Harga Cabai Melonjak hingga Rp116.600 per Kg akibat Minimnya Pasokan
Harga cabai di pasaran mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan paling signifikan terjadi pada cabai rawit merah yang harganya bahkan telah menembus Rp100 ribu per kilogram (kg). Minimnya pasokan disebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga komoditas pangan tersebut.
Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid membenarkan bahwa hampir seluruh jenis cabai saat ini mengalami kenaikan harga. Namun, cabai rawit merah menjadi salah satu komoditas yang mengalami peningkatan paling tinggi, baik di tingkat petani maupun di pasar.
Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp100 Ribu per Kg
Abdul Hamid mengatakan harga cabai rawit merah di tingkat petani telah mencapai sekitar Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per kg. Setelah melalui rantai distribusi, harga komoditas tersebut di tingkat konsumen dapat berada di kisaran Rp90 ribu hingga Rp100 ribu per kg.
Menurut Abdul, kenaikan harga tersebut menggambarkan kondisi pasokan cabai yang sedang terbatas. Harga di tingkat petani yang telah meningkat turut memengaruhi harga jual di pasar. Akibatnya, masyarakat harus membayar lebih mahal untuk mendapatkan cabai rawit merah.
“Cabai rawit memang ada kenaikan. Kenaikan di petani sekitar Rp60 ribu sampai Rp65 ribu per kg. Jadi ketika sampai ke masyarakat bisa menjadi Rp100 ribu,” ujar Abdul saat dihubungi detikcom pada Minggu (20/9), sebagaimana dikutip pada Senin (21/9).
Produksi Cabai Terpusat di Dataran Rendah
Abdul menjelaskan, kenaikan harga cabai rawit merah terjadi ketika stok di pasaran sedang terbatas. Saat ini, produksi cabai lebih banyak berasal dari wilayah dataran rendah. Sementara itu, produksi dari wilayah dataran tinggi disebut sudah tidak tersedia.
Kondisi tersebut membuat pasokan cabai menjadi lebih rentan terhadap perubahan cuaca. Apabila tanaman cabai hanya mengandalkan wilayah dataran rendah dan kemarau berlangsung lebih lama, jumlah produksi berpotensi semakin berkurang. Situasi ini dapat kembali memberikan tekanan terhadap harga di pasar.
Abdul menuturkan, peluang kenaikan harga masih bergantung pada kondisi musim. Jika situasi pasokan dan cuaca tidak berubah hingga November, ketersediaan cabai diperkirakan akan semakin sulit.
Penanaman Baru Belum Langsung Menambah Stok
Penanaman cabai baru diperkirakan berlangsung pada Oktober hingga November. Namun, kegiatan tersebut belum tentu dapat langsung menambah jumlah stok yang tersedia di pasaran. Pasalnya, penanaman baru masih dilakukan di wilayah dataran rendah.
Abdul memperkirakan kondisi pasokan dapat kembali normal pada Desember hingga Januari. Kendati demikian, periode tersebut juga memiliki tantangan tersendiri karena bertepatan dengan musim hujan. Apabila penanaman mengalami kegagalan, harga cabai berpotensi meningkat lebih tinggi.
Dalam kondisi terburuk, harga cabai rawit merah di tingkat masyarakat diperkirakan dapat mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kg. Sementara itu, harga di tingkat petani berpotensi berada di kisaran Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per kg.
Cabai Menjadi Komoditas dengan Kenaikan Tertinggi
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia pada Senin (21/9) menunjukkan bahwa cabai menjadi komoditas pangan dengan kenaikan harga tertinggi.
Harga cabai merah keriting tercatat naik 43,72 persen atau sekitar Rp29.050 per kg menjadi Rp95.500 per kg. Sementara itu, cabai rawit merah mengalami kenaikan 25,99 persen atau sekitar Rp24.050 per kg sehingga harganya mencapai Rp116.600 per kg.
Kenaikan juga terjadi pada cabai merah besar. Komoditas tersebut naik 37,78 persen atau sekitar Rp21.250 per kg menjadi Rp77.500 per kg. Adapun harga cabai rawit hijau meningkat 33,21 persen atau sekitar Rp21.900 per kg menjadi Rp87.850 per kg.
Kesimpulan
Kenaikan harga cabai dipengaruhi oleh terbatasnya pasokan dan produksi yang saat ini lebih banyak berasal dari dataran rendah. Kondisi kemarau yang berkepanjangan dapat memperbesar tekanan terhadap ketersediaan cabai, terutama jika tidak segera diimbangi dengan produksi baru.
Penanaman pada Oktober hingga November diharapkan dapat mendukung pasokan, meski hasilnya belum langsung tersedia dalam jumlah besar. Sementara itu, kondisi harga ke depan masih sangat bergantung pada musim dan keberhasilan produksi. Jika pasokan tidak membaik, harga cabai berpotensi terus meningkat hingga akhir tahun.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment