Zulhas Peringatkan Harga Beras Bisa Tembus Rp20 Ribu Jika Ketergantungan Impor Berlanjut

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memperingatkan harga beras di Indonesia berpotensi meningkat hingga Rp16 ribu–Rp20 ribu per kilogram apabila ketergantungan terhadap pangan impor tidak segera dikurangi. Menurutnya, kenaikan harga beras dapat mengubah pola konsumsi masyarakat karena mereka berpotensi beralih ke bahan pangan berbasis gandum yang dinilai lebih murah.

Pernyataan tersebut disampaikan Zulkifli Hasan dalam acara peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (4/9). Ia menilai persoalan harga pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan komoditas, tetapi juga menyangkut tingginya biaya produksi dan rendahnya produktivitas di dalam negeri.

Harga Beras Tinggi Bisa Mengubah Pola Konsumsi

Zulkifli Hasan, yang akrab disapa Zulhas, mengatakan masyarakat akan cenderung memilih pangan yang lebih terjangkau apabila harga beras terus meningkat. Dalam kondisi tersebut, produk berbahan gandum seperti roti dapat menjadi alternatif pengganti nasi.

Ia menjelaskan, konsumsi gandum Indonesia mengalami peningkatan yang cukup besar. Saat dirinya menjadi anggota DPR pada 2004, konsumsi gandum nasional disebut masih berada di kisaran 3 juta hingga 4 juta ton. Kini, jumlah tersebut telah meningkat menjadi sekitar 13 juta ton.

Menurut Zulhas, kenaikan itu berkaitan dengan perbedaan harga beras dan gandum. Ketika beras semakin mahal, masyarakat dapat berpindah ke produk olahan gandum karena harganya dianggap lebih murah. Ia memperkirakan peralihan tersebut dapat terus terjadi apabila biaya produksi dan harga beras tidak segera ditekan.

Biaya Produksi Beras Indonesia Lebih Tinggi

Zulhas membandingkan biaya produksi beras Indonesia dengan Thailand dan Vietnam. Ia menyebut biaya untuk menghasilkan 1 kilogram beras di Indonesia mencapai sekitar Rp12 ribu. Sementara itu, biaya produksi di Thailand dan Vietnam disebut hanya sekitar Rp3.800 per kilogram.

Perbedaan biaya tersebut, menurutnya, dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Beberapa di antaranya adalah pemanfaatan teknologi, penggunaan varietas baru, serta manajemen pengolahan sawah. Negara-negara lain yang memiliki produktivitas lebih tinggi dinilai mampu menghasilkan beras dengan biaya yang lebih rendah.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintah dalam memperkuat sektor pangan nasional. Selain menjaga ketersediaan beras, pemerintah juga perlu mendorong efisiensi produksi agar harga pangan dalam negeri lebih kompetitif.

Ketergantungan Impor Masih Terjadi pada Berbagai Komoditas

Zulhas menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap impor yang tidak hanya terjadi pada gandum. Ia menyebut pada 2024 Indonesia mengimpor sekitar 4,5 juta ton beras, sekitar 1 juta ekor sapi per tahun, 4 juta ton kedelai, serta rata-rata 6 juta ton gula. Sementara itu, impor gandum mencapai sekitar 13 juta ton karena komoditas tersebut tidak dapat ditanam di Indonesia.

Menurutnya, ketergantungan terhadap impor dapat membuat Indonesia lebih rentan menghadapi perubahan harga dan pasokan pangan global. Ketika pasokan dari negara lain mengalami kendala, Indonesia berpotensi menghadapi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Ia mengaku pernah mengalami situasi ketika Indonesia kesulitan memperoleh pasokan beras dari negara lain saat menjabat sebagai menteri perdagangan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya membangun kemandirian pangan secara bertahap.

Produktivitas Kedelai dan Bibit Impor

Selain komoditas pangan, Zulhas juga menyoroti penggunaan bibit impor yang masih terjadi pada hampir seluruh tanaman pangan. Ia menilai ketergantungan tersebut dapat terus berlanjut apabila Indonesia tidak mengembangkan sumber bibit dan teknologi pertanian secara mandiri.

Sebagai contoh, ia membandingkan produktivitas kedelai di Indonesia dengan negara lain. Satu hektare lahan kedelai di Indonesia disebut hanya menghasilkan sekitar 1 ton, sedangkan di negara lain produksinya dapat mencapai 10 ton per hektare. Rendahnya produktivitas itu membuat harga kedelai dalam negeri bisa tiga hingga empat kali lebih mahal.

Swasembada Pangan Dilakukan Secara Bertahap

Zulhas mengatakan pemerintah tidak akan membenahi seluruh komoditas pangan secara bersamaan. Program swasembada akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari beras dan jagung. Setelah itu, pemerintah akan mengembangkan upaya serupa pada gula, garam, ikan, hingga daging.

Ia mengakui masih banyak tantangan yang harus diselesaikan, terutama dalam menekan biaya produksi, meningkatkan mekanisasi, serta memperbaiki produktivitas pertanian. Namun, pemerintah disebut telah mulai menjalankan sejumlah langkah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Kesimpulan

Peringatan Zulkifli Hasan mengenai potensi harga beras mencapai Rp16 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi sektor pangan Indonesia. Tingginya biaya produksi beras, meningkatnya konsumsi gandum, serta ketergantungan terhadap impor menjadi persoalan yang saling berkaitan.

Ke depan, penguatan produksi dalam negeri perlu dilakukan melalui peningkatan teknologi, penggunaan varietas unggul, mekanisasi, dan pengembangan bibit lokal. Pemerintah memilih menjalankan program swasembada secara bertahap dengan memprioritaskan beras dan jagung sebelum berlanjut ke komoditas pangan lainnya.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment