Bab Al Mandab Terancam, Jalur Minyak Dunia dan Perdagangan Global Ikut Terganggu

Bab Al Mandab merupakan selat sempit yang terletak di antara Yaman dan Djibouti. Meski ukurannya tidak besar, selat ini memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan dunia, khususnya untuk pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah menuju berbagai negara, terutama negara-negara di Asia.

Selat tersebut menjadi jalur penghubung penting bagi kapal yang bergerak dari Laut Merah menuju Teluk Aden dan Samudra Hindia. Namun, meningkatnya ancaman terhadap kapal-kapal komersial di kawasan itu membuat perusahaan pelayaran kembali menghindari Bab Al Mandab. Situasi ini berpotensi mengganggu pasokan energi, memperpanjang waktu pengiriman, serta meningkatkan biaya transportasi dan harga komoditas.

Bab Al Mandab Berperan Penting bagi Pasokan Energi

Bab Al Mandab merupakan salah satu titik sempit atau chokepoint dalam jaringan perdagangan global. Jalur ini menjadi rute penting bagi pengiriman minyak mentah dari Timur Tengah ke pasar internasional. Perannya semakin besar setelah perang antara Iran dan Amerika Serikat mengganggu Selat Hormuz, yang selama ini dikenal sebagai jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk.

Sebelum perang, sekitar 20 juta barel minyak melewati Selat Hormuz setiap hari. Jumlah tersebut setara dengan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Ketika jalur itu terganggu, Arab Saudi mulai mengalihkan pengiriman minyak mentah dari wilayah timur melalui jaringan pipa menuju pantai barat negara tersebut.

Minyak kemudian dikirim melalui Pelabuhan Yanbu yang berada di kawasan Laut Merah. Dari pelabuhan tersebut, sebagian pasokan melanjutkan perjalanan melewati Bab Al Mandab menuju pasar di luar kawasan.

Pengiriman Minyak Saudi Menurun Drastis

Salah satu pendiri perusahaan riset energi Energy Aspects, Richard Bronze, mengatakan pengiriman minyak mentah dari Yanbu melalui Bab Al Mandab sebelumnya pernah mencapai sekitar 3 juta barel per hari.

“Bab Al Mandab selama ini menjadi jalur kehidupan. Hilangnya jalur tersebut menjadi peringatan bagi pasar minyak bahwa situasi saat ini tidak berkelanjutan,” kata Bronze, seperti dikutip dari CNN, Sabtu (12/9).

Namun, ancaman kelompok Houthi terhadap kapal-kapal yang melintas di sekitar selat tersebut membuat arus minyak Saudi mengalami penurunan tajam. Bronze menyebut pengiriman minyak mentah Saudi melalui Bab Al Mandab turun menjadi sekitar 400 ribu barel per hari pada Agustus. Saat ini, volumenya disebut berada pada tingkat yang lebih rendah.

Rute Alternatif Tambah Waktu dan Biaya Pengiriman

Apabila kapal tidak dapat melewati Bab Al Mandab, pengiriman minyak dan barang harus menggunakan jalur alternatif yang jauh lebih panjang. Salah satu pilihan adalah mengarahkan kapal melalui Terusan Suez menuju Laut Mediterania, kemudian menyusuri pesisir barat Afrika dan melewati bagian selatan benua tersebut sebelum kembali menuju Samudra Hindia dan Asia.

Penggunaan rute tersebut dapat menambah waktu perjalanan hingga sekitar satu bulan. Durasi yang lebih panjang membuat kebutuhan bahan bakar, biaya asuransi, serta operasional kapal meningkat. Pada akhirnya, kondisi itu dapat mendorong kenaikan tarif pengiriman dan harga komoditas yang diangkut.

Analis senior minyak mentah di perusahaan data komoditas Kpler, Johannes Rauball, mengatakan gangguan pelayaran di Laut Merah menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga minyak.

“Tanpa ada penyelesaian cepat dan dengan gangguan yang diperkirakan terus berlangsung, kilang semakin terdorong untuk mengamankan pasokan minyak mentah tambahan. Hal ini mendorong harga minyak mentah semakin tinggi,” ujar Rauball.

Serangan Houthi Menekan Lalu Lintas Kapal

Ancaman terhadap kapal di Bab Al Mandab bukanlah persoalan baru. Sejak akhir 2023, kelompok Houthi mulai menyerang kapal komersial yang melintas di selat tersebut sebagai bentuk respons terhadap perang Israel di Gaza.

Serangkaian serangan itu mendorong perusahaan pelayaran menghindari Laut Merah dan memilih rute yang memutari Afrika. Perubahan jalur tersebut berdampak langsung terhadap jumlah kapal yang melewati Bab Al Mandab.

Kepala analis perusahaan data pengiriman Xeneta, Peter Sand, memperkirakan jumlah kapal yang melintas di Bab Al Mandab telah turun sekitar 60 hingga 70 persen sejak serangan Houthi dimulai. Dalam beberapa hari terakhir, jumlah pelayaran kembali turun sekitar 46 persen seiring meningkatnya pertempuran di kawasan tersebut.

Kesimpulan

Gangguan di Bab Al Mandab menunjukkan betapa pentingnya selat sempit tersebut bagi perdagangan dan pasokan energi dunia. Ancaman keamanan tidak hanya mengurangi arus kapal, tetapi juga memaksa perusahaan pelayaran menggunakan rute yang lebih panjang dan mahal.

Selama ancaman terhadap kapal masih berlangsung dan belum ada penyelesaian cepat, tekanan terhadap pengiriman minyak, biaya logistik, serta harga komoditas berpotensi terus meningkat. Karena itu, perkembangan keamanan di sekitar Bab Al Mandab akan tetap menjadi perhatian penting bagi pasar minyak dan perdagangan global.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment