Ekspor Nonmigas Indonesia 2026 Didominasi Produk Industri Pengolahan hingga 82 Persen

JAKARTA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkapkan bahwa produk industri pengolahan kini menjadi penyumbang terbesar dalam struktur ekspor nonmigas Indonesia. Pada 2026, kontribusi produk hasil industri pengolahan tercatat mencapai 82 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang masih berada di kisaran 79 persen.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag Fajarini Puntodewi mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan adanya perubahan penting dalam struktur perdagangan luar negeri Indonesia. Pernyataan itu disampaikan dalam acara Indonesia Economic Forum 2026: The Future of Indonesia’s Exports.

Kontribusi Industri Pengolahan Meningkat Signifikan

Menurut Fajarini, dominasi produk industri pengolahan mencerminkan transformasi ekspor Indonesia yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. Jika dibandingkan dengan kondisi sekitar 15 tahun lalu, perubahan tersebut terlihat sangat besar.

Pada periode tersebut, produk industri pengolahan hanya menyumbang sekitar 30 persen terhadap total ekspor Indonesia. Kini, kontribusinya telah meningkat lebih dari dua kali lipat dan mencapai 82 persen pada 2026.

Fajarini menjelaskan bahwa peningkatan itu tidak terlepas dari pelaksanaan hilirisasi. Kebijakan tersebut mendorong pengolahan komoditas di dalam negeri sebelum diekspor, sehingga produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan komoditas mentah.

“Sekarang ini tahun 2026 sudah 82 persen. Ini karena adanya hilirisasi itu,” ujar Fajarini.

Perubahan struktur tersebut dinilai penting karena ekspor Indonesia tidak lagi hanya mengandalkan penjualan bahan mentah. Dengan semakin berkembangnya industri pengolahan, Indonesia dapat menawarkan produk yang lebih beragam dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi kepada pasar global.

Hilirisasi Sawit Dorong Produk Bernilai Tambah

Salah satu contoh perkembangan hilirisasi terlihat pada komoditas kelapa sawit atau crude palm oil (CPO). Fajarini mengatakan, produk ekspor Indonesia saat ini tidak hanya berupa CPO, tetapi juga mencakup berbagai produk turunannya.

Perkembangan industri turunan sawit menunjukkan bahwa proses pengolahan komoditas di dalam negeri telah berjalan cukup masif. Pemerintah juga melihat peluang untuk mengembangkan produk berbasis bioenergi yang dinilai memiliki nilai tambah besar.

Dengan demikian, komoditas sawit tidak berhenti sebagai bahan dasar, tetapi dapat dikembangkan menjadi beragam produk yang memiliki kegunaan lebih luas. Langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi ekspor Indonesia menuju produk yang lebih kompetitif.

Produk Baja Indonesia Menembus Pasar Global

Transformasi serupa juga terjadi pada industri baja. Fajarini menyebut Indonesia kini tidak hanya mengekspor baja setengah jadi, seperti lembaran baja hot roll maupun cold roll.

Industri dalam negeri telah mampu memproduksi berbagai jenis baja jadi, termasuk baja struktural dan baja pipa untuk memenuhi kebutuhan industri di Eropa. Perkembangan tersebut menunjukkan peningkatan kapasitas pengolahan dan kemampuan industri nasional dalam menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar internasional.

Produk baja jadi asal Indonesia bahkan telah digunakan untuk kebutuhan infrastruktur di Amerika Serikat dan Kanada. Menurut Fajarini, perkembangan itu menjadi gambaran penting mengenai besarnya perubahan yang terjadi pada industri baja nasional.

“Sekarang kita sudah menjual baja-baja jadi, baja struktural, baja pipa untuk industri di Eropa,” kata Fajarini.

Ekspor Indonesia Tetap Tumbuh

Di tengah perubahan struktur ekspor dan meningkatnya tantangan geopolitik global, kinerja ekspor Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan. Fajarini menyebut tren ekspor dalam beberapa tahun terakhir tetap sejalan dengan pertumbuhan permintaan pasar dunia.

Pada 2026, ekspor Indonesia disebut tumbuh 4,43 persen. Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari-Juli 2026 kembali mencatat surplus sekitar US$3 miliar.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perdagangan Indonesia masih berjalan stabil dan mampu memenuhi permintaan dari pasar global. Pertumbuhan ekspor serta surplus perdagangan menjadi indikator bahwa daya saing produk Indonesia tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi dunia.

Lima Negara Jadi Pasar Utama Ekspor Nonmigas

Fajarini menambahkan, Indonesia perlu mempertahankan pasar ekspor yang selama ini menjadi tujuan utama. Untuk ekspor nonmigas, China, Amerika Serikat, India, Jepang, dan Malaysia masih menjadi lima negara tujuan terbesar.

Kelima negara tersebut juga dinilai penting karena memberikan kontribusi terhadap surplus perdagangan Indonesia. Oleh sebab itu, keberlanjutan hubungan dagang dengan pasar-pasar utama tersebut perlu dijaga seiring dengan upaya memperluas ekspor produk industri pengolahan.

Kesimpulan

Dominasi produk industri pengolahan yang mencapai 82 persen dari ekspor nonmigas Indonesia pada 2026 menandai keberhasilan transformasi struktur ekspor nasional. Perkembangan hilirisasi sawit dan industri baja menunjukkan bahwa Indonesia semakin mampu menghasilkan produk bernilai tambah, bukan hanya mengekspor komoditas mentah.

Ke depan, penguatan hilirisasi, pengembangan produk berbasis bioenergi, serta pemeliharaan pasar utama akan menjadi bagian penting dalam menjaga pertumbuhan ekspor Indonesia. Dengan tetap memperhatikan permintaan global dan tantangan geopolitik, industri pengolahan diharapkan terus memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan internasional.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment