Sanksi Ekonomi Total AS terhadap Iran Hadapi Tantangan dari China dan Rusia
Sanksi ekonomi total yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap Iran berpotensi menghadapi tantangan besar. Kebijakan tersebut dirancang untuk mengisolasi Iran dari hubungan bisnis internasional, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada sikap negara-negara lain, khususnya negara yang memiliki hubungan ekonomi dan politik dengan Teheran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut operasi tersebut sebagai perang ekonomi paling menghancurkan dengan skala isolasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Washington juga memperingatkan negara atau entitas yang tetap memberikan bantuan kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang berat.
AS Ancam Negara yang Tetap Bekerja Sama dengan Iran
Trump menyampaikan bahwa sanksi tersebut tidak hanya ditujukan kepada Iran, tetapi juga dapat menyasar negara-negara yang membantu aktivitas ekonomi Teheran. Ancaman itu mencakup lembaga keuangan, perusahaan, bandara, hingga entitas pemerintah.
Dalam unggahan di platform Truth Social pada Kamis (20/8), Trump menegaskan bahwa setiap negara yang mengizinkan lembaga atau perusahaan di wilayahnya memberikan bantuan dalam bentuk apa pun kepada Iran akan menghadapi dampak ekonomi yang sangat berat.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Amerika Serikat berupaya menerapkan tekanan yang lebih luas melalui sanksi sekunder. Dengan kebijakan ini, negara-negara lain dapat menghadapi risiko apabila tetap melakukan kerja sama ekonomi dengan Iran, meskipun tidak menjadi sasaran utama sanksi Washington.
China Tegas Menolak Sanksi Sepihak Amerika Serikat
China menjadi salah satu negara yang berpotensi menentukan keberhasilan atau kegagalan strategi isolasi ekonomi terhadap Iran. Beijing memiliki hubungan ekonomi dengan Teheran, terutama dalam sektor perdagangan minyak dan energi.
China telah menyatakan secara tegas tidak akan mengikuti sanksi Amerika Serikat terhadap Iran. Beijing bahkan mengecam keputusan Washington yang menjatuhkan sanksi sekunder kepada negara-negara yang tetap menjalin kerja sama ekonomi dengan Teheran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengatakan kerja sama China dengan Iran dilakukan berdasarkan kerangka hukum internasional dan tidak boleh diganggu. Pernyataan tersebut dikutip dari AA pada Selasa (25/8).
Lin juga menyatakan bahwa China menentang keras sanksi sepihak yang dinilai ilegal. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak memiliki dasar hukum internasional maupun otorisasi dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
China Khawatir terhadap Tatanan Keuangan Global
Selain menolak sanksi sepihak, China memperingatkan bahwa kebijakan baru Amerika Serikat terhadap Iran dapat mengganggu tatanan keuangan global. Kekhawatiran tersebut muncul karena sanksi sekunder dapat memengaruhi hubungan bisnis negara lain dan meningkatkan tekanan terhadap lembaga keuangan internasional.
Sikap Beijing ini menjadi tantangan bagi upaya Washington untuk membatasi hubungan ekonomi Iran dengan dunia luar. Selama masih ada negara besar yang bersedia mempertahankan kerja sama perdagangan dan energi, upaya isolasi total terhadap Teheran akan menghadapi hambatan.
Rusia Siap Berkoordinasi Menghadapi Kampanye Ekonomi AS
Sikap serupa juga disampaikan Rusia. Moskow menyatakan akan berkoordinasi dengan Iran dan negara-negara lain yang memiliki kepentingan untuk menghadapi kampanye ekonomi baru Amerika Serikat terhadap Teheran.
Rusia menilai kebijakan Washington sebagai bentuk tekanan yang tidak sah. Pemerintah Rusia juga menolak penggunaan sanksi sebagai instrumen untuk menekan negara lain.
Media Iran, Fars News Agency, melaporkan pada Kamis (27/8/26) bahwa Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyampaikan sikap tersebut dalam konferensi pers. Pernyataan itu disampaikan ketika ia membahas serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Zakharova mengatakan eskalasi yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel telah memberikan dampak terhadap pasar energi dunia. Menurutnya, sekitar seperlima pasokan minyak dan sepertiga pasokan gas disebut terdampak akibat situasi tersebut.
Dalam laporan Pars Today yang mengutip Kantor Berita Iran IRIB, Zakharova menegaskan penolakan Rusia terhadap praktik pemberlakuan tindakan sepihak, ilegal, dan koersif yang bertentangan dengan Piagam PBB.
Masa Depan Sanksi Bergantung pada Sikap Negara Lain
Sanksi ekonomi total Amerika Serikat terhadap Iran kini tidak hanya menjadi persoalan antara Washington dan Teheran. Kebijakan tersebut juga memperhadapkan Amerika Serikat dengan negara-negara yang tetap mempertahankan hubungan ekonomi bersama Iran.
China dan Rusia, sebagai dua negara yang dekat dengan Iran, telah menunjukkan penolakan terbuka terhadap tekanan tersebut. Keduanya memiliki hubungan ekonomi dengan Teheran, khususnya di bidang minyak dan energi, sehingga sikap mereka dapat memengaruhi tingkat keberhasilan strategi isolasi yang dirancang Washington.
Ke depan, efektivitas sanksi akan sangat ditentukan oleh sejauh mana negara-negara lain mengikuti tekanan Amerika Serikat atau memilih mempertahankan kerja sama dengan Iran. Penolakan dari China dan Rusia juga memperlihatkan adanya perbedaan pandangan mengenai penggunaan sanksi sepihak serta dampaknya terhadap sistem ekonomi dan keuangan global.
Kesimpulan
Amerika Serikat berupaya mengisolasi Iran melalui sanksi ekonomi total dan ancaman sanksi sekunder terhadap pihak-pihak yang tetap membantu Teheran. Namun, kebijakan tersebut menghadapi penolakan dari China dan Rusia. China menilai sanksi itu tidak memiliki dasar hukum internasional, sedangkan Rusia menyebutnya sebagai tekanan ilegal dan menolak sanksi sebagai alat untuk menekan negara lain.
Dengan adanya dukungan ekonomi dan politik dari negara-negara tersebut, pelaksanaan isolasi terhadap Iran berpotensi tidak berjalan mudah. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada respons negara-negara lain serta dampak sanksi dan eskalasi konflik terhadap pasar energi dunia.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment