Skip Sarapan atau Makan Malam, Mana yang Lebih Baik untuk Diet?

Saat menjalani diet, mengurangi waktu makan sering dianggap sebagai salah satu cara untuk membantu menurunkan berat badan. Salah satu metode yang banyak dilakukan adalah melewatkan sarapan atau makan malam. Namun, pilihan di antara keduanya ternyata tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan jumlah kalori yang masuk.

Waktu makan juga berhubungan dengan cara tubuh menggunakan energi, membakar lemak, serta mengatur kadar gula darah dan insulin. Karena itu, pertanyaan mengenai lebih baik skip sarapan atau makan malam perlu dilihat dari respons tubuh secara menyeluruh.

Penelitian Membandingkan Skip Sarapan dan Makan Malam

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Nas Alessa dan rekan-rekannya serta dipublikasikan dalam The American Journal of Clinical Nutrition pada Juni 2017 membandingkan dampak melewatkan sarapan dan makan malam terhadap penggunaan energi serta kondisi metabolisme tubuh.

Penelitian tersebut melibatkan 17 orang dewasa sehat. Para peserta menjalani tiga pola makan berbeda, yaitu makan tiga kali sehari, melewatkan sarapan, dan melewatkan makan malam. Jumlah kalori yang diberikan tetap disamakan agar peneliti dapat mengamati pengaruh waktu makan terhadap respons tubuh.

Dampak Skip Sarapan terhadap Pembakaran Lemak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa melewatkan sarapan maupun makan malam sama-sama meningkatkan pengeluaran energi selama 24 jam dibandingkan pola makan tiga kali sehari. Meski demikian, terdapat perbedaan dalam cara tubuh menggunakan sumber energi.

Pada peserta yang melewatkan sarapan, pembakaran lemak selama 24 jam meningkat sekitar 16 gram dibandingkan saat mereka makan tiga kali sehari. Temuan ini menunjukkan bahwa tubuh menggunakan lebih banyak lemak sebagai sumber energi ketika menjalani periode puasa yang lebih panjang.

Jika hanya mempertimbangkan aspek pembakaran lemak, skip sarapan tampak lebih unggul dalam penelitian tersebut. Namun, hasil ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa melewatkan sarapan merupakan pilihan terbaik bagi semua orang yang sedang berdiet.

Respons Gula Darah dan Inflamasi

Peserta yang melewatkan sarapan mengalami peningkatan respons gula darah dan insulin setelah makan siang dibandingkan peserta yang melewatkan makan malam. Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa melewatkan sarapan dapat memicu respons inflamasi yang lebih tinggi setelah waktu makan berikutnya.

Dengan demikian, peningkatan pembakaran lemak setelah skip sarapan perlu dipertimbangkan bersama dampaknya terhadap respons gula darah, insulin, dan inflamasi. Diet tidak hanya berkaitan dengan banyaknya lemak yang dibakar, tetapi juga bagaimana tubuh merespons pola makan tersebut.

Bagaimana dengan Skip Makan Malam?

Melewatkan makan malam juga membuat tubuh menjalani periode puasa yang lebih panjang. Dalam penelitian yang sama, pola ini meningkatkan pengeluaran energi selama 24 jam. Bahkan, peningkatan pengeluaran energi tersebut sedikit lebih besar dibandingkan ketika peserta melewatkan sarapan.

Namun, skip makan malam tidak memperlihatkan peningkatan pembakaran lemak yang sama seperti skip sarapan. Artinya, jika tolok ukurnya hanya pembakaran lemak, melewatkan sarapan terlihat lebih menonjol. Sebaliknya, jika melihat pengeluaran energi, skip makan malam juga menunjukkan hasil yang penting.

Tidak Ada Pilihan yang Mutlak untuk Semua Orang

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, tidak ada jawaban tunggal mengenai waktu makan yang paling baik untuk dilewatkan. Skip sarapan maupun makan malam dapat menjadi bagian dari pola makan dengan batasan waktu, tetapi respons setiap orang terhadap pola tersebut bisa berbeda.

Karena itu, perhatian sebaiknya tidak hanya diarahkan pada waktu makan yang dilewatkan. Makanan yang tetap dikonsumsi juga perlu diperhatikan agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi. Asupan sayuran, protein, dan berbagai sumber makanan bergizi lainnya tetap menjadi bagian penting dalam pengaturan pola makan.

Kesimpulan

Skip sarapan menunjukkan peningkatan pembakaran lemak yang lebih besar dalam penelitian, sementara skip makan malam sedikit lebih unggul dalam meningkatkan pengeluaran energi selama 24 jam. Namun, melewatkan sarapan juga dikaitkan dengan respons gula darah, insulin, dan inflamasi yang lebih tinggi setelah makan berikutnya.

Oleh sebab itu, tidak ada pilihan yang mutlak lebih baik antara skip sarapan dan makan malam. Jika ingin mencoba intermittent fasting atau pola makan dengan batasan waktu, pilihlah pola yang sesuai dengan rutinitas dan membuat tubuh tetap nyaman. Hal terpenting adalah mengatur asupan tanpa mengorbankan kebutuhan nutrisi dan kesehatan secara keseluruhan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment