TNBTS Mulai Hitung Kerugian Karhutla Bromo, Ribuan Wisatawan Ajukan Refund Tiket

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) mulai menghitung total kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Bromo. Penghitungan tersebut mencakup berbagai dampak yang ditimbulkan, mulai dari kerugian lingkungan hingga dampak ekonomi.

Proses kalkulasi dilakukan setelah upaya pemadaman api dan identifikasi lokasi terdampak menjadi prioritas utama. Di sisi lain, penutupan seluruh akses wisata akibat kebakaran membuat ribuan calon pengunjung mengajukan pengembalian uang tiket atau refund. Sebagian wisatawan lainnya memilih menjadwalkan ulang kunjungan mereka.

Kerugian Lingkungan dan Ekonomi Mulai Dihitung

Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, proses penghitungan kerugian masih berlangsung. Menurutnya, terdapat banyak komponen yang harus diperhitungkan agar nilai kerugian yang dihasilkan dapat menggambarkan dampak karhutla secara menyeluruh.

Komponen tersebut meliputi kerugian terhadap lingkungan serta dampak ekonomi yang muncul akibat kebakaran dan penutupan kawasan wisata. Namun, hingga saat ini, total kerugian belum dapat disampaikan karena proses pendataan masih dilakukan oleh staf BB TNBTS.

“Saat ini staf kami sedang menghitung karena komponennya banyak, ada kerugian lingkungan sampai dengan ekonomi,” kata Rudijanta, Selasa (18/8).

Ia menjelaskan bahwa penghitungan baru dapat dilakukan setelah petugas menyelesaikan sejumlah pekerjaan utama di lapangan. Sebelumnya, BB TNBTS bersama tim gabungan memprioritaskan pemadaman api. Petugas juga perlu mengidentifikasi titik-titik kawasan yang terdampak kebakaran.

Rudijanta mengakui proses tersebut tidak mudah. Karena itu, pihaknya masih membutuhkan waktu untuk menghimpun data sebelum hasil penghitungan kerugian diumumkan.

Biaya Pemadaman Masih Menunggu Rekapitulasi

Selain kerugian lingkungan dan ekonomi, BB TNBTS juga belum dapat merinci biaya operasional yang dikeluarkan selama proses pemadaman karhutla. Data tersebut masih dikumpulkan dari berbagai instansi yang terlibat dalam penanganan kebakaran.

Penanganan karhutla di kawasan Bromo dilakukan secara bersama-sama. Selain BB TNBTS, terdapat unsur TNI, Polri, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang ikut terlibat di lapangan. Laporan dari seluruh pihak tersebut belum disatukan sehingga jumlah keseluruhan biaya pemadaman belum diketahui.

“Karena tidak kami sendiri, tetapi ada TNI, Polri, sampai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Oleh karena itu, semua laporan belum disatukan sehingga besarannya belum diketahui,” ujar Rudijanta.

Ribuan Wisatawan Mengajukan Refund Tiket

Penutupan total akses wisata ke kawasan TNBTS turut berdampak pada rencana kunjungan wisatawan. Sebagai tindak lanjut, pengelola menyediakan dua pilihan bagi calon pengunjung, yakni pengembalian uang tiket atau refund dan penjadwalan ulang kunjungan atau reschedule.

Berdasarkan data BB TNBTS, sebanyak 3.125 wisatawan nusantara telah mengajukan refund tiket. Sementara itu, jumlah wisatawan mancanegara yang mengajukan pengembalian uang mencapai 320 orang.

Adapun pilihan reschedule diajukan oleh 82 wisatawan nusantara. Untuk wisatawan mancanegara, tidak ada pengunjung yang tercatat memilih opsi penjadwalan ulang kunjungan.

Kronologi Kebakaran di Kawasan Bromo

Kebakaran di kawasan Bromo pertama kali terdeteksi pada Senin (3/8) sekitar pukul 17.00 WIB. Seiring meluasnya sebaran titik api, pengelola mengambil keputusan untuk menutup seluruh pintu masuk kawasan wisata.

Penutupan total akses tersebut mulai diberlakukan pada Sabtu (8/8) malam. Kebijakan itu berdampak pada aktivitas kunjungan wisatawan sekaligus mendorong pengelola menyediakan mekanisme refund dan reschedule tiket.

Kondisi karhutla dilaporkan mulai mereda pada Jumat (14/8). Meski demikian, estimasi luas lahan yang terdampak kebakaran mencapai 1.120,3 hektare.

Kesimpulan

BB TNBTS masih melakukan penghitungan total kerugian akibat karhutla di kawasan Gunung Bromo. Nilai kerugian tersebut akan mencakup dampak lingkungan, ekonomi, serta biaya operasional pemadaman yang melibatkan sejumlah instansi.

Di tengah proses pendataan, ribuan wisatawan telah mengajukan refund tiket setelah akses wisata ditutup. Sebagian lainnya memilih menjadwalkan ulang kunjungan. Ke depan, hasil penghitungan kerugian dan rekapitulasi biaya pemadaman diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai dampak kebakaran terhadap kawasan konservasi dan aktivitas wisata di TNBTS.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment