Benarkah Mencuci Beras Berkali-kali Bikin Nasi Lebih Pulen? Ini Faktanya
Mencuci beras sebelum dimasak merupakan kebiasaan yang dilakukan banyak orang. Sebagian bahkan mencucinya hingga berkali-kali karena percaya cara tersebut dapat membuat nasi menjadi lebih pulen. Anggapan ini muncul karena air cucian beras membawa sebagian pati yang menempel di permukaan beras.
Pati memang memiliki peran penting dalam menentukan tekstur nasi. Karena itu, muncul dugaan bahwa semakin banyak pati di permukaan beras yang terbuang saat dicuci, semakin pulen pula nasi yang dihasilkan. Namun, anggapan tersebut ternyata belum terbukti secara ilmiah.
Mencuci Beras Berkali-kali Tidak Menjamin Nasi Lebih Pulen
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Food Chemistry pada 2019 menguji beras dengan jumlah pencucian yang berbeda. Penelitian tersebut membandingkan pengaruh pencucian terhadap tekstur nasi yang dihasilkan setelah beras dimasak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pencucian tidak memberikan perubahan signifikan terhadap tingkat kekerasan maupun kelengketan nasi. Dengan kata lain, beras yang dicuci berkali-kali tidak otomatis menghasilkan nasi yang lebih pulen.
Peneliti juga menemukan bahwa material yang menempel pada permukaan beras mentah ternyata tidak banyak menentukan tekstur nasi setelah dimasak. Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa prosedur pencucian tidak memengaruhi pelarutan pati maupun struktur molekul pati yang terlarut.
Temuan ini menunjukkan bahwa beras yang dicuci lima kali tidak selalu menghasilkan nasi yang lebih pulen dibandingkan beras yang hanya dicuci dua kali. Oleh karena itu, mencuci beras berulang kali tidak dapat dijadikan patokan utama untuk mendapatkan tekstur nasi yang diinginkan.
Komposisi Pati Lebih Berpengaruh terhadap Tekstur Nasi
Tekstur nasi sangat berkaitan dengan komposisi pati yang terdapat dalam beras. Dua jenis pati yang berperan penting adalah amilosa dan amilopektin.
Peran Amilosa dan Amilopektin
Beras dengan kadar amilosa tinggi cenderung menghasilkan nasi yang lebih pera dan tidak terlalu lengket. Sebaliknya, amilopektin berperan dalam menghasilkan tekstur nasi yang lebih lengket dan pulen.
Beras ketan menjadi salah satu contoh beras dengan kadar amilosa rendah. Kandungan tersebut membuat nasi ketan memiliki tekstur yang sangat lengket. Perbedaan kadar amilosa dan amilopektin umumnya dipengaruhi oleh varietas beras.
Artinya, jenis beras yang digunakan memiliki pengaruh besar terhadap hasil akhir nasi. Perbedaan varietas dapat membuat tekstur nasi yang dihasilkan tidak sama, meskipun beras dicuci dan dimasak dengan cara serupa.
Rasio Beras dan Air Juga Menentukan Tekstur Nasi
Selain komposisi pati, jumlah air yang digunakan saat memasak juga dapat memengaruhi tekstur nasi. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Biological Macromolecules mencatat bahwa volume air memengaruhi proses pelarutan pati selama pemasakan. Proses tersebut kemudian berpengaruh terhadap tingkat kelengketan nasi.
Meski demikian, tidak ada satu rasio air yang dapat diterapkan untuk seluruh jenis beras. Kadar amilosa, khususnya, turut menentukan kebutuhan air. Berdasarkan ulasan yang dipublikasikan dalam jurnal Cereal Chemistry, beras dengan kadar amilosa tinggi cenderung membutuhkan lebih banyak air agar menghasilkan tekstur yang lunak.
Contoh Takaran Air yang Dapat Dicoba
Sebagai langkah awal, gunakan satu gelas beras dengan 1,5 gelas air. Jika nasi yang dihasilkan masih terasa keras, volume air dapat dinaikkan sedikit menjadi 1,6 gelas.
Sebaliknya, apabila nasi terasa terlalu lembek, jumlah air dapat dikurangi menjadi sekitar 1,4 gelas. Penyesuaian tersebut dapat dilakukan untuk mencari tekstur nasi yang paling sesuai dengan preferensi dan jenis beras yang digunakan.
Kesimpulan
Mencuci beras hingga berkali-kali tidak terbukti membuat nasi menjadi lebih pulen. Penelitian menunjukkan bahwa jumlah pencucian tidak memberikan perubahan signifikan terhadap tingkat kekerasan dan kelengketan nasi.
Tekstur nasi lebih banyak dipengaruhi oleh komposisi pati, terutama kadar amilosa dan amilopektin, serta rasio antara beras dan air saat dimasak. Karena itu, daripada berfokus pada jumlah pencucian, penyesuaian volume air dapat menjadi cara untuk menemukan tingkat kepulenan yang diinginkan.
Ke depan, pemilihan varietas beras dan percobaan takaran air secara bertahap dapat membantu menghasilkan nasi dengan tekstur yang lebih sesuai. Dengan demikian, mencuci beras secara berulang tidak perlu dianggap sebagai jaminan nasi akan menjadi lebih pulen.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment