Bapanas Ungkap Penyebab Harga Beras Masih Naik meski Stok Bulog Besar

JAKARTA – Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkap alasan harga beras masih mengalami kenaikan di sejumlah daerah, meski Perum Bulog memiliki penguasaan stok yang cukup besar. Menurut Bapanas, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan beras, tetapi juga kecepatan distribusi ke wilayah dan pasar yang membutuhkan.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan beras yang dikuasai Bulog perlu segera disalurkan untuk memperkuat intervensi pemerintah terhadap harga. Penyaluran tersebut terutama dilakukan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta bantuan pangan.

Ketut menyampaikan hal itu dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 pada Selasa (18/8). Ia meminta Bulog mempercepat dan memperluas distribusi beras SPHP, khususnya ke pasar-pasar yang mengalami tekanan harga.

Distribusi SPHP ke Pasar Perlu Dipercepat

Bapanas menilai distribusi beras SPHP yang terlalu banyak dilakukan melalui Rumah Pangan Kita (RPK), sementara penyaluran langsung ke pasar masih terbatas, dapat membuat intervensi harga tidak berjalan optimal. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan indeks perkembangan harga (IPH) beras tetap meningkat.

Karena itu, Bulog diminta menyusun strategi distribusi yang lebih masif ke pasar, terutama pada Agustus, September, Oktober, dan periode berikutnya. Penyaluran ke pasar dinilai penting agar pasokan beras yang dikuasai Bulog dapat segera memengaruhi harga di tingkat konsumen.

“Kalau teman-teman Bulog kebanyakan menyalurkan beras SPHP di RPK kemudian di pasarnya sedikit, tentu IPH-nya akan naik,” kata Ketut.

Selain memperluas penyaluran SPHP, Bapanas juga meminta bantuan pangan untuk alokasi Juli-September disalurkan sesuai penugasan dan tepat waktu. Ketut menilai SPHP dan bantuan pangan merupakan dua bentuk intervensi yang dapat membantu mengendalikan perkembangan harga beras di daerah apabila pelaksanaannya berjalan sesuai jadwal.

Pemda Diminta Memantau Harga Setiap Hari

Ketut turut meminta pemerintah daerah melakukan pemantauan harga beras setiap hari. Apabila terjadi kenaikan, pemda diharapkan segera berkoordinasi dengan Bulog agar langkah intervensi dapat dilakukan tanpa menunggu terlalu lama.

Pemerintah, lanjut Ketut, akan mengganti biaya distribusi beras SPHP yang dikeluarkan Bulog. Penggantian biaya tersebut berlaku untuk berbagai moda transportasi, mulai dari kereta, kendaraan umum, feri, kontainer, hingga pesawat.

Dengan adanya skema penggantian biaya distribusi, Bapanas menilai Bulog memiliki ruang untuk menyalurkan beras ke berbagai wilayah di Indonesia. Pengecualian hanya berlaku apabila terdapat kendala keamanan. Dalam situasi tersebut, Bulog dapat berkoordinasi dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia.

Harga Beras Medium dan Premium Masih Naik

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan harga beras masih meningkat hingga minggu kedua Agustus 2026. Rata-rata harga beras medium secara nasional tercatat Rp14.515 per kilogram. Angka tersebut naik 0,23 persen dibandingkan rata-rata harga pada Juli yang berada di level Rp14.481 per kilogram.

Sementara itu, rata-rata harga beras premium mencapai Rp16.363 per kilogram. Harga tersebut meningkat 0,20 persen dibandingkan rata-rata Juli yang sebesar Rp16.330 per kilogram.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kenaikan harga beras tersebut memang relatif tipis. Namun, peningkatan terjadi pada dua jenis beras, baik medium maupun premium.

“Baik untuk beras medium maupun beras premium, ini mengalami peningkatan harga walaupun kecil,” ujar Ateng.

Potensi El Nino Perlu Diwaspadai

Selain masalah distribusi, BPS mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai potensi El Nino dan kekeringan yang diperkirakan berlangsung pada September hingga Desember 2026. Prediksi tersebut mengacu pada informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi El Nino yang juga disertai fenomena Indian Ocean Dipole (IOD).

Curah hujan yang rendah berpotensi kembali mendorong kenaikan harga beras. Ateng mengingatkan bahwa kondisi El Nino pernah beriringan dengan inflasi beras yang cukup tinggi. Pada September 2023, ketika curah hujan rendah, inflasi beras tercatat mencapai 5,61 persen.

Ia juga menyebut beras memiliki kontribusi cukup besar terhadap inflasi. Pada Februari, inflasi beras tercatat mencapai 5,32 persen. Oleh sebab itu, perkembangan harga beras perlu dicermati secara serius dalam beberapa bulan ke depan, terutama ketika curah hujan diperkirakan relatif rendah.

Kesimpulan

Kenaikan harga beras di sejumlah daerah dinilai bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya stok. Bapanas menekankan pentingnya kecepatan dan ketepatan distribusi beras Bulog, terutama melalui program SPHP yang diarahkan langsung ke pasar serta bantuan pangan yang disalurkan sesuai jadwal.

Ke depan, efektivitas pengendalian harga akan sangat bergantung pada kemampuan Bulog mendistribusikan stok ke wilayah yang membutuhkan. Pemantauan harian oleh pemerintah daerah juga diperlukan untuk merespons kenaikan harga secara cepat. Di sisi lain, potensi El Nino dan kekeringan pada September hingga Desember 2026 menjadi faktor yang perlu diantisipasi agar tekanan terhadap harga beras dan inflasi tidak semakin besar.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment