Ukraina Gempur Wilayah Moskow dengan Senjata Jarak Jauh, Pelican Debut dalam Operasi Militer
Ukraina melancarkan serangan besar-besaran menggunakan sejumlah senjata jarak jauh ke wilayah Rusia pada Minggu (20/9). Dalam operasi tersebut, Ukraina untuk pertama kalinya dilaporkan menggunakan senjata bernama Pelican. Serangan itu menyasar fasilitas industri minyak dan logistik yang disebut menjadi bagian penting dari sumber daya pendukung mesin perang Rusia.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan serangan tersebut menimbulkan dampak signifikan. Namun, identitas dan jenis senjata Pelican masih belum jelas. Sejumlah laporan media mengaitkannya dengan rudal balistik taktis FP-7, sementara laporan lain menyebut Pelican kemungkinan merupakan drone berbentuk pesawat.
Serangan Ukraina Menargetkan Fasilitas Minyak dan Logistik
Zelenskyy menyatakan salah satu fasilitas utama industri minyak Rusia serta fasilitas logistik di wilayah Moskow telah dihantam. Menurut dia, fasilitas tersebut memiliki nilai miliaran dolar dan berperan dalam menopang kemampuan Rusia menjalankan operasi militernya.
“Salah satu fasilitas industri minyak utama Rusia dan fasilitas logistik agresor telah dihantam,” kata Zelenskyy.
Ia juga menyebut serangan tersebut menghantam sumber daya yang selama ini mendukung mesin perang Rusia. Dalam unggahan di platform X pada Minggu pagi, Zelenskyy menggambarkan dampak serangan sebagai sesuatu yang “sangat signifikan”.
Serangan berlangsung pada hari terakhir pemungutan suara dalam pemilihan parlemen Rusia. Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin mengatakan lebih dari 1.600 drone berhasil dicegat. Dari jumlah tersebut, sekitar 450 drone disebut mengarah ke Moskow. Serangan itu dilaporkan menewaskan tiga orang.
Pelican Pertama Kali Digunakan, Jenisnya Masih Diperdebatkan
Selain Pelican, Zelenskyy menyebut sejumlah sistem senjata lain yang digunakan dalam serangan tersebut. Daftar itu mencakup FP-1, RZ-100, MICH-2000, Palianytsia, Vendetta, Liutyi, Bars, Flamingo, dan Sichen.
Pelican menjadi perhatian karena senjata tersebut disebut baru pertama kali digunakan dalam operasi militer. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Ukraina mengenai apakah Pelican merupakan rudal balistik taktis atau drone.
Kebingungan tersebut muncul setelah Ukraina mengumumkan pengembangan rudal balistik taktis FP-7. CEO perusahaan pertahanan Fire Point, Iryna Terekh, sebelumnya mengatakan Ukraina dapat mulai menggunakan FP-7 untuk menyerang Rusia dalam beberapa pekan. Pernyataan itu disampaikan dalam Pameran Industri Pertahanan Internasional ke-34 di Polandia, seperti dilaporkan The Kyiv Post.
Spekulasi Kaitan Pelican dengan Rudal FP-7
FP-7 disebut mampu menjangkau sasaran hingga 200 kilometer dan membawa hulu ledak dengan berat maksimal 150 kilogram. Rudal tersebut diluncurkan dari darat dan memiliki kecepatan maksimum sekitar 1.500 meter per detik.
Pendiri sekaligus kepala perancang Fire Point, Denys Shtilerman, menyatakan FP-7 memiliki biaya yang lebih rendah dibandingkan rudal balistik permukaan-ke-permukaan ATACMS buatan Amerika Serikat. Zelenskyy juga pernah mengatakan Ukraina memperkirakan dapat menggunakan rudal balistik pertama buatan dalam negeri paling cepat pada musim gugur.
The Kyiv Post kemudian mengaitkan FP-7 dengan nama Pelican. Meski demikian, belum ada pernyataan resmi yang memastikan kedua senjata tersebut merupakan sistem yang sama. New Voice of Ukraine melaporkan Fire Point telah mengajukan pendaftaran merek dagang Pelican pada awal tahun ini. Perusahaan itu juga memproduksi rudal jelajah FP-5 Flamingo.
Sementara itu, RBC-Ukraina, dengan mengutip sumber anonim, melaporkan bahwa Pelican sebenarnya merupakan drone berbentuk pesawat. Al Jazeera menyatakan belum dapat memverifikasi secara independen laporan media Ukraina terkait senjata tersebut.
Industri Senjata Ukraina Mengalami Peningkatan Produksi
Kementerian Pertahanan Ukraina pada Februari menyatakan industri senjata dalam negeri mengalami pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kapasitas produksi disebut meningkat 50 kali lipat hingga mencapai sekitar 50 miliar dolar AS.
Kementerian tersebut juga menyebut produsen dalam negeri kini mampu memenuhi lebih dari separuh kebutuhan Angkatan Pertahanan Ukraina terhadap senjata dan peralatan militer. Peningkatan kapasitas itu menjadi bagian dari upaya Ukraina mengembangkan sistem persenjataan sendiri.
Selain senjata untuk menyerang sasaran di wilayah Rusia, Ukraina mengembangkan teknologi untuk menghadapi serangan drone. Pada Sabtu (19/9), Zelenskyy mengatakan unit kontraintelijen militer di Dinas Keamanan Ukraina telah mengembangkan drone pencegat baru.
Menurut Zelenskyy, drone pencegat itu telah berhasil digunakan untuk menghadapi drone Shahed buatan Iran yang dipakai Rusia dalam perang. Pada Maret, mantan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Ukraina Oleksandr Syrskyi mengatakan lebih dari 70 persen drone serang Shahed telah dihancurkan menggunakan drone pencegat pada Februari.
Serangan Fasilitas Energi dan Kekhawatiran Dampak Ekonomi
Rusia dan Ukraina dalam beberapa waktu terakhir meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan logistik. Ukraina juga berulang kali menyerang gudang milik perusahaan e-commerce Rusia, Wildberries, sejak Juli. Serangan terhadap fasilitas tersebut dipandang sebagai upaya mengganggu rantai pasokan dan menimbulkan kerugian bagi perekonomian Rusia.
Serangan terbaru di wilayah Moskow turut berdampak pada fasilitas energi Rusia. Kebakaran dilaporkan terjadi di Kilang Minyak Moskow setelah serangan drone.
Di tengah meningkatnya serangan terhadap kilang minyak Rusia, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Zelenskyy menghentikan serangan tersebut. Berdasarkan laporan Financial Times pada Senin (21/9), Trump menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak serangan terhadap pasokan serta harga solar dunia dalam percakapannya dengan Zelenskyy pada Minggu.
Kesimpulan
Serangan Ukraina ke wilayah Rusia menunjukkan penggunaan senjata jarak jauh dan drone dalam skala besar, dengan fasilitas minyak serta logistik menjadi sasaran utama. Kemunculan Pelican menambah perhatian terhadap perkembangan persenjataan buatan Ukraina, meskipun jenis dan keterkaitannya dengan FP-7 belum terkonfirmasi secara resmi.
Di sisi lain, peningkatan produksi senjata dalam negeri dan pengembangan drone pencegat memperlihatkan upaya Ukraina memperkuat kemampuan militernya. Serangan terhadap fasilitas energi dan logistik juga berpotensi terus menjadi bagian dari strategi kedua pihak, sementara dampaknya terhadap rantai pasokan serta harga energi global masih menjadi perhatian.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment