Harga Minyak Dunia Tembus US$91,05 per Barel Dipicu Konflik AS-Iran dan Risiko Selat Hormuz
Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (1/9). Kenaikan tersebut terjadi setelah perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali pecah, sehingga memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Minyak mentah Brent tercatat menembus US$91,05 per barel, sedangkan harga West Texas Intermediate (WTI) AS naik hingga US$86,59 per barel. Pasar minyak juga mencermati ancaman serangan lanjutan, terganggunya pelayaran di Selat Hormuz, serta perkembangan pasokan minyak Venezuela.
Harga Brent dan WTI Sama-Sama Menguat
Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik 56 sen atau 0,6 persen menjadi US$91,05 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah WTI AS meningkat 83 sen atau 1 persen menjadi US$86,59 per barel.
Penguatan tersebut melanjutkan tren positif pada sesi perdagangan sebelumnya. Brent ditutup melonjak 2,7 persen dan sempat menyentuh level tertinggi sejak 25 Agustus. Pada saat yang sama, WTI menguat 2,8 persen dan sempat mencapai level tertinggi sejak 21 Agustus.
Pergerakan harga minyak dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan. Aksi saling serang antara AS dan Iran menimbulkan risiko baru bagi infrastruktur energi serta jalur pelayaran yang berperan penting dalam distribusi minyak global.
Ancaman Serangan AS-Iran Tingkatkan Kekhawatiran Pasar
Kenaikan harga minyak terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengancam melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Iran. Ancaman itu disampaikan setelah Iran membalas gempuran AS pada Minggu (30/8).
Aksi saling serang tersebut menjadi perkembangan penting karena merupakan konfrontasi pertama antara kedua negara dalam sebulan. Situasi itu membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan adanya pembalasan dari Iran.
Chief Market Analyst KCM Tim Waterer mengatakan, potensi pembalasan tersebut dapat meningkatkan risiko kerusakan terhadap infrastruktur energi di sekitar Teluk. Selain itu, ketidakpastian terhadap aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz juga semakin besar.
“Ini membawa potensi pembalasan Iran kembali ke dalam perhitungan. Hal itu kemudian meningkatkan prospek kerusakan terhadap infrastruktur energi di sekitar Teluk dan menambah ketidakpastian baru terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz. Kedua risiko tersebut tercermin dalam penguatan harga minyak mentah,” kata Tim Waterer.
Aktivitas Pelayaran di Selat Hormuz Menurun
Risiko terhadap distribusi minyak turut meningkat setelah jumlah kapal komoditas yang terlihat melintasi Selat Hormuz turun menjadi sekitar lima kapal per hari pada akhir pekan. Data tersebut berasal dari Kpler.
Sejumlah negara, termasuk Qatar dan Oman, telah melakukan upaya mediasi untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Selat Hormuz Jadi Jalur Strategis Minyak Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan minyak yang sangat strategis. Sebelum perang pecah pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dunia mengalir melalui jalur perairan tersebut.
Iran menutup Selat Hormuz setelah AS dan Israel menyerang wilayah Iran pada 28 Februari. Ancaman terhadap keamanan pelayaran kembali terlihat setelah United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker terkena tiga proyektil ketika berlayar keluar dari Selat Hormuz.
Dalam laporan tersebut, tidak ada korban jiwa maupun dampak lingkungan yang dilaporkan. Meski demikian, insiden itu menambah perhatian pasar terhadap keamanan jalur distribusi minyak dari kawasan Teluk.
Pasokan Venezuela Jadi Perhatian Berikutnya
Selain konflik AS-Iran dan kondisi Selat Hormuz, pasar juga mencermati perkembangan pasokan minyak dari Venezuela. Sebelumnya, Trump mengumumkan kesepakatan dengan Venezuela untuk mengendalikan cadangan minyak negara tersebut.
Trump kemudian mengatakan minyak Venezuela akan digunakan untuk mengisi kembali cadangan minyak strategis AS atau Strategic Petroleum Reserve (SPR). Cadangan tersebut kini berada di dekat level terendah dalam 44 tahun.
Sejumlah perusahaan energi juga disebut tengah bersiap menandatangani kesepakatan final terkait proyek energi di Venezuela. Perusahaan-perusahaan itu antara lain Chevron dan GE Vernova dari AS, ONGC dari India, Eni dari Italia, serta GeoPark dari Kolombia.
Kesimpulan
Harga minyak dunia menguat karena pasar menghadapi ketidakpastian baru akibat kembali pecahnya perang AS-Iran. Ancaman serangan lanjutan, risiko terhadap infrastruktur energi di sekitar Teluk, serta menurunnya aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga.
Ke depan, perkembangan konflik dan keberhasilan upaya mediasi Qatar serta Oman akan menjadi perhatian penting bagi pasar. Selain itu, kondisi pelayaran di Selat Hormuz dan realisasi kesepakatan energi Venezuela juga berpotensi memengaruhi arah harga minyak dunia.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment