Rupiah Melemah ke Rp17.763 per Dolar AS, Tertekan Konflik Timur Tengah dan Imbal Hasil Obligasi AS

Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu (2/9) sore. Mata uang Garuda berada di level Rp17.763 per dolar AS, turun 19 poin atau 0,11 persen dibandingkan posisi pada perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah tersebut berlangsung di tengah penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang global. Mayoritas mata uang kawasan Asia tercatat berada di zona merah terhadap dolar AS, sementara mata uang utama negara-negara maju juga mengalami tekanan.

Rupiah Melemah 0,11 Persen

Pelemahan rupiah menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik masih berlanjut. Pada penutupan perdagangan Rabu, rupiah berada di level Rp17.763 per dolar AS. Posisi tersebut mencerminkan penurunan sebesar 19 poin atau 0,11 persen jika dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah sejalan dengan kondisi pasar valuta asing di kawasan Asia. Dolar AS masih menjadi perhatian pelaku pasar karena mengalami penguatan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Mayoritas Mata Uang Asia Berada di Zona Merah

Sejumlah mata uang Asia mengalami pelemahan terhadap dolar AS pada perdagangan yang sama. Ringgit Malaysia terdepresiasi 0,07 persen, dolar Singapura turun 0,01 persen, peso Filipina melemah 0,25 persen, dan dolar Hong Kong berkurang 0,02 persen.

Sementara itu, yuan China tercatat stabil terhadap dolar AS. Tidak seluruh mata uang kawasan mengalami tekanan. Yen Jepang justru terapresiasi 0,30 persen, sedangkan won Korea Selatan menguat 0,70 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa penguatan dolar AS memberikan pengaruh yang cukup luas terhadap pergerakan mata uang regional. Meski demikian, respons setiap mata uang tetap berbeda, dengan sebagian mata uang mampu menguat di tengah tekanan pasar.

Mata Uang Negara Maju Turut Tertekan

Tekanan terhadap mata uang tidak hanya terjadi di kawasan Asia. Mayoritas mata uang utama negara maju juga melemah terhadap dolar AS.

Euro Eropa tercatat turun 0,10 persen. Poundsterling Inggris melemah 0,03 persen, sedangkan dolar Australia terdepresiasi 0,11 persen. Dolar Kanada juga turun 0,25 persen dan franc Swiss melemah 0,28 persen terhadap dolar AS.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa dolar AS berada dalam posisi yang relatif kuat dibandingkan sejumlah mata uang global. Kondisi ini turut memberikan tekanan terhadap rupiah dan mata uang lainnya pada perdagangan Rabu.

Konflik Timur Tengah dan Imbal Hasil Obligasi AS

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh eskalasi konflik di Timur Tengah serta kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Menurut Lukman, rupiah ditutup melemah karena dolar AS masih melanjutkan penguatan. Penguatan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah dan naiknya imbal hasil obligasi AS.

“Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS yang sendirinya masih terus melanjutkan penguatan hari ini di tengah eskalasi di Timteng dan kenaikan imbal hasil obligasi AS,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Rabu (2/9).

Kesimpulan

Rupiah ditutup pada level Rp17.763 per dolar AS dengan pelemahan 19 poin atau 0,11 persen. Penurunan ini berlangsung sejalan dengan tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia dan mata uang utama negara maju.

Menurut analis, eskalasi konflik di Timur Tengah dan kenaikan imbal hasil obligasi AS menjadi faktor yang mendorong penguatan dolar AS sekaligus menekan rupiah. Ke depan, pergerakan rupiah masih akan mencermati perkembangan kedua faktor tersebut, terutama arah penguatan dolar AS dan kondisi pasar global.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment