Malaysia Siapkan Skenario Pengambilalihan Pangsa Pasar Domestik AirAsia
Kuala Lumpur – Pemerintah Malaysia tengah menjajaki kemungkinan pengambilalihan pangsa pasar domestik AirAsia apabila kondisi keuangan maskapai berbiaya rendah tersebut semakin memburuk. Untuk mengantisipasi skenario itu, pemerintah disebut telah meningkatkan pembicaraan dengan Malaysia Airlines dan Batik Air dalam beberapa pekan terakhir.
Langkah tersebut menjadi bagian dari perencanaan pemerintah Malaysia untuk menjaga kesinambungan layanan penerbangan domestik apabila AirAsia menghadapi tekanan finansial yang lebih berat. Diskusi tersebut melibatkan Kementerian Keuangan Malaysia dan operator bandara milik negara, Malaysia Airports Holdings Berhad (MAHB).
Pemerintah Malaysia Bahas Skenario Pengambilalihan
Mengutip Reuters, dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut menyebut pembicaraan antara pemerintah Malaysia, Malaysia Airlines, dan Batik Air semakin intensif. Namun, pembahasan itu belum secara otomatis menunjukkan bahwa pengambilalihan AirAsia telah diputuskan.
Pemerintah disebut sedang menyiapkan sejumlah skenario untuk mengantisipasi kemungkinan terganggunya operasi AirAsia. Maskapai tersebut memiliki posisi penting dalam industri penerbangan Malaysia karena menguasai sekitar 40 persen pasar penerbangan secara keseluruhan dan sekitar 60 persen penerbangan domestik.
Besarnya pangsa pasar AirAsia membuat masalah keuangan perusahaan menjadi perhatian pemerintah. Apabila terjadi pengurangan rute atau gangguan operasi, dampaknya dapat dirasakan oleh penumpang, bandara, serta pelaku usaha yang bergantung pada konektivitas penerbangan domestik.
Malaysia Airlines dan Batik Air Ajukan Syarat
Menurut sumber Reuters, Malaysia Airlines dan Batik Air menyatakan kesediaan mengambil alih operasi AirAsia dalam skala besar dengan syarat mereka juga dapat mengambil alih sewa pesawat milik maskapai tersebut.
Penguasaan atas pesawat dinilai penting karena mengambil alih rute dan volume penumpang AirAsia tanpa dukungan armada akan jauh lebih sulit. Pesawat yang tersedia memungkinkan maskapai penerus mempertahankan kapasitas penerbangan sekaligus melayani rute yang sebelumnya dioperasikan AirAsia.
Kendati demikian, kedua maskapai disebut lebih memilih memperluas operasi secara organik. Artinya, Malaysia Airlines dan Batik Air cenderung ingin menyerap rute serta penumpang AirAsia secara bertahap, bukan langsung mengakuisisi seluruh bisnis maskapai tersebut.
AirAsia Hadapi Tekanan Keuangan
Pembicaraan pemerintah dengan dua maskapai tersebut berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi keuangan AirAsia. Maskapai itu menghadapi tekanan dari kenaikan biaya bahan bakar jet yang disebut dipicu konflik AS-Israel dengan Iran.
Harga bahan bakar jet yang ditanggung AirAsia melonjak 66 persen pada kuartal II dibandingkan kuartal sebelumnya. Rata-rata harga yang dibayarkan mencapai US$183 per barel. Kenaikan biaya tersebut menambah beban operasional maskapai yang selama ini mengandalkan model penerbangan berbiaya rendah.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni, AirAsia memiliki kewajiban lancar sebesar 18,4 miliar ringgit atau sekitar US$4,5 miliar. Maskapai tersebut juga disebut memiliki utang sedikitnya 500 juta ringgit kepada MAHB untuk berbagai layanan, termasuk biaya pendaratan dan parkir pesawat.
Dua sumber menyebut MAHB telah memberikan perpanjangan waktu pembayaran kepada AirAsia. Namun, MAHB menolak berkomentar mengenai kondisi keuangan maskapai maupun pengaturan komersial dengan mitra penerbangan.
AirAsia Siapkan Pendanaan dan Restrukturisasi
AirAsia sebelumnya menyampaikan rencana untuk memperoleh pendanaan baru hingga US$1 miliar dari pasar utang internasional. Selain itu, maskapai tersebut juga mengupayakan fasilitas kredit lokal senilai 700 juta ringgit. Dana itu terutama akan digunakan untuk melakukan restrukturisasi utang.
Dua sumber memperkirakan AirAsia membutuhkan sedikitnya US$3 miliar modal baru untuk mengatasi tekanan keuangannya. Namun, AirAsia menyatakan target pendanaan yang telah ditetapkan sudah mencukupi kebutuhan perusahaan.
Per 30 Juni, AirAsia tercatat memiliki kas dan saldo bank sebesar 954 juta ringgit. Pada kuartal II, maskapai membukukan rugi bersih 831 juta ringgit, termasuk kerugian valuta asing sebesar 331 juta ringgit.
Untuk menekan biaya, AirAsia melakukan sejumlah langkah restrukturisasi. Perusahaan memangkas rute-rute yang berkinerja buruk, mengembalikan 25 pesawat lama kepada perusahaan penyewa, serta menegosiasikan ulang kontrak dengan sejumlah vendor.
Tanggapan AirAsia
AirAsia menolak memberikan komentar mengenai spekulasi operasional maupun keuangan yang belum diumumkan secara resmi. Wakil CEO AirAsia Group Farouk Kamal mengatakan seluruh informasi material mengenai bisnis dan strategi armada akan disampaikan melalui pengajuan resmi kepada bursa serta pengumuman perusahaan.
Farouk menegaskan AirAsia tetap berfokus menjaga keberlangsungan bisnis dan stabilitas operasi di seluruh pasar yang dilayani. Ia juga menyebut permintaan penerbangan masih kuat di seluruh jaringan perusahaan dan AirAsia terus bekerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk mengelola kebutuhan keuangan serta operasional.
Kesimpulan
Pemerintah Malaysia kini menyiapkan berbagai kemungkinan untuk menjaga pasar penerbangan domestik apabila kondisi keuangan AirAsia memburuk. Malaysia Airlines dan Batik Air menjadi pihak yang diajak berdiskusi, tetapi keduanya disebut lebih memilih memperluas operasi secara bertahap dengan mempertimbangkan pengambilalihan sewa pesawat.
Di sisi lain, AirAsia masih berupaya memperkuat keuangan melalui pendanaan baru, restrukturisasi utang, pengurangan rute, dan efisiensi armada. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kemampuan maskapai memperoleh modal serta menjaga stabilitas operasionalnya. Reuters menyatakan belum dapat memverifikasi secara independen kondisi keuangan AirAsia.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment