IHSG Ditutup Menguat 0,75 Persen ke Level 6.449, Sektor Energi Jadi Penopang

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Selasa (18/8) dengan kinerja positif. IHSG ditutup di level 6.449, atau menguat 47,94 poin setara 0,75 persen dibandingkan posisi pada perdagangan sebelumnya.

Penguatan indeks saham domestik tersebut berlangsung di tengah aktivitas transaksi yang cukup besar. Berdasarkan data RTI Infokom, investor mencatatkan nilai transaksi saham sebesar Rp14,74 triliun. Sementara itu, volume saham yang diperdagangkan mencapai 33,49 miliar saham.

Pergerakan positif IHSG juga tercermin dari jumlah saham yang mengalami penguatan. Pada akhir perdagangan, sebanyak 399 saham ditutup menguat. Sebanyak 236 saham lainnya terkoreksi, sedangkan 159 saham bergerak stagnan.

IHSG Menguat, Mayoritas Sektor Berada di Zona Hijau

Penguatan IHSG ditopang oleh performa mayoritas sektor yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Dari 11 sektor indeks, sebanyak 10 sektor bergerak menguat pada penutupan perdagangan Selasa.

Sektor Energi Memimpin Penguatan

Sektor energi menjadi sektor dengan kenaikan paling tinggi, yakni sebesar 2,23 persen. Kinerja sektor tersebut menjadi salah satu penopang utama bagi penguatan IHSG pada perdagangan kali ini.

Di sisi lain, hanya terdapat satu sektor yang mengalami pelemahan, yaitu sektor keuangan. Sektor tersebut terkoreksi 0,16 persen hingga akhir perdagangan. Dengan demikian, arah pergerakan sebagian besar sektor masih berada di zona positif.

Komposisi perdagangan tersebut menunjukkan bahwa penguatan IHSG berlangsung cukup luas. Jumlah saham yang naik juga lebih banyak dibandingkan saham yang mengalami penurunan, meskipun masih terdapat saham yang bergerak stagnan.

Pergerakan Bursa Asia Bervariasi

Di pasar saham kawasan Asia, pergerakan indeks berlangsung bervariasi. Sejumlah indeks berhasil menguat, sementara indeks lainnya ditutup melemah.

Indeks Hang Seng Composite di Hong Kong tercatat naik tipis 0,07 persen. Pada saat yang sama, Shanghai Composite di China menguat 0,19 persen.

Namun, penguatan tersebut tidak terjadi di seluruh bursa Asia. Indeks Straits Times di Singapura melemah 1,32 persen. Sementara itu, indeks Nikkei 225 di Jepang turun 2,54 persen.

Perbedaan arah pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa bursa saham Asia belum bergerak seragam pada perdagangan yang sama. Sebagian indeks mampu mencatatkan kenaikan, sedangkan indeks lainnya masih berada di bawah tekanan.

Bursa Eropa Kompak Melemah

Berbeda dengan IHSG yang ditutup menguat, bursa saham Eropa terpantau bergerak kompak di zona merah. Pelemahan tercatat pada sejumlah indeks utama di kawasan tersebut.

Indeks DAX di Jerman turun 0,43 persen. Sementara itu, indeks FTSE 100 di Inggris melemah 0,09 persen. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa sentimen negatif masih mewarnai perdagangan saham Eropa.

Bursa Amerika Dominan di Zona Merah

Pergerakan serupa juga terlihat di bursa saham Amerika Serikat. Mayoritas indeks utama di negara tersebut ditutup melemah.

Indeks S&P 500 tercatat turun 0,52 persen. Indeks Nasdaq Composite juga mengalami pelemahan sebesar 0,32 persen. Sementara itu, indeks Dow Jones terkoreksi 0,51 persen.

Kesimpulan

IHSG menutup perdagangan Selasa (18/8) dengan kenaikan 47,94 poin atau 0,75 persen ke level 6.449. Penguatan tersebut didukung oleh kenaikan 10 dari 11 sektor, dengan sektor energi menjadi pemimpin setelah menguat 2,23 persen. Nilai transaksi tercatat Rp14,74 triliun dengan volume perdagangan mencapai 33,49 miliar saham.

Di tengah penguatan IHSG, bursa Asia bergerak bervariasi, sedangkan bursa Eropa kompak melemah dan bursa Amerika dominan berada di zona merah. Perkembangan pergerakan indeks di berbagai kawasan tersebut menjadi bagian dari dinamika pasar saham yang akan terus dicermati dalam perdagangan berikutnya.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment