Mengapa Makanan di Pesawat Terasa Hambar? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Apakah Anda pernah merasa makanan yang biasanya lezat justru terasa hambar atau biasa saja ketika disantap di dalam pesawat? Pengalaman tersebut ternyata bukan semata-mata disebabkan oleh kualitas bahan makanan atau cara maskapai mengolah hidangan. Perubahan kondisi kabin selama penerbangan dapat memengaruhi kemampuan hidung dan lidah dalam mengenali cita rasa.

Udara kabin yang sangat kering, tekanan udara yang lebih rendah, serta suara mesin pesawat menjadi beberapa faktor yang memengaruhi persepsi terhadap makanan. Dalam kondisi tersebut, rasa asin dan manis cenderung terasa lebih lemah dibandingkan ketika makanan yang sama disantap di darat.

Penelitian Fraunhofer Institute for Building Physics pada 2010 menemukan bahwa sensitivitas terhadap rasa manis dan asin dapat berkurang sekitar 30 persen dalam kondisi yang menyerupai penerbangan. Karena itu, maskapai perlu menyesuaikan resep dan proses penyajian agar makanan tetap memiliki cita rasa yang kuat selama berada di udara.

Udara Kabin Mengurangi Kemampuan Hidung Menangkap Aroma

Salah satu penyebab utama makanan di pesawat terasa berbeda adalah kondisi udara di dalam kabin. Ketika pesawat berada di ketinggian sekitar 30 ribu kaki, tingkat kelembapan kabin dapat turun hingga sekitar 20 persen atau bahkan lebih rendah.

Udara yang sangat kering membuat hidung tidak bekerja secara optimal dalam menangkap aroma makanan. Padahal, aroma memiliki peran penting dalam membentuk pengalaman seseorang ketika menyantap makanan. Ketika aroma yang terhirup berkurang, makanan dapat terasa kurang kaya meskipun bumbu yang digunakan sebenarnya sama.

Selain kelembapan, tekanan udara di dalam kabin juga lebih rendah dibandingkan kondisi di darat. Kombinasi udara kering dan tekanan rendah dapat menurunkan sensitivitas terhadap rasa manis dan asin hingga sekitar 30 persen. Akibatnya, hidangan yang terasa cukup kuat di restoran atau rumah dapat terasa lebih ringan saat disajikan di dalam pesawat.

Suara Mesin Memengaruhi Persepsi terhadap Rasa

Pengalaman makan selama penerbangan tidak hanya berkaitan dengan kondisi hidung dan lidah. Suara mesin pesawat yang terdengar terus-menerus juga dapat memengaruhi cara otak mempersepsikan rasa makanan.

Charles Spence, profesor psikologi eksperimental di University of Oxford, menjelaskan bahwa suara bising di dalam kabin dapat membuat rasa asin dan manis terasa semakin tidak kuat. Dengan demikian, suasana yang bising turut memperkuat kesan bahwa makanan di pesawat terasa hambar.

Namun, tidak semua cita rasa mengalami penurunan yang sama. Rasa tertentu, seperti umami dan rempah, justru dapat terasa lebih menonjol dalam kondisi kabin yang bising. Perbedaan ini menjadi pertimbangan penting bagi maskapai ketika menyusun menu dan menentukan komposisi bumbu.

Cara Maskapai Menyesuaikan Cita Rasa Makanan

Makanan yang disajikan di pesawat tidak dapat diperlakukan sama seperti makanan yang langsung disajikan di restoran. Koki maskapai perlu merancang hidangan dengan mempertimbangkan perubahan persepsi rasa selama penerbangan.

Menambah Bumbu dan Bahan Kaya Umami

Salah satu penyesuaian yang dapat dilakukan adalah menambahkan bumbu dan rempah untuk memperkuat cita rasa. Maskapai juga dapat menggunakan bahan-bahan yang kaya umami, seperti tomat, bayam, jamur, dan kecap.

Rasa umami menjadi pilihan karena persepsinya relatif tidak banyak terganggu oleh perubahan kondisi penerbangan. Hal ini pula yang menjadi salah satu alasan jus tomat dan minuman berbasis tomat kerap terasa lebih nikmat ketika diminum di dalam pesawat.

Menguji Makanan dalam Kondisi Menyerupai Kabin

Selain mengubah komposisi resep, makanan juga perlu diuji dalam kondisi yang menyerupai kabin pesawat. Pengujian tersebut membantu koki menilai apakah rasa hidangan tetap terasa cukup kuat ketika dipengaruhi udara kering, tekanan rendah, dan suara mesin.

Koki maskapai juga perlu memilih bahan yang mampu mempertahankan rasa setelah melalui proses pemanasan ulang. Dengan cara ini, kualitas hidangan dapat tetap terjaga meskipun makanan tidak langsung disantap setelah selesai dimasak.

Proses Penyimpanan dan Pemanasan Turut Memengaruhi Rasa

Selain kondisi kabin, proses penyajian makanan juga berpengaruh terhadap cita rasa akhir. Makanan penerbangan umumnya dimasak di darat, kemudian dikemas, didinginkan dengan cepat, disimpan, dan dipanaskan kembali sebelum diberikan kepada penumpang.

Rangkaian proses tersebut dapat mengubah tekstur dan rasa makanan. Oleh sebab itu, maskapai perlu memilih resep serta metode memasak yang mampu bertahan selama penyimpanan dan pemanasan ulang.

Hidangan yang baru selesai dimasak tentu memiliki karakter berbeda dengan makanan yang telah melewati beberapa tahap sebelum disajikan. Faktor ini kemudian berpadu dengan kondisi kabin yang membuat kemampuan penumpang dalam merasakan rasa manis, asin, dan aroma menjadi berkurang.

Kesimpulan

Makanan di pesawat terasa hambar bukan semata-mata karena kualitas bahan atau biaya yang digunakan untuk membuatnya. Udara kabin yang kering, tekanan udara yang lebih rendah, suara mesin, serta proses penyimpanan dan pemanasan ulang dapat mengubah cara penumpang merasakan makanan.

Karena itu, maskapai perlu menyesuaikan resep dengan menambahkan bumbu, rempah, dan bahan kaya umami, sekaligus menguji hidangan dalam kondisi yang menyerupai penerbangan. Ke depan, penyesuaian tersebut tetap menjadi bagian penting dalam penyusunan menu agar makanan dapat memberikan cita rasa yang lebih baik meskipun disantap di dalam kabin pesawat.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment