Ketua DPR AS Mike Johnson Sebut Perang dengan Iran Segera Memasuki Fase Baru

Ketua DPR Amerika Serikat Mike Johnson menilai konflik antara negaranya dan Iran berpotensi segera memasuki fase baru. Pernyataan tersebut disampaikan ketika belum terlihat adanya tanda-tanda yang menunjukkan perang akan berakhir dalam waktu dekat.

Johnson menyampaikan pandangan itu dalam wawancara dengan Fox News yang dikutip Middle East Eye pada Minggu (23/8). Dalam kesempatan tersebut, politikus Partai Republik itu mengatakan bahwa Amerika Serikat kemungkinan akan melanjutkan konflik bersama negara-negara sekutunya.

Mike Johnson Sebut Konflik AS-Iran Masuk Tahap Baru

Menurut Johnson, Amerika Serikat dan negara-negara yang mendukungnya telah bersiap menghadapi perkembangan berikutnya dalam perang melawan Iran. Ia menyebut fase baru tersebut akan dijalankan hingga tujuan yang ditetapkan pemerintah AS tercapai.

“Saya kira kita akan memasuki fase baru segera. Saya yakin negara-negara sekutu kami siap membantu di fase selanjutnya, sampai kami menyelesaikannya,” kata Johnson.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Washington belum menganggap konflik dengan Teheran selesai. Sebaliknya, AS disebut sedang bersiap melanjutkan langkah-langkah berikutnya, meskipun sebelumnya kedua negara sempat terlibat dalam upaya penghentian pertempuran dan perundingan.

Klaim soal Program Nuklir Iran

Dalam wawancara tersebut, Johnson juga menyampaikan klaim mengenai tujuan pemerintah Amerika Serikat dalam menghadapi Iran. Ia mengatakan, pemerintahan AS sebelum-sebelumnya memiliki tujuan untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

Johnson kemudian menyatakan bahwa Presiden Donald Trump telah mencapai tujuan tersebut. Namun, ia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai langkah atau mekanisme yang disebut berhasil mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Ketua DPR AS itu juga mengulang sikap Trump yang menyatakan bahwa Iran tidak dapat dipercaya. Pandangan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa proses diplomasi antara Washington dan Teheran menghadapi hambatan.

“Iran tak bisa dipercaya di meja perundingan,” ujar Johnson.

Rangkaian Serangan AS, Israel, dan Iran

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkat setelah AS bersama sekutunya, Israel, melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada akhir Februari. Operasi tersebut disebut menewaskan sejumlah pejabat tinggi pertahanan Iran serta Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Iran kemudian memberikan respons dengan menyerang wilayah Israel. Teheran juga melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di negara-negara Teluk, termasuk Yordania dan Bahrain.

Serangkaian aksi saling serang itu memperluas dampak konflik. Ketegangan tidak hanya berlangsung di wilayah Iran dan Israel, tetapi juga menyentuh lokasi-lokasi yang menjadi tempat keberadaan pasukan serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Gencatan Senjata dan Nota Kesepahaman

Amerika Serikat dan Iran sempat mencapai gencatan senjata pada April. Namun, tidak ada kejelasan mengenai apakah kesepakatan tersebut akan diperpanjang atau dapat menghentikan konflik secara permanen.

Pada Juni, kedua negara kemudian menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang ditujukan untuk menghentikan perang. Kesepakatan tersebut memberikan waktu 60 hari bagi AS dan Iran untuk bernegosiasi demi membuka peluang terciptanya perdamaian di kawasan.

Meski demikian, proses tersebut tidak berjalan tanpa tekanan. Di tengah berlakunya MoU, Trump berulang kali menyampaikan ancaman untuk menyerang Iran. Sebagian ancaman itu dilaporkan benar-benar diwujudkan melalui serangan, sementara ancaman lainnya disebut tidak direalisasikan.

Iran Menolak Negosiasi di Bawah Ancaman

Iran membalas serangan yang dilancarkan terhadap wilayah dan kepentingannya. Teheran juga menegaskan bahwa mereka tidak bersedia bernegosiasi apabila proses tersebut berlangsung di bawah ancaman atau serangan militer.

Sikap tersebut membuat masa depan gencatan senjata dan MoU antara kedua negara semakin tidak pasti. Di satu sisi, terdapat upaya diplomatik untuk menghentikan perang. Di sisi lain, ancaman serangan dan aksi militer masih terus membayangi hubungan Washington dan Teheran.

Kesimpulan

Pernyataan Mike Johnson menunjukkan bahwa Amerika Serikat belum melihat konflik dengan Iran sebagai perang yang segera berakhir. Ia justru menyebut perang tersebut akan memasuki fase baru dengan kemungkinan dukungan dari negara-negara sekutu AS.

Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada sikap kedua negara terhadap jalur diplomasi. Kesepakatan gencatan senjata dan MoU masih menjadi dasar bagi pembicaraan damai, tetapi ancaman serangan serta penolakan Iran untuk berunding di bawah tekanan dapat kembali memperuncing konflik. Dengan kondisi tersebut, arah perang AS-Iran masih sulit dipastikan dan peluang perdamaian tetap menghadapi tantangan besar.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment