Krisis Malnutrisi Anak Pakistan Tak Kunjung Usai, Jutaan Anak Terancam

Pakistan masih menghadapi krisis malnutrisi anak yang berkepanjangan. Selama beberapa dekade, angka kekurangan gizi tetap tinggi meskipun pemerintah telah menjalankan berbagai program pembangunan, intervensi sosial, dan kebijakan perlindungan masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan malnutrisi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga menyangkut akses terhadap layanan kesehatan, air bersih, sanitasi, serta perlindungan dari penyakit.

Assadullah Channa, akademisi asal Sindh, Pakistan, mengatakan hampir empat dari 10 anak berusia di bawah lima tahun di negara tersebut mengalami stunting. Selain itu, jutaan anak lainnya menghadapi wasting atau kondisi tubuh sangat kurus, anemia, serta kekurangan mikronutrien. Menurut Channa, situasi tersebut merupakan cerminan dari kelemahan sistemik yang belum terselesaikan.

Angka Stunting dan Wasting Masih Mengkhawatirkan

Besarnya skala krisis terlihat dari hasil Survei Nutrisi Nasional Pakistan 2018. Survei itu mencatat prevalensi stunting mencapai 40,2 persen atau sekitar 12 juta anak. Sementara itu, angka wasting berada di level 17,7 persen.

Estimasi UNICEF pada 2022 memang menunjukkan adanya penurunan angka stunting menjadi 34 persen. Namun, penurunan tersebut belum cukup untuk mengubah kondisi secara mendasar. Kurang gizi kronis masih menjadi beban nasional yang memengaruhi jutaan anak dan keluarga di Pakistan.

Channa menilai malnutrisi bahkan dapat dimulai sebelum seorang anak dilahirkan. Masa 1.000 hari pertama kehidupan, yang mencakup masa kehamilan hingga tahun-tahun awal setelah kelahiran, menjadi periode paling menentukan bagi pertumbuhan anak.

Masalah Dimulai Sejak Kehamilan

Nutrisi ibu yang buruk, anemia selama kehamilan, serta kelahiran bayi dengan berat badan rendah menjadi sejumlah faktor yang memperbesar risiko kekurangan gizi. Praktik pemberian makanan kepada bayi juga berperan penting. Data UNICEF menunjukkan hanya 38 persen bayi di Pakistan yang mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya.

Channa menegaskan bahwa malnutrisi tidak dapat dipahami hanya sebagai akibat kemiskinan ekstrem. Sebuah keluarga mungkin masih mampu menyediakan makanan dalam jumlah cukup, tetapi makanan tersebut belum tentu memiliki kandungan protein dan mikronutrien yang memadai.

Di sisi lain, anak yang telah memperoleh makanan cukup tetap dapat mengalami kekurangan gizi apabila menderita diare kronis. Air yang terkontaminasi dapat memicu penyakit tersebut dan menyebabkan nutrisi dari makanan tidak terserap secara optimal. Kondisi ini memperlihatkan hubungan erat antara gizi, kesehatan, air bersih, dan sanitasi.

Masalah tersebut juga dapat berlangsung lintas generasi. Ibu yang mengalami kekurangan gizi berisiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Bayi tersebut kemudian lebih rentan mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga terbentuk siklus kekurangan gizi yang terus berulang.

Bencana Iklim Memperburuk Kerentanan Anak

Kelemahan sistem kesehatan dan pangan semakin terlihat ketika bencana melanda. Banjir monsun pada pertengahan 2025 menghancurkan sejumlah fasilitas kesehatan dan sumber air, sekaligus merendam jutaan hektare lahan pertanian di Punjab.

UNICEF mencatat 946 orang meninggal dunia dalam bencana tersebut, termasuk 255 anak-anak. Selain itu, lebih dari 61.100 anak dengan malnutrisi akut parah harus mendapatkan perawatan di ribuan fasilitas medis yang masih beroperasi di Pakistan.

Banjir tidak menciptakan krisis malnutrisi dari awal. Namun, bencana itu mendorong anak-anak yang sebelumnya sudah rentan ke kondisi yang semakin membahayakan. Rusaknya sumber air, fasilitas kesehatan, dan lahan pertanian dapat mempersempit akses masyarakat terhadap makanan bergizi serta layanan dasar.

Ancaman Paparan Timbal di Wilayah Berisiko Tinggi

Persoalan lingkungan lain turut memperbesar ancaman terhadap kesehatan anak. Laporan UNICEF pada Mei 2026 menemukan bahwa empat dari 10 anak berusia 12 hingga 36 bulan di wilayah berisiko tinggi di tujuh kota Pakistan memiliki kadar timbal dalam darah yang sangat tinggi.

Di Hattar, Haripur, sebanyak 88 persen anak yang menjalani pemeriksaan menunjukkan paparan timbal parah. Angka tersebut sangat berbeda dibandingkan Islamabad, yang mencatat tingkat paparan sebesar 1 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa risiko kesehatan anak tidak hanya berasal dari kekurangan makanan, tetapi juga dari lingkungan tempat mereka tumbuh.

Dampak Ekonomi dan Upaya Pemerintah

Dampak malnutrisi tidak berhenti ketika anak melewati masa balita. Rendahnya kapasitas kognitif dan berkurangnya produktivitas generasi mendatang diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Mitra nutrisi Pakistan memperkirakan beban tersebut mencapai USD17 miliar atau sekitar Rp260 triliun setiap tahun.

Pemerintah Pakistan telah menjalankan sejumlah intervensi. Pada Juli 2026, pemerintah bersama mitra internasional mengumumkan perpanjangan Program Benazir Nashonuma selama tiga tahun. Perpanjangan itu ditujukan untuk menjangkau tambahan 3,3 juta perempuan dan anak.

Program tersebut disebut mampu menurunkan risiko stunting hingga 22 persen pada anak-anak yang terdaftar. Kendati demikian, kebutuhan di lapangan masih sangat besar. Program Pangan Dunia atau WFP melaporkan sebanyak 7,5 juta orang berada dalam kondisi krisis kerawanan pangan akut.

Kesimpulan

Krisis malnutrisi anak di Pakistan merupakan persoalan pembangunan manusia yang bersifat kompleks dan berjangka panjang. Tingginya angka stunting, wasting, anemia, serta kekurangan mikronutrien berkaitan dengan kondisi ibu, praktik pemberian makan, penyakit, air tercemar, bencana iklim, dan lemahnya akses terhadap layanan dasar.

Menurut Assadullah Channa, malnutrisi tidak lagi dapat diperlakukan sebagai keadaan darurat biasa ketika jutaan anak tetap rentan meskipun berbagai intervensi telah berlangsung selama bertahun-tahun. Pakistan membutuhkan komitmen politik yang berkelanjutan dan koordinasi lintas sektor, mulai dari kesehatan, pertanian, air, sanitasi, hingga perlindungan sosial.

Masa depan jutaan anak Pakistan akan sangat ditentukan oleh seberapa cepat seluruh sistem tersebut dapat bekerja secara terpadu. Tanpa langkah yang konsisten dan menyeluruh, siklus kekurangan gizi berisiko terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment