AS Siapkan Pasukan untuk Perang di Luar Angkasa hingga Wilayah Dekat Bulan

Amerika Serikat menyatakan pasukannya harus siap menghadapi kemungkinan perang di berbagai medan, termasuk luar angkasa dan wilayah sekitar Bulan. Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine dalam Konferensi Udara, Luar Angkasa, dan Siber pada Rabu (16/9).

Dalam forum yang dihadiri anggota militer serta pelaku industri pertahanan itu, Caine menegaskan bahwa militer AS perlu segera beradaptasi untuk menghadapi perubahan lingkungan keamanan. Menurutnya, kesiapan tersebut diperlukan agar pasukan Amerika mampu bertempur, bertahan, dan meraih kemenangan dari wilayah dasar laut hingga kawasan cislunar.

Militer AS Diminta Siap Menghadapi Konflik di Ruang Cislunar

Caine mengatakan militer AS harus mempersiapkan diri untuk beroperasi di seluruh wilayah yang berpotensi menjadi medan konflik. Ia menyebut kesiapan itu mencakup area dari dasar laut hingga ruang cislunar, yakni wilayah yang berada di antara permukaan Bumi dan Bulan.

“Militer AS harus beradaptasi sekarang untuk siap tempur, bertahan, dan menang, dari dasar laut hingga wilayah cislunar,” kata Caine, seperti dikutip dari The Guardian.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perhatian strategis militer AS tidak lagi hanya berfokus pada wilayah darat, laut, udara, dan orbit Bumi. Kawasan di sekitar Bulan juga mulai dipandang sebagai bagian dari ruang operasi yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan pertahanan.

Angkatan Luar Angkasa Bersiap Hadapi Potensi Konflik

Pernyataan senada disampaikan Kepala Komando Pasukan Tempur Angkatan Luar Angkasa AS, Jenderal Gregory Gagnon. Ia mengatakan pasukan Angkatan Luar Angkasa sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan pertempuran di luar angkasa dan sekitar Bulan.

Menurut Gagnon, perkembangan eksplorasi luar angkasa oleh umat manusia membuat kawasan tersebut semakin penting. Ia juga menyebut komunitas intelijen telah memperingatkan bahwa calon musuh berupaya memperluas peperangan ke luar angkasa.

“Komunitas intelijen telah menegaskan bahwa calon musuh berupaya memperluas peperangan ke luar angkasa,” ujar Gagnon.

Gagnon menambahkan bahwa tugas Angkatan Luar Angkasa adalah membantu mempersiapkan kemampuan untuk melindungi kepentingan AS. Ia menyebut China sebagai “musuh potensial yang aktif” dalam mengembangkan sistem di sejumlah bagian ruang angkasa.

China Tegaskan Komitmen terhadap Penggunaan Damai

China telah membentuk pasukan antariksa pada 2024. Pasukan tersebut memiliki tugas meningkatkan kemampuan dalam menangani krisis di ruang angkasa.

Namun, Beijing membantah adanya klaim bahwa pihaknya mendorong persenjataan di luar angkasa. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan China selalu menjunjung tinggi penggunaan ruang angkasa secara damai.

“Sekaligus menjaga ruang angkasa dan menentang persenjataan, militerisasi, dan perlombaan senjata di ruang angkasa,” kata Guo.

Pernyataan China tersebut disampaikan di tengah meningkatnya perhatian terhadap aktivitas militer di luar angkasa. Perbedaan pandangan antara Washington dan Beijing memperlihatkan adanya kekhawatiran mengenai arah pemanfaatan ruang angkasa pada masa mendatang.

AS Disebut Telah Mengerahkan Senjata Kendali Ruang Angkasa

Pengumuman mengenai kesiapan militer AS untuk bertempur di wilayah antara orbit tinggi Bumi dan Bulan muncul beberapa hari setelah Sekretaris Angkatan Udara AS Troy Meink mengungkapkan bahwa Washington telah mengerahkan “senjata kendali ruang angkasa di orbit”.

Rangkaian pernyataan tersebut memicu perhatian karena disampaikan oleh sejumlah pejabat militer AS dalam waktu berdekatan. Pengumuman itu dinilai bertentangan dengan konvensi serta pemahaman internasional yang telah lama berlaku, yang menempatkan luar angkasa sebagai wilayah untuk tujuan damai dan tidak dimiliterisasi.

Potensi Perlombaan Senjata di Luar Angkasa

Angkatan Luar Angkasa AS beralasan bahwa pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh potensial dapat berupaya menjadikan ruang angkasa sebagai medan pertempuran. Karena itu, militer AS menilai persiapan untuk menghadapi konflik di luar angkasa merupakan bagian dari upaya membela kepentingan nasional.

Di sisi lain, penekanan terhadap kesiapan tempur hingga wilayah sekitar Bulan berpotensi meningkatkan kekhawatiran mengenai militerisasi ruang angkasa. Perkembangan ini juga dapat memperbesar perdebatan antara kebutuhan pertahanan suatu negara dan komitmen internasional untuk menjaga luar angkasa tetap digunakan secara damai.

Kesimpulan

AS kini memperluas cakupan kesiapan militernya hingga luar angkasa dan wilayah cislunar. Jenderal Dan Caine dan Gregory Gagnon menilai pasukan AS perlu siap menghadapi kemungkinan konflik di kawasan tersebut, sementara China menegaskan sikapnya yang mendukung penggunaan ruang angkasa secara damai.

Ke depan, pernyataan dan langkah militer dari negara-negara besar akan terus menjadi perhatian karena dapat memengaruhi stabilitas serta pemahaman internasional mengenai penggunaan luar angkasa. Persiapan pertahanan yang dilakukan AS juga berpotensi memicu perdebatan lebih luas mengenai risiko persenjataan dan perlombaan militer di luar angkasa.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment