Perjalanan Haji Saman Merintis Pertanian Padi Organik Banyuwangi hingga Mendunia
Banyuwangi memiliki sosok penting di balik perkembangan pertanian padi organik, yaitu Samanhudi atau yang akrab disapa Haji Saman. Pria berusia 63 tahun tersebut dikenal sebagai perintis pertanian padi organik di Banyuwangi sekaligus tokoh sentral dalam perjalanan PT Sirtanio Organik Indonesia.
Perjalanan Saman dimulai ketika ia dipercaya memimpin Kelompok Tani Mendo Sampurno pada 1997. Saat itu, ia sama sekali tidak memiliki latar belakang di bidang pertanian. Namun, keterbatasan tersebut tidak menghalanginya untuk terus belajar dan mengembangkan pertanian organik di Dusun Umbulrejo, Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh.
Dari kelompok tani yang dipimpinnya, lahir korporasi petani produsen beras organik yang kini mampu menjangkau pasar di berbagai wilayah Indonesia hingga mancanegara. Perjalanan tersebut juga tidak terlepas dari kemitraan bersama petani lokal serta pendampingan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember.
Berawal dari Ketekunan Mempelajari Pertanian Organik
Saman mengakui bahwa dirinya tidak memiliki dasar pengetahuan pertanian ketika mulai memimpin kelompok tani. Karena itu, ia aktif mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan Dinas Pertanian di sejumlah daerah.
“Saya tidak punya basic pertanian. Makanya begitu ada pelatihan di Dinas Pertanian di mana saja, saya selalu ikut. Dari situ arahnya rata-rata mengenalkan pertanian organik, pupuk organik, dan agen hayati,” tutur Saman.
Pengetahuan yang diperolehnya kemudian diterapkan di lahan sendiri. Saman mempelajari cara menangani hama secara alami, membuat pupuk organik secara mandiri, serta memilih agen hayati yang sesuai untuk tanaman padi.
Gagasan Saman untuk mengembangkan pertanian organik sempat mendapat penolakan dari lingkungan sekitar. Ia bahkan sempat dicap sebagai “orang sinting”. Meski demikian, Saman tidak berhenti pada perdebatan. Ia memilih menjawab keraguan tersebut melalui hasil nyata di lahan pertaniannya.
Lahan Bebas Kimia dalam Dua Tahun
Dalam waktu dua tahun, Saman berhasil mengubah lahannya menjadi lahan yang sepenuhnya bebas dari bahan kimia. Ia terus memperdalam pengetahuan sekaligus memperbaiki metode yang sudah dimiliki untuk kemudian diterapkan secara konsisten.
“Yang saya lakukan adalah mendalami dan memperbaiki apa yang kami punya lalu mengaplikasikannya. Saya tidak menjawab pakai kata-kata, saya jawab dengan pembuktian bahwa produksi padi saya saat itu meningkat sampai 50 persen,” katanya.
Pembuktian tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan Saman. Hasil produksi yang meningkat memperkuat keyakinannya bahwa pertanian organik dapat dikembangkan secara serius dan memberikan manfaat bagi petani.
Kolaborasi Lintas Generasi Melahirkan PT Sirtanio
Memasuki tahun ke-13 sejak merintis pertanian organik di Desa Sumberbaru, Saman mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S). Melalui wadah tersebut, ia bertemu dengan sejumlah petani muda yang merupakan lulusan berbagai kampus pertanian di Indonesia.
Pertemuan antara pengalaman Saman dan pengetahuan generasi muda kemudian melahirkan PT Sirtanio Organik Indonesia. Salah satu sosok yang terlibat dalam proses tersebut adalah Shohib Qomad Dillah, yang kini menjabat sebagai Direktur PT Sirtanio Organik Indonesia.
Shohib menuturkan, ketika kolaborasi dimulai, Saman sudah memiliki fondasi kuat dalam merintis pertanian organik. Namun, aspek penjualan dan pemasaran masih perlu diperbaiki. Salah satu tantangannya adalah ketika terdapat 300 kilogram beras merah yang sempat kesulitan dipasarkan.
Melihat potensi produk tersebut, Shohib dan tim menyusun strategi penjualan sekaligus memperbaiki kemasan. Hasilnya, seluruh beras merah itu terjual dalam waktu satu bulan dan diikuti banyak pesanan ulang.
Kemitraan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani
Dari pengalaman tersebut, Sirtanio membangun komitmen kemitraan bersama ratusan petani lokal. Kemitraan itu dibangun dengan semangat “Menyejahterakan petani, menyehatkan dunia”.
Saman memahami bahwa kemitraan hanya dapat berjalan dalam jangka panjang apabila petani mendapatkan manfaat yang adil. Salah satu caranya adalah memberikan harga pembelian gabah yang lebih tinggi dan layak bagi petani.
Pola tersebut turut mendorong peningkatan kapasitas produksi Sirtanio. Perusahaan ini kemudian mampu memasok puluhan ton beras organik setiap bulan ke berbagai wilayah Nusantara, serta menjangkau pasar internasional seperti Italia, China, dan Amerika Serikat.
Peran Bank Indonesia dalam Pengembangan Sirtanio
Semangat kemandirian pangan yang dikembangkan Saman dan PT Sirtanio Organik Indonesia sejalan dengan misi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai rupiah dan mengendalikan inflasi. Melalui Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS), Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember menjadikan Sirtanio sebagai binaan sejak 2011.
Pendampingan dilakukan melalui pendekatan intervensi terintegrasi. Pada sisi hulu, pendampingan diarahkan untuk meningkatkan produktivitas Sirtanio dan para petani mitranya. Sementara itu, pada sisi hilir, perhatian diberikan pada pengolahan, pengemasan modern, promosi, serta perluasan akses pasar.
Dalam pertemuan Ngaji Tani yang rutin berlangsung setiap Jumat pagi di rumah sekaligus kantor PT Sirtanio Organik Indonesia, para petani tidak hanya berdoa bersama. Mereka juga membahas tata kelola pertanian organik secara teknis, termasuk penanganan hama alami, pembuatan pupuk organik, dan pemilihan agen hayati.
Pada Jumat (7/8), kegiatan tersebut diisi dengan pemaparan dari perwakilan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember mengenai proses pendampingan Sirtanio selama lebih dari satu dasawarsa hingga berkembang seperti sekarang.
Efisiensi Produksi untuk Menjaga Stabilitas Pangan
Penguatan sektor pertanian dinilai semakin penting karena stabilitas harga pangan menghadapi berbagai tantangan. Pada triwulan I 2026, perekonomian Jawa Timur tercatat tumbuh 5,96 persen secara tahunan. Namun, ancaman perubahan iklim, cuaca ekstrem, dan gangguan rantai pasok global masih dapat memengaruhi ketersediaan serta harga pangan.
Kepala Divisi Implementasi KEKDA Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Yono Haryono, menyampaikan pentingnya efisiensi biaya produksi petani melalui program klaster pangan. Menurutnya, penguatan ketahanan pangan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar gejolak harga dapat diredam.
Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan produktivitas dengan penerapan Good Agricultural Practices atau GAP, pemupukan yang tepat, serta pembibitan yang baik. Bank Indonesia juga mendorong petani untuk lebih memperhatikan pencatatan biaya operasional.
Digitalisasi dan teknologi Internet of Things (IoT) dipandang dapat membantu petani menekan biaya produksi. Keberhasilan Sirtanio menjadi contoh yang ingin direplikasi pada klaster pangan binaan Bank Indonesia di daerah lain agar dapat menerapkan standar yang serupa.
Kesimpulan
Perjalanan Haji Saman menunjukkan bahwa keterbatasan latar belakang bukan penghalang untuk membangun perubahan di sektor pertanian. Melalui kemauan belajar, keberanian menghadapi penolakan, serta pembuktian di lahan sendiri, ia berhasil merintis pertanian padi organik di Banyuwangi.
Kolaborasi dengan petani muda, penguatan kemitraan, dan pendampingan Bank Indonesia kemudian membawa PT Sirtanio Organik Indonesia berkembang dari kelompok tani menjadi korporasi petani yang mampu memasok beras organik ke pasar nasional dan internasional.
Ke depan, penguatan kelembagaan petani, efisiensi biaya, pengendalian mutu, serta pemanfaatan teknologi menjadi faktor penting untuk menjaga kesinambungan produksi beras organik. Capaian Sirtanio sekaligus memperlihatkan bahwa pertanian lokal dapat berperan dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment