Mengapa Kamar Mandi Hotel Tidak Menyediakan Gayung? Ini Alasan di Baliknya

Bagi sebagian tamu, ketiadaan gayung di kamar mandi hotel mungkin terasa berbeda dibandingkan kamar mandi rumah. Namun, kondisi tersebut bukan semata-mata karena hotel ingin menerapkan gaya desain modern. Tidak tersedianya gayung berkaitan dengan sejumlah pertimbangan penting, mulai dari tata ruang, keselamatan tamu, kebersihan, hingga pengendalian konsumsi air.

Sebagai pengganti gayung, hotel umumnya menyediakan shower dan bidet sprayer. Kedua fasilitas tersebut menggunakan sistem aliran air langsung dari saluran pipa. Dengan cara ini, penggunaan air dapat diatur lebih baik dan potensi lantai tergenang bisa dikurangi.

Dalam desain kamar mandi hotel, pengelola juga memperhatikan pemisahan antara area basah dan area kering. Karena itu, penggunaan gayung dinilai dapat menimbulkan sejumlah persoalan yang berhubungan dengan keamanan, kebersihan, serta pemeliharaan fasilitas.

Pemisahan Area Basah dan Kering dalam Kamar Mandi Hotel

Menurut buku Hotel Design, Planning and Development karya Richard H. Penner dan sejumlah penulis lainnya, konsep tata ruang perhotelan modern menerapkan pemisahan yang jelas antara area basah dan area kering atau wet and dry zoning.

Area basah biasanya mencakup ruang shower atau bak mandi. Sementara itu, toilet dan area wastafel atau vanity area termasuk dalam kategori area kering. Pembagian ini dibuat untuk menjaga agar air tidak menyebar ke seluruh ruangan.

Gayung Dapat Menimbulkan Cipratan Air

Penggunaan gayung berpotensi menghasilkan cipratan air yang tidak terkendali. Air dapat membasahi lantai di luar area shower, termasuk jalur menuju toilet dan area wastafel. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi pemisahan area basah dan kering.

Cipratan air juga berisiko membasahi perabot berbahan kayu yang terdapat di dalam kamar mandi. Selain itu, permukaan yang terus-menerus lembap dapat memicu pertumbuhan jamur, termasuk mold and mildew. Oleh sebab itu, kamar mandi hotel dirancang agar aliran air tetap berada di area yang telah ditentukan.

Mengurangi Risiko Tamu Terpeleset

Keselamatan menjadi salah satu alasan utama hotel membatasi penggunaan gayung dan bak penampung air. Berdasarkan panduan manajemen risiko kamar mandi dari American Hotel & Lodging Educational Institute atau AHLEI, insiden terpeleset dan jatuh merupakan salah satu klaim liabilitas hukum terbesar bagi pengelola hotel.

Lantai kamar mandi hotel umumnya menggunakan material seperti ubin keramik atau marmer. Ketika terkena air, material tersebut dapat menjadi sangat licin. Genangan air di jalur yang sering dilalui tamu pun meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan.

Dengan menghilangkan gayung dan bak penampung, hotel dapat mengurangi kemungkinan terbentuknya genangan di area lalu lintas utama. Shower dan bidet sprayer memungkinkan air mengalir langsung dari pipa, sehingga air tidak perlu ditampung dan dipindahkan menggunakan gayung.

Menjaga Kebersihan dan Higienitas

Aspek kebersihan juga menjadi pertimbangan penting. World Health Organization atau WHO melalui Guidelines for Drinking-water Quality menegaskan adanya risiko kontaminasi pada wadah air terbuka di fasilitas publik.

Ember yang berisi air atau permukaan gayung yang masih basah dapat menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme dan lumut. Dalam kondisi tertentu, air yang tergenang juga dapat menjadi lingkungan yang mendukung munculnya jentik nyamuk.

Karena alasan tersebut, hotel cenderung menggunakan sistem plumbing tertutup. Melalui direct pressure shower dan bidet sprayer, air dialirkan langsung dari pipa tanpa harus bersentuhan dengan wadah atau perantara tangan. Sistem ini dinilai lebih sesuai untuk menjaga kebersihan fasilitas yang digunakan oleh banyak tamu.

Penggunaan Air Lebih Mudah Dikontrol

Ketiadaan gayung juga berhubungan dengan upaya mengendalikan konsumsi air. Kriteria sertifikasi bangunan hijau USGBC LEED untuk sektor perhotelan mewajibkan penggunaan pembatas debit air yang terukur. Contohnya adalah low-flow aerated shower heads dan toilet dengan sistem dual-flush.

Berbeda dari perangkat tersebut, gayung tidak memiliki mekanisme pembatas debit atau flow restrictor. Akibatnya, jumlah air yang digunakan lebih sulit dikontrol. Penggunaan shower dengan pengaturan debit memungkinkan hotel mengelola pemakaian air secara lebih terukur.

Hal ini menjadi penting karena kebutuhan air di sektor hotel tergolong sangat tinggi. Laporan Green Pearls menyebutkan bahwa penggunaan air harian dapat mencapai 1.500 liter untuk setiap kamar. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan konsumsi air masyarakat setempat. Di sejumlah wilayah, konsumsi air sektor pariwisata bahkan tercatat delapan kali lebih tinggi dibandingkan warga lokal.

Kesimpulan

Ketiadaan gayung di sebagian besar kamar mandi hotel bukan hanya persoalan kebiasaan atau pilihan desain. Keputusan tersebut berkaitan dengan penerapan pemisahan area basah dan kering, pencegahan lantai tergenang, pengurangan risiko terpeleset, penjagaan kebersihan, serta pengendalian konsumsi air.

Shower dan bidet sprayer dipilih karena dapat menyalurkan air langsung dari pipa dengan penggunaan yang lebih terukur. Ke depan, pertimbangan keselamatan, higienitas, dan efisiensi air kemungkinan tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan desain kamar mandi hotel, terutama karena kebutuhan air sektor perhotelan tergolong sangat besar.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment