AS Mediasi Dialog Suriah-Israel di Yordania, Bahas Penarikan Pasukan dan Golan

Amerika Serikat (AS) turun tangan untuk memediasi pembicaraan tingkat tinggi antara Suriah dan Israel yang berlangsung di Yordania pada Minggu (23/8). Pertemuan ini digelar ketika hubungan kedua negara kembali memanas setelah serangan Israel terhadap pangkalan udara Abu Al Duhur di Suriah.

Pembicaraan tersebut menjadi negosiasi pertama antara Suriah dan Israel dalam beberapa bulan terakhir. Selain membahas upaya meredakan ketegangan, pertemuan itu juga diarahkan untuk mencegah Suriah terseret lebih jauh dalam ketegangan yang melibatkan Israel dan Turki.

AS Memediasi Pembicaraan Suriah dan Israel

Kantor berita negara Suriah, SANA, melaporkan bahwa pertemuan di Yordania bertujuan menurunkan eskalasi setelah serangan terhadap pangkalan udara Abu Al Duhur. Informasi tersebut disampaikan oleh sumber diplomatik di Kementerian Luar Negeri Suriah.

Keterlibatan AS dalam pembicaraan ini menunjukkan adanya upaya untuk membangun mekanisme komunikasi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan. Namun, berdasarkan informasi yang tersedia, agenda utama pertemuan tetap berfokus pada pencegahan konfrontasi serta pembahasan mengenai kehadiran dan pergerakan pasukan di wilayah Suriah.

Pertemuan di Yordania juga menjadi forum bagi kedua pihak untuk membahas cara mencegah konflik yang lebih luas. Salah satu perhatian utama adalah kemungkinan Suriah terseret dalam ketegangan antara Israel dan Turki.

Delegasi Suriah dan Israel

Delegasi Suriah dalam pertemuan tersebut dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Asaad Al Shaibani. Sementara itu, pihak Israel turut mengirimkan delegasi yang melibatkan Kepala Mossad Roman Gofman.

Kehadiran pejabat senior dari kedua negara memperlihatkan bahwa pembicaraan tersebut memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Pertemuan ini juga menandai dibukanya kembali jalur negosiasi langsung setelah beberapa bulan tidak ada pembicaraan antara Damaskus dan Tel Aviv.

Rencana Ruang Operasi Khusus di Yordania

Salah satu isu yang dibahas adalah rencana pembentukan “ruang operasi khusus” di Yordania. Ruang tersebut nantinya akan diawasi oleh AS dan ditujukan untuk mencegah terjadinya konfrontasi di Suriah.

Berdasarkan keterangan sumber diplomatik dan sumber pemerintah Suriah yang dikutip Middle East Eye melalui AFP, mekanisme itu juga diharapkan dapat membantu mencegah konflik yang melibatkan Turki. Dengan demikian, ruang operasi tersebut dirancang sebagai sarana pengawasan dan koordinasi untuk mengurangi risiko bentrokan di wilayah yang sensitif.

Meski demikian, informasi yang tersedia belum menjelaskan secara rinci bentuk kerja ruang operasi khusus tersebut maupun mekanisme pelaksanaannya. Pembahasan mengenai rencana itu menjadi bagian dari upaya lebih luas untuk menjaga agar ketegangan tidak berkembang menjadi konfrontasi terbuka.

Suriah Tegaskan Status Dataran Tinggi Golan

Dalam pembicaraan tersebut, delegasi Suriah kembali menegaskan posisi Damaskus mengenai Dataran Tinggi Golan. Suriah menyatakan bahwa wilayah tersebut merupakan bagian dari wilayahnya yang diduduki Israel.

Damaskus juga menilai pembahasan mengenai status akhir Dataran Tinggi Golan masih terlalu dini. Sikap ini menunjukkan bahwa isu wilayah tetap menjadi salah satu persoalan penting dalam hubungan Suriah dan Israel.

Dua Prioritas Suriah

Suriah menyampaikan dua prioritas utama dalam pertemuan itu. Pertama, Damaskus meminta Israel menarik pasukannya ke garis sebelum 8 Desember 2024. Permintaan tersebut menjadi salah satu poin utama yang dibawa delegasi Suriah dalam negosiasi.

Kedua, Suriah menuntut implementasi penuh perjanjian pelepasan pasukan tahun 1974. Perjanjian itu menjadi rujukan yang kembali ditekankan Damaskus dalam upaya membahas penataan kembali posisi pasukan dan meredakan ketegangan.

Kesimpulan

Pembicaraan Suriah-Israel di Yordania menunjukkan adanya upaya diplomatik untuk mengendalikan ketegangan setelah serangan terhadap pangkalan udara Abu Al Duhur. AS berperan sebagai mediator sekaligus pihak yang direncanakan mengawasi “ruang operasi khusus” di Yordania.

Di sisi lain, Suriah tetap mempertahankan tuntutannya terkait penarikan pasukan Israel, pelaksanaan penuh perjanjian pelepasan pasukan 1974, serta status Dataran Tinggi Golan. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada sejauh mana kedua pihak dapat menindaklanjuti hasil pembicaraan dan mencegah Suriah terseret ke dalam ketegangan yang lebih luas di kawasan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment