Pemerintah Targetkan Zero Dengue Deaths 2030, RAN Pengendalian Dengue 2026-2029 Disiapkan

JAKARTA – Pemerintah menargetkan tidak ada lagi kematian akibat dengue pada 2030 melalui program Zero Dengue Deaths 2030. Untuk mewujudkan sasaran tersebut, Kementerian Kesehatan tengah menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengendalian Dengue 2026-2029.

Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus mengatakan pengendalian dengue harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Strategi tersebut mencakup pencegahan, penguatan surveilans, deteksi dini, hingga tata laksana klinis bagi pasien.

Menurut Benjamin, keberhasilan pengendalian dengue tidak dapat hanya mengandalkan satu pihak. Diperlukan kerja sama antara kementerian, lembaga, tenaga kesehatan, akademisi, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, media, dan masyarakat.

RAN Pengendalian Dengue Menjadi Pedoman Bersama

Benjamin menjelaskan RAN Pengendalian Dengue 2026-2029 akan menjadi pedoman bersama dalam memperkuat berbagai aspek penanganan dengue di Indonesia. Dokumen tersebut akan mengatur arah penguatan surveilans, pencegahan, deteksi dini, tata laksana klinis, serta koordinasi lintas sektor.

“Pemerintah berkomitmen penuh mencapai Zero Dengue Deaths 2030 melalui penguatan upaya pengendalian dengue yang terintegrasi dan berkelanjutan. Upaya pencegahan dengue harus dipandang sebagai investasi bagi kesehatan masyarakat dan ketahanan bangsa, bukan sekadar biaya yang harus ditanggung,” kata Benjamin dalam keterangan yang disampaikan KOBAR Lawan Dengue.

Dengue masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 2024 sebagai tahun dengan jumlah kasus dengue tertinggi yang pernah dilaporkan secara global. Sebagai negara tropis dengan kondisi hiperendemis, Indonesia juga menghadapi risiko penularan dengue sepanjang tahun.

Beban Ekonomi Dengue Hampir Rp9 Triliun

Dampak dengue tidak hanya terlihat dari jumlah kasus dan kematian. Penyakit ini juga memberikan tekanan besar terhadap sistem kesehatan serta kondisi ekonomi keluarga. Studi Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan (Pusat KPMAK) Universitas Gadjah Mada memperkirakan beban ekonomi dengue di Indonesia mencapai US$550,9 juta atau hampir Rp9 triliun pada 2024.

Studi tersebut juga memperkirakan terdapat lebih dari dua juta kunjungan rawat inap akibat dengue. Sementara itu, biaya medis langsung bagi pasien yang mendapatkan perlindungan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) diperkirakan mencapai sekitar Rp3 triliun.

Namun, kepesertaan JKN belum sepenuhnya menghapus beban ekonomi yang harus ditanggung keluarga. Pasien dan pendamping masih dapat menghadapi pengeluaran untuk transportasi, konsumsi, akomodasi, serta kehilangan pendapatan selama masa perawatan.

Beban Rumah Tangga Masih Dirasakan Pasien

Peneliti senior UGM Diah Ayu Puspandari mengatakan dampak dengue lebih luas daripada sekadar biaya pengobatan. Pasien yang tercakup JKN masih harus mengeluarkan biaya mandiri rata-rata Rp1,09 juta hingga Rp1,33 juta dalam setiap episode perawatan.

Adapun pada pasien tanpa asuransi, pengeluaran mandiri diperkirakan mencapai Rp4,27 juta hingga Rp5,60 juta per episode. Kondisi ini dinilai dapat memberikan tekanan lebih besar kepada keluarga berpenghasilan rendah.

Karena itu, pencegahan dengue menjadi penting, bukan hanya untuk menekan angka kesakitan dan kematian, tetapi juga mengurangi tekanan ekonomi yang muncul ketika seseorang terinfeksi.

Kolaborasi dan Pencegahan Menjadi Kunci

Ketua KOBAR Lawan Dengue Suir Syam menilai dengue sebenarnya dapat dikendalikan apabila berbagai pihak terlibat dalam upaya pencegahan. Ia mengingatkan bahwa pengendalian tidak cukup dilakukan setelah seseorang terinfeksi.

Melalui momentum ASEAN Dengue Day 2026, Suir mengajak pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dunia usaha, media, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat membangun gerakan nasional melawan dengue. Gerakan tersebut dapat dilakukan melalui pencegahan, deteksi dini, pengendalian vektor, inovasi kesehatan, serta edukasi yang berkelanjutan.

PSN 3M Plus hingga Vaksinasi Dengue

Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk memutus rantai penularan dengue adalah pemberantasan sarang nyamuk atau PSN 3M Plus. Upaya ini mencakup menguras dan membersihkan tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, serta memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Pengendalian vektor juga dapat diperkuat melalui inovasi seperti teknologi Wolbachia. Selain itu, penguatan surveilans, sistem peringatan dini, deteksi kasus, dan tata laksana pasien menjadi bagian penting dalam menekan risiko dengue.

Vaksinasi dengue juga dapat menjadi instrumen tambahan dalam strategi pencegahan. Studi analisis efektivitas biaya dari Center for Child Health (CCHPRO) Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa vaksinasi dengue pada anak usia sekolah berpotensi menjadi intervensi yang hemat biaya.

Studi tersebut memproyeksikan program vaksinasi dapat mencegah sekitar 1,1 juta hingga 1,3 juta tahun hidup sehat yang hilang atau disability-adjusted life years (DALY) akibat dengue selama periode 20 tahun.

Kesimpulan

Target Zero Dengue Deaths 2030 menjadi arah penting dalam pengendalian dengue di Indonesia. Penyusunan RAN Pengendalian Dengue 2026-2029 diharapkan dapat memperkuat koordinasi, surveilans, pencegahan, deteksi dini, dan layanan klinis.

Berbagai upaya seperti PSN 3M Plus, pengendalian vektor melalui teknologi Wolbachia, vaksinasi, edukasi, serta keterlibatan masyarakat perlu ditempatkan dalam satu strategi yang terintegrasi. Dengan demikian, pencegahan dengue tidak hanya membantu mengurangi kematian dan kesakitan, tetapi juga menekan beban ekonomi bagi keluarga serta sistem kesehatan. Pencegahan pun perlu dipandang sebagai investasi kesehatan masyarakat, bukan sekadar biaya.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment