Rodrigo Duterte Tampil Perdana di Sidang ICC, Kondisi Fisik dan Ingatannya Jadi Sorotan

Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte menjadi perhatian setelah hadir secara langsung dalam sidang Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) pada Rabu (16/9). Penampilan tersebut merupakan kemunculan tatap muka pertamanya di persidangan sejak ia ditahan oleh mahkamah itu selama 18 bulan terakhir.

Duterte hadir dalam sidang yang berkaitan dengan dakwaan atas kampanye perang melawan narkoba selama masa pemerintahannya sebagai presiden Filipina. Kehadirannya menuai perhatian karena kondisi fisiknya tampak berubah dibandingkan saat pertama kali mengikuti persidangan melalui sambungan video.

Penampilan Duterte Berubah Drastis

Dalam persidangan tersebut, Duterte tampak mengenakan setelan jas berwarna gelap dengan kemeja putih tanpa dasi. Mantan presiden berusia 81 tahun itu terlihat duduk dengan tenang dan sesekali tersenyum selama sidang berlangsung.

Namun, perubahan pada perawakannya menjadi hal yang paling menarik perhatian. Duterte terlihat semakin kurus dan lebih tua dibandingkan penampilan terakhirnya ketika menghadiri sidang secara virtual. Perubahan tersebut bahkan disebut mengejutkan sejumlah pihak yang menyaksikan kemunculannya.

Meski mendapat izin untuk meninggalkan ruang sidang kapan saja tanpa perlu meminta persetujuan majelis hakim, Duterte tetap berada di dalam ruang sidang selama persidangan berlangsung. Sidang tersebut berjalan selama satu jam 15 menit.

Sepanjang persidangan, Duterte tidak menyampaikan pernyataan. Ia tampak mengikuti jalannya proses persidangan dengan menggunakan headphone dan tidak menunjukkan emosi yang mencolok. Setelah hakim meninggalkan ruang sidang, Duterte sempat melambaikan tangan ke arah galeri publik.

Pengacara Klaim Duterte Mengalami Gangguan Memori

Kondisi kesehatan dan kemampuan mental Duterte juga menjadi bagian penting dalam proses hukum tersebut. Dalam dokumen yang dipublikasikan pada Selasa, tim kuasa hukumnya menyatakan bahwa Duterte mengalami amnesia atau gangguan ingatan.

Menurut tim pembela, Duterte mengalami “gangguan memori yang signifikan”. Kondisi itu disebut membuatnya tidak mampu mempertahankan informasi baru dan mengakses kembali ingatan secara andal.

Hasil pemeriksaan medis yang menjadi dasar pernyataan tersebut belum dipublikasikan. Namun, para pengacara Duterte mengutip sejumlah hasil pemeriksaan yang tercantum dalam laporan terkait.

Tim kuasa hukum menyebut pemeriksaan menunjukkan Duterte mengira dirinya masih hidup pada 2007 atau 2008. Ia juga disebut memperkirakan usianya berada di kisaran 84 atau 85 tahun serta tidak mampu mengingat nama presiden Amerika Serikat saat ini.

Hakim Perintahkan Pemeriksaan Medis

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, para hakim menilai perlu menentukan apakah Duterte secara mental layak untuk menjalani persidangan. Majelis hakim kemudian memerintahkan pemeriksaan medis yang dilakukan oleh tiga orang ahli.

Persoalan kesehatan sebelumnya juga membuat Duterte melewatkan sejumlah persidangan. Saat itu, tim kuasa hukumnya menyampaikan bahwa klien mereka terlalu sakit untuk hadir secara langsung.

Duterte Hadapi Tiga Dakwaan Kejahatan terhadap Kemanusiaan

Duterte merupakan mantan kepala negara Asia pertama yang menghadapi persidangan di ICC. Pengadilan tersebut menangani individu yang dituduh melakukan kejahatan paling berat, termasuk kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dalam perkara ini, Duterte menghadapi tiga dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan. Jaksa menuduhnya terlibat dalam sedikitnya 76 pembunuhan yang terjadi antara 2013 dan 2018, dalam rangkaian operasi pemberantasan pengguna dan pengedar narkoba selama masa pemerintahannya.

Sidang yang digelar pada Rabu merupakan sidang status. Agenda tersebut tidak secara langsung membahas pokok perkara, melainkan digunakan untuk membicarakan sejumlah persoalan administratif serta menetapkan rincian logistik sebelum persidangan utama dimulai.

Pengacara Persoalkan Jumlah Barang Bukti

Dalam sidang status itu, jaksa dan tim pembela juga berdebat mengenai jumlah barang bukti yang diajukan dalam perkara Duterte. Jaksa menyebut terdapat sekitar 15.000 barang bukti, sedangkan pihak pembela mengatakan jumlah dokumen yang harus ditelaah mencapai lebih dari 62.000.

Pengacara Duterte, Peter Haynes, menilai jumlah dokumen tersebut sangat besar. Ia mengatakan tim pembela tidak mungkin memiliki cukup waktu untuk membaca seluruh dokumen sebelum persidangan dimulai.

“Jumlahnya benar-benar sangat besar. Ini tidak mungkin,” kata Haynes.

Ia juga menggambarkan kondisi perkara sebagai sesuatu yang berantakan. Menurut Haynes, jika kliennya berada dalam kondisi lebih muda dan lebih sehat, pihak pembela akan meminta penundaan persidangan selama enam bulan. Namun, kondisi Duterte saat ini membuat persoalan tersebut menjadi lebih rumit.

Kesimpulan

Kehadiran langsung Rodrigo Duterte dalam sidang ICC menyoroti dua persoalan utama, yakni perubahan kondisi fisiknya serta klaim tim pembela mengenai gangguan ingatan yang dialaminya. Majelis hakim kini perlu menentukan kelayakan mental Duterte untuk mengikuti proses persidangan, termasuk melalui pemeriksaan medis oleh tiga ahli.

Di sisi lain, proses hukum masih menghadapi persoalan administratif dan perdebatan mengenai jumlah barang bukti yang harus ditelaah. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada hasil pemeriksaan medis serta keputusan hakim terkait kesiapan Duterte dan penataan bukti sebelum persidangan utama dimulai.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment