BMKG Prediksi Hujan Lokal di Sejumlah Wilayah Indonesia pada Sabtu 19 September 2026

Sejumlah dinamika atmosfer diprediksi memengaruhi pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah Indonesia pada Sabtu, 19 September 2026. Meskipun kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi secara lokal.

Potensi hujan tersebut dipengaruhi oleh beberapa fenomena atmosfer, mulai dari aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin hingga terbentuknya sirkulasi siklonik di Laut Cina Selatan. Faktor-faktor tersebut dapat mendukung proses pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah.

Hujan Lebat Masih Terjadi Secara Lokal

BMKG menjelaskan, hujan lebat masih tercatat di sejumlah daerah meski periode kering tengah mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Pada periode 14-16 September 2026, hujan lebat tercatat di beberapa wilayah, termasuk Aceh dengan intensitas mencapai 138,0 milimeter per hari.

Kondisi serupa berpotensi kembali terjadi dalam sepekan ke depan. Hal ini disebabkan masih adanya sejumlah faktor atmosfer yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah terdampak.

Wilayah yang Berpotensi Mengalami Hujan

Berdasarkan prakiraan BMKG, hujan masih berpotensi terjadi pada periode 18-24 September 2026. Wilayah yang diperkirakan terdampak meliputi Sumatra bagian utara hingga tengah, Kalimantan bagian utara hingga tengah, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Papua Pegunungan, serta Papua.

Selain itu, BMKG memprakirakan hujan dengan akumulasi lebih dari 150 milimeter per dasarian terdapat di pesisir barat Aceh dan pesisir barat Sumatera Utara. Potensi tersebut diperkirakan terjadi pada Dasarian I dan II Oktober 2026.

Prakiraan ini menunjukkan bahwa hujan masih dapat muncul di sejumlah wilayah meskipun pola cuaca kering tetap mendominasi sebagian besar kawasan Indonesia. Hujan diperkirakan bersifat lokal dan dipengaruhi oleh kondisi atmosfer di masing-masing wilayah.

Fenomena Atmosfer yang Memengaruhi Pertumbuhan Awan

Aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial

Salah satu faktor yang memengaruhi potensi hujan adalah aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial. Fenomena ini diprediksi aktif di Kalimantan Utara dan Kalimantan Barat. Aktivitas gelombang tersebut dapat mendukung proses pembentukan awan hujan di wilayah yang terdampak.

Pengaruh Gelombang Kelvin

Selain Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin juga diprediksi aktif di sejumlah wilayah. Area yang dipengaruhi meliputi Kalimantan bagian timur, pesisir utara Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, serta Papua bagian barat dan utara.

Aktivitas Gelombang Kelvin turut memberikan dukungan terhadap pembentukan awan hujan. Dengan adanya fenomena tersebut, peluang terjadinya hujan di wilayah-wilayah yang disebutkan dapat meningkat.

Sirkulasi Siklonik di Laut Cina Selatan

BMKG juga memprediksi terbentuknya sirkulasi siklonik di Laut Cina Selatan. Sirkulasi tersebut dapat menyebabkan terbentuknya daerah perlambatan dan pertemuan angin yang memanjang di sejumlah wilayah.

Kondisi itu kemudian diperkuat oleh labilitas lokal yang kuat. Menurut BMKG, keadaan tersebut membuat proses pengangkatan massa udara berlangsung cukup optimal. Akibatnya, potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah yang terdampak menjadi lebih besar.

Daftar Wilayah dan Potensi Angin Kencang

Informasi yang tersedia menyebutkan bahwa BMKG telah menyiapkan daftar daerah yang berpotensi mengalami hujan pada Sabtu, 19 September 2026, serta daftar daerah yang berpotensi dilanda angin kencang. Namun, rincian nama daerah dalam kedua daftar tersebut tidak tercantum dalam materi informasi yang tersedia.

Kesimpulan

BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi secara lokal di sejumlah wilayah Indonesia pada Sabtu, 19 September 2026. Potensi tersebut mencakup Sumatra bagian utara hingga tengah, Kalimantan bagian utara hingga tengah, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Papua Pegunungan, dan Papua.

Aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, sirkulasi siklonik, serta labilitas lokal menjadi sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan awan hujan. Dalam beberapa hari hingga sepekan ke depan, masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak perlu mencermati informasi dan pembaruan prakiraan cuaca dari BMKG.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment