8 Kandidat Bersaing Jadi Sekjen PBB Pengganti Antonio Guterres, Siapa yang Terkuat?
Lima perempuan dan tiga laki-laki akan bersaing memperebutkan posisi Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah masa jabatan Antonio Guterres berakhir pada Desember mendatang. Persaingan tersebut berlangsung di tengah perpecahan negara-negara besar dunia terkait arah kepemimpinan organisasi internasional itu.
Para pengamat menilai belum mudah menentukan kandidat yang paling diunggulkan. Setiap calon tidak hanya membutuhkan dukungan dari banyak negara, tetapi juga harus mampu menghindari veto dari anggota tetap Dewan Keamanan PBB.
Mekanisme Pemilihan Sekjen PBB
Delapan kandidat harus memperoleh sedikitnya sembilan suara dari total 15 anggota Dewan Keamanan PBB. Jumlah tersebut mencakup anggota tetap dan tidak tetap.
Namun, perolehan sembilan suara belum otomatis menjamin kemenangan. Kandidat juga tidak boleh diveto oleh salah satu dari lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Jika seorang calon mendapatkan lebih dari sembilan suara, tetapi ditolak melalui veto, seluruh dukungan tersebut tidak akan cukup untuk mengantarkannya ke posisi Sekjen PBB.
Situasi politik global yang terpecah membuat proses pemilihan diperkirakan berlangsung ketat. Perbedaan pandangan mengenai konflik, hak asasi manusia, pembangunan, dan reformasi PBB dapat memengaruhi sikap negara-negara anggota Dewan Keamanan.
Profil Kandidat Perempuan
Michelle Bachelet
Michelle Bachelet merupakan sosialis asal Chile yang pernah mengalami penyiksaan brutal di bawah rezim Augusto Pinochet. Ia kemudian mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang menjabat presiden Chile pada 2006.
Bachelet juga pernah memimpin badan hak asasi manusia PBB. Jabatan tersebut membuatnya berselisih dengan sejumlah negara, terutama China, setelah badan itu menyoroti dugaan pelanggaran HAM sistematis terhadap kelompok minoritas Muslim Uyghur.
Perempuan berusia 74 tahun itu menilai Sekjen PBB harus memiliki “suara moral” dan mampu memimpin meski berada di bawah tekanan negara-negara besar. Pencalonannya didukung Meksiko dan Brasil. Namun, Chile menarik dukungan setelah Jose Antonio Kast mulai menjabat sebagai presiden. Amerika Serikat juga mengkritik Bachelet, terutama karena sikapnya terkait hak aborsi.
María Fernanda Espinosa
Mantan Menteri Luar Negeri Ekuador, María Fernanda Espinosa, menyebut PBB sebagai satu-satunya platform universal untuk menghadapi berbagai tantangan bersama umat manusia. Ia juga pernah menyampaikan gagasan mengenai reformasi yang lebih mendalam terhadap badan dunia tersebut.
Perempuan berusia 61 tahun ini sebelumnya pernah menjadi Presiden Majelis Umum PBB. Salah satu usulannya adalah pembentukan sistem “peringatan dini” untuk mendeteksi serta menandai tanda-tanda konflik yang berpotensi terjadi.
Pencalonan Espinosa didukung Antigua dan Barbuda, tetapi tidak memperoleh dukungan dari negara asalnya sendiri.
Rafael Grossi
Diplomat Argentina Rafael Grossi turut masuk dalam daftar kandidat. Pria berusia 65 tahun tersebut telah memimpin Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sejak 2019.
Pencalonannya berlangsung ketika dunia menghadapi persoalan program nuklir Iran serta pendudukan Rusia atas pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia di Ukraina. Grossi memilih tidak mengundurkan diri dari jabatannya di IAEA untuk berkampanye. Ia menyebut pengunduran diri tersebut sebagai bentuk “pengabaian terhadap tugas”.
Sejumlah pengamat menilai Grossi lebih tegas dalam mendorong reformasi PBB. Ia juga dianggap meyakini bahwa Sekjen PBB perlu mengambil pendekatan yang lebih aktif dan terlibat secara langsung.
Rebeca Grynspan
Rebeca Grynspan, mantan wakil presiden Kosta Rika, saat ini memimpin badan perdagangan dan pembangunan PBB atau UNCTAD. Ia mengambil cuti dari tugasnya untuk berkampanye memperebutkan posisi Sekjen PBB.
Grynspan mencatat capaian diplomatik pada 2022 ketika menjadi perantara Black Sea Grain Initiative antara Moskow dan Kyiv. Inisiatif tersebut memungkinkan ekspor gandum tetap berlangsung di tengah invasi Rusia ke Ukraina.
Perempuan berusia 70 tahun itu juga sering menceritakan latar belakang keluarganya sebagai putri dari orang tua Yahudi yang disebutnya nyaris selamat dari Holocaust sebelum beremigrasi ke Kosta Rika. Ia pernah mengkritik PBB dan menyebut organisasi tersebut telah menjadi “organisasi yang konservatif terhadap risiko”.
Sejauh ini, Grynspan disebut-sebut sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan Guterres selama lima tahun ke depan. Hal itu terlihat dari jajak pendapat informal pertama yang digelar untuk mengukur dukungan terhadap para kandidat.
Kandidat Perempuan dari Guyana
Kandidat perempuan lainnya adalah mantan Menteri Luar Negeri Guyana yang kini menjabat sebagai duta besar negaranya untuk PBB. Perempuan berusia 52 tahun tersebut menilai PBB perlu memulihkan kredibilitasnya di panggung global.
Menurutnya, PBB memang kerap dinilai dari sudut pandang perdamaian dan keamanan. Namun, kontribusi organisasi itu juga mencakup bidang pembangunan dan hak asasi manusia.
A-Baki dari Ekuador
A-Baki merupakan diplomat dan politikus Ekuador yang pernah menjadi duta besar negaranya untuk Amerika Serikat. Di Washington, ia dipandang berhasil membangun hubungan dekat dengan Presiden AS Donald Trump.
Perempuan berusia 75 tahun itu dinominasikan Tonga. Ia juga memiliki hubungan kuat dengan negara-negara Teluk setelah pernah menjadi duta besar Ekuador untuk Qatar.
A-Baki, yang lahir dari orang tua Lebanon, pernah berperan dalam memediasi dialog antara Ekuador dan Peru setelah perang perbatasan singkat pada 1995. Ia mengatakan pernah mengalami kehancuran akibat perang dan menyatakan siap membantu memperbarui janji dasar Piagam PBB untuk menyelamatkan generasi mendatang dari bencana perang.
Kandidat Laki-Laki
Macky Sall
Macky Sall merupakan mantan presiden Senegal berusia 64 tahun. Ia menekankan hubungan erat antara perdamaian dan pembangunan.
Sall diusulkan Burundi, yang saat ini menjabat sebagai ketua Uni Afrika. Ia kemudian memperoleh dukungan dari pemerintah negaranya sendiri untuk maju dalam pemilihan Sekjen PBB.
Namun, pencalonannya menghadapi kontroversi. Otoritas Senegal menuduh Sall melakukan penindasan berdarah terhadap demonstrasi politik yang berlangsung pada 2021 hingga 2024 dan menewaskan puluhan orang.
Olara Otunnu
Olara Otunnu pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal PBB sekaligus perwakilan khusus untuk anak-anak dan konflik bersenjata pada 1997 hingga 2005, ketika Kofi Annan menjadi Sekjen PBB.
Pria berusia 75 tahun itu juga pernah menjadi utusan Uganda untuk PBB dan sempat menjabat sebagai menteri luar negeri negara tersebut. Pada pemilu 2011, Otunnu mencalonkan diri sebagai kandidat presiden dari oposisi Uganda People’s Congress. Namun, ia kalah dari Yoweri Museveni yang telah berkuasa sejak 1986.
Persaingan Masih Terbuka
Delapan kandidat tersebut membawa pengalaman dan gagasan yang berbeda, mulai dari reformasi PBB, perlindungan HAM, pembangunan, perdamaian, hingga penanganan konflik dan isu nuklir.
Meski Rebeca Grynspan sementara dipandang sebagai kandidat terkuat berdasarkan jajak pendapat informal, hasil akhir tetap sangat bergantung pada negosiasi politik di Dewan Keamanan PBB. Dukungan sembilan negara saja tidak cukup jika salah satu anggota tetap menggunakan hak veto.
Karena itu, persaingan menuju posisi Sekjen PBB masih terbuka. Kandidat yang mampu memperoleh dukungan luas sekaligus diterima negara-negara besar akan memiliki peluang lebih besar untuk menggantikan Antonio Guterres dan memimpin PBB dalam menghadapi tantangan global berikutnya.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment