Khadam Berpotensi Jadi Horor Menarik, tetapi Terhambat Durasi dan Terlalu Fokus pada Teror
Khadam, film horor asal Malaysia, sebenarnya memiliki sejumlah modal kuat untuk menjadi tontonan yang menegangkan dan berkesan. Film ini dibuka dengan intensitas tinggi, didukung visual yang atmosferik serta latar cerita yang dekat dengan masyarakat Malaysia dan Indonesia. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya maksimal karena film berdurasi 118 menit ini dinilai terlalu berusaha mempertahankan suasana mencekam dan mengembangkan terlalu banyak bagian cerita.
Fariza Azlina sebagai penulis cerita menghadirkan gagasan yang cukup kaya dalam Khadam. Pengalamannya sebagai aktris sejak dekade 1990-an dan sebagai sutradara terlihat dari cara ia menyusun kepingan cerita. Struktur tersebut memberikan ruang bagi para pemain serta sutradara Shamyl Othman untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan di dalam film.
Sayangnya, keinginan untuk membangun teror dari berbagai sudut rumah terpencil di tengah hutan justru membuat ritme film tidak konsisten. Khadam memulai kisah dengan intensitas yang sangat tinggi, tetapi kemudian mengalami penurunan drastis. Setelah itu, film berjalan lambat sebelum kembali menuju klimaks yang diharapkan dapat menyamai ketegangan pada bagian awal.
Durasi Panjang Membuat Cerita Kurang Efisien
Salah satu catatan utama terhadap Khadam adalah durasinya. Dengan pemadatan cerita, film ini dinilai dapat berlangsung sekitar 90 menit atau bahkan kurang. Unsur-unsur horor yang efisien sebenarnya sudah tersedia, seperti jumlah pemain yang terbatas, lokasi terisolasi, serta konflik yang memiliki kedekatan dengan pengalaman sosial masyarakat di Malaysia maupun Indonesia.
Masalahnya bukan terletak pada gagasan utama yang dibawa film, melainkan pada cara gagasan tersebut disampaikan. Khadam memuat isu feminisme, perlawanan terhadap budaya patriarki, serta pesan inklusivitas melalui penggunaan bahasa isyarat. Komponen-komponen tersebut justru menjadi kekuatan yang tidak semestinya dihilangkan hanya demi mempersingkat durasi.
Pesan Perlawanan Perempuan Menjadi Kekuatan Cerita
Fariza menempatkan kisah Khadam dalam latar waktu 1957, tahun yang dikaitkan dengan kelahiran Malaysia. Di tengah latar sejarah tersebut, film menghadirkan gagasan mengenai perlawanan perempuan terhadap kekerasan domestik. Perlawanan itu semakin menarik karena berkaitan dengan sosok khadam yang dibungkam oleh pihak otoritarian.
Dengan situasi dan fasilitas yang terbatas, gagasan tersebut sebenarnya sudah cukup kuat untuk menjadi sumber teror tersendiri. Film tidak harus selalu bergantung pada formula horor tentang sosok setan atau penyelesaian yang baru mengandalkan bacaan ayat suci setelah korban berjatuhan. Konflik sosial, kekerasan, dan pembungkaman yang ada di dalam cerita dapat dikembangkan sebagai bentuk horor yang lebih berlapis.
Visual Apik, tetapi Color Grading Terlalu Berat
Shamyl Othman tampak berusaha membangun seluruh ruang cerita yang telah disiapkan Fariza secara maksimal. Namun, kebebasan tersebut pada akhirnya membuat film terasa terlalu penuh. Khadam seperti menyampaikan terlalu banyak informasi dalam satu waktu, sehingga penonton berpotensi kehilangan fokus.
Padahal, aspek visual film ini memiliki kualitas yang mendukung. Gambar yang diambil Harris Hue Abdullah, desain produksi, kostum, tata rias, serta set lokasi telah disiapkan dengan baik. Berbagai elemen tersebut juga sudah cukup untuk menegaskan latar masa lalu. Karena itu, penggunaan color grading yang terlalu gelap dan kekuningan terasa berlebihan, seolah-olah film harus terus-menerus menekankan nuansa lampau.
Jika visual ditampilkan dengan pendekatan yang lebih natural, sementara editor dan tim efek visual diberi ruang untuk menonjolkan efek tertentu secara selektif, Khadam berpeluang terasa lebih menarik. Pemadatan cerita dan pengurangan elemen visual yang terlalu dominan juga dapat membantu menjaga ketegangan hingga akhir.
Aghniny Haque dan Remy Ishak Jadi Pusat Perhatian
Di tengah berbagai catatan tersebut, penampilan para pemain menjadi salah satu kekuatan penting Khadam. Aghniny Haque dan Remy Ishak mampu menjadi pusat perhatian melalui chemistry yang terbangun dalam berbagai spektrum emosi, mulai dari cinta hingga kebencian.
Aghniny secara khusus tampil berani dan menantang. Ia tidak hanya memerankan karakter yang mengalami kerasukan, tetapi juga harus membisu, berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, serta memainkan parang sambil bergerak tanpa alas kaki. Peran tersebut menunjukkan perkembangan Aghniny sebagai aktris sejak debut pada 2018, setelah sebelumnya dikenal melalui dunia taekwondo.
Meski sebagian besar filmografinya berada di genre horor, Aghniny memiliki peluang untuk memperluas jangkauan aktingnya. Kemampuannya menjangkau drama, laga, dan horor membuatnya memiliki potensi besar untuk terus mencoba karakter serta arena baru.
Peluang Kolaborasi Perfilman Asia Tenggara
Terlepas dari kekurangannya, Khadam turut membuka perspektif mengenai potensi kolaborasi perfilman antarnegara Asia Tenggara. Kemiripan budaya dan sejarah di kawasan ini dapat menjadi fondasi bagi lahirnya karya-karya yang lebih orisinal.
Kolaborasi langsung antara sineas negara-negara Asia Tenggara dinilai lebih menjanjikan dibandingkan sekadar mengadaptasi atau membuat ulang film dari negara tetangga. Khadam menunjukkan bahwa kerja sama lintas negara dapat menghadirkan pengalaman baru bagi penonton sekaligus memberi keuntungan bagi industri film di kawasan tersebut.
Kesimpulan
Khadam memiliki fondasi cerita, isu sosial, pemain, dan aspek visual yang kuat. Film ini juga menawarkan gagasan menarik mengenai perlawanan perempuan, kekerasan domestik, patriarki, serta inklusivitas. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya tercapai karena durasi yang terlalu panjang, ritme yang melambat, serta pendekatan visual dan teror yang terasa berlebihan.
Dengan cerita yang lebih padat dan penyajian yang lebih terukur, Khadam sebenarnya dapat menjadi film horor yang lebih efektif. Di sisi lain, keberanian Aghniny Haque dan chemistry-nya bersama Remy Ishak menjadi alasan penting untuk mengapresiasi film ini. Khadam juga memperlihatkan bahwa kolaborasi perfilman Asia Tenggara memiliki masa depan yang menjanjikan apabila dikembangkan melalui gagasan orisinal, bukan hanya adaptasi atau pembuatan ulang.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment