lalat dan Tinggi Badan
Penafsiran fisiognomi tidak hanya melihat bentuk wajah. Posisi tahi lalat juga dipercaya berkaitan dengan nasib seseorang. Shin menyebut tahi lalat di telinga kiri kerap dikaitkan dengan kecerdasan. Sementara itu, tahi lalat di telinga kanan dianggap sebagai tanda seseorang memiliki sifat berbakti kepada orang tua.
Berbeda dengan dua lokasi tersebut, tahi lalat di dekat sudut mata memiliki tafsir yang kurang baik karena dipercaya berkaitan dengan kemungkinan kehilangan pasangan. Sebaliknya, tahi lalat di bagian pelipis dianggap sebagai tanda keberuntungan.
Tinggi badan juga termasuk aspek yang diperhitungkan dalam tradisi ini. Shin berpendapat bahwa orang bertubuh lebih pendek justru banyak ditemukan di antara sosok-sosok hebat dan berbakat. Ia mencontohkan mantan Presiden Korea Selatan Park Chung-hee dan Kim Dae-jung, serta Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte.
Ciri Wajah yang Dikaitkan dengan Kekayaan
Fisiognomi juga memiliki tafsir mengenai karakteristik wajah yang dipercaya berhubungan dengan kekayaan. Menurut Shin, alis yang posisinya lebih tinggi di dahi dianggap sebagai salah satu indikator potensi kekayaan.
Bentuk hidung turut menjadi perhatian. Hidung yang dikaitkan dengan kemampuan mengumpulkan kekayaan disebut cenderung lebar, rendah, penuh, dan berdaging. Karakteristik tersebut berbeda dengan hidung yang tinggi dan tipis.
Shin mencontohkan pendiri Hyundai Group Chung Ju-yung dan investor asal Amerika Serikat Warren Buffett sebagai gambaran pemilik karakteristik tersebut. Namun, mantan Chairman Samsung Lee Kun-hee disebut tidak memiliki bentuk hidung yang secara umum dianggap sebagai hidung orang kaya.
Meski demikian, Lee Kun-hee memiliki apa yang disebut Shin sebagai cow’s eyes atau mata sapi. Mata yang besar dan bulat seperti mata sapi dipercaya menjadi pertanda kemampuan seseorang mengumpulkan kekayaan dalam jumlah besar.
Mata, Kecerdasan, dan Umur Panjang
Karakteristik mata juga dipercaya dapat menunjukkan tingkat kecerdasan. Orang yang dianggap sangat cerdas disebut memiliki mata yang sempit dan panjang. Mata tersebut biasanya tampak berkilau serta sedikit menurun di bagian ujungnya.
Shin mencontohkan pendiri Apple, Steve Jobs, yang menurutnya memiliki mata cerdas dan berkilau. Namun, hidung Jobs yang ramping dan runcing dinilai menunjukkan kecenderungan menjalani kehidupan yang lebih kesepian.
Telinga juga memiliki makna tersendiri. Telinga yang panjang dan besar dipercaya berkaitan dengan umur panjang. Akan tetapi, ukuran telinga saja dinilai belum cukup. Daun telinga juga harus panjang agar dianggap memiliki karakteristik tersebut.
Dalam penjelasannya, Shin mencontohkan filsuf Korea Kim Hyung-sik yang disebut memiliki daun telinga panjang dan telah berusia 104 tahun.
Fisiognomi Bukan Ukuran Ilmiah
Berbagai penafsiran mengenai wajah, tahi lalat, mata, telinga, dan tinggi badan tersebut merupakan bagian dari tradisi fisiognomi. Kepercayaan ini masih menjadi salah satu praktik budaya yang dikenal di Korea Selatan, tetapi tidak dapat digunakan sebagai ukuran ilmiah untuk menentukan kekayaan, kecerdasan, kesehatan, umur panjang, maupun masa depan seseorang.
Ke depan, fisiognomi kemungkinan tetap menarik perhatian sebagai bagian dari tradisi dan budaya populer. Namun, pemaknaannya perlu ditempatkan secara proporsional agar tidak dijadikan dasar tunggal dalam menilai karakter atau menentukan kehidupan seseorang.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment