LG Energy Alihkan Lima Pabrik di Amerika Utara untuk Produksi Baterai ESS

LG Energy Solution, produsen baterai asal Korea Selatan, mulai mengalihkan sebagian kapasitas produksinya di Amerika Utara dari baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) ke baterai penyimpan energi atau energy storage system (ESS). Keputusan ini diambil seiring meningkatnya permintaan terhadap baterai berukuran besar yang digunakan untuk menyimpan energi, terutama akibat pesatnya pembangunan pusat data kecerdasan buatan atau AI data centers.

Perubahan strategi tersebut dilakukan setelah industri baterai dan otomotif sebelumnya menginvestasikan dana hingga puluhan miliar dolar untuk membangun fasilitas produksi kendaraan listrik. Investasi itu disiapkan dengan asumsi bahwa pasar EV akan mengalami pertumbuhan besar. Namun, perkembangan pasar kendaraan listrik belum sesuai dengan perkiraan awal sehingga sejumlah produsen perlu mencari pemanfaatan baru bagi kapasitas pabrik yang tersedia.

LG Energy Fokus pada Pertumbuhan Pasar ESS

Presiden LG Energy Solution wilayah Amerika Utara, Robert Lee, mengatakan perusahaan kini melihat peluang besar pada sektor ESS. Menurut dia, pertumbuhan kebutuhan baterai penyimpan energi meningkat dengan cepat dan sebelumnya berada di luar perkiraan perusahaan.

LG Energy Solution, yang disebut sebagai produsen baterai terbesar di Amerika Utara berdasarkan jumlah sel yang dihasilkan, menargetkan lima dari delapan pabriknya di kawasan tersebut memproduksi baterai ESS paling lambat pada akhir tahun ini. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk menyesuaikan kapasitas manufaktur dengan perubahan permintaan di pasar.

Permintaan baterai berukuran besar turut didorong oleh masifnya pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan. Fasilitas tersebut membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar, sehingga baterai penyimpan energi menjadi salah satu komponen penting untuk mendukung kebutuhan operasionalnya.

Pabrik Lansing Pasok Baterai untuk Tesla dan Toyota

Pengumuman mengenai perubahan arah produksi itu disampaikan Robert Lee dalam acara peresmian pabrik LG Energy di Lansing, Michigan, pada Selasa (18/8). Fasilitas tersebut memproduksi sel baterai untuk Tesla, perusahaan yang saat ini berada di posisi terdepan dalam pasar ESS.

Selain memasok baterai untuk Tesla, pabrik Lansing juga memproduksi baterai kendaraan listrik untuk Toyota Motor Corp. Dengan adanya peralihan ke ESS, fasilitas itu berpotensi memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan baterai penyimpanan energi di Amerika Utara.

Meski demikian, perubahan dari produksi baterai kendaraan listrik ke baterai ESS tidak dapat dilakukan secara sederhana. LG Energy perlu menyesuaikan proses manufaktur sekaligus mengembangkan formula kimia yang sebelumnya belum banyak digunakan perusahaan tersebut.

LG Energy Mulai Menggunakan Teknologi Baterai LFP

Salah satu tantangan utama dalam peralihan tersebut adalah penggunaan lithium iron phosphate atau LFP. Teknologi ini selama ini lebih banyak dikuasai oleh produsen baterai asal China. LG Energy Solution sendiri dikenal memiliki keahlian pada baterai berbasis nikel.

Baterai LFP sebenarnya dapat digunakan untuk kendaraan listrik. Namun, jenis baterai ini memiliki kepadatan energi yang lebih rendah dibandingkan baterai berbasis nikel. Akibatnya, kendaraan yang menggunakan baterai LFP cenderung memiliki jarak tempuh yang lebih pendek.

Di sisi lain, baterai LFP memiliki keunggulan dari aspek keamanan dan daya tahan. Karakteristik tersebut membuatnya dinilai sesuai untuk menyimpan pasokan energi dalam skala besar, termasuk energi yang berasal dari pembangkit listrik.

Permintaan ESS Belum Menutup Kelebihan Kapasitas Pabrik

Peralihan menuju sektor ESS dinilai menjadi langkah yang tepat bagi produsen baterai dan pabrikan otomotif yang telah membangun fasilitas produksi dalam skala besar. Namun, pertumbuhan pasar penyimpanan energi diperkirakan belum sepenuhnya mampu menyerap seluruh kapasitas pabrik yang sebelumnya disiapkan untuk kendaraan listrik.

Berdasarkan laporan konsultan Benchmark Mineral Intelligence, permintaan baterai stasioner di Amerika Utara diperkirakan mencapai 76 gigawatt-jam atau GWh pada tahun ini. Angka tersebut diproyeksikan meningkat hampir dua kali lipat dalam lima tahun mendatang, yakni menjadi 125 GWh.

Meski pertumbuhan itu cukup signifikan, Benchmark memperkirakan permintaan baterai stasioner tetap belum memadai untuk menutup kelebihan kapasitas dari pabrik-pabrik yang dibangun demi mengantisipasi ledakan pasar kendaraan listrik.

Produksi Baterai Kendaraan Listrik Tetap Berjalan

LG Energy Solution tidak sepenuhnya meninggalkan sektor kendaraan listrik. Perusahaan tetap mempertahankan produksi baterai EV berbasis nikel. Salah satu fasilitas yang kembali menjalankan produksi adalah pabrik hasil kerja sama dengan General Motors di timur laut Ohio.

Pabrik tersebut kembali mengaktifkan produksi sel baterai untuk kendaraan listrik GM pada pekan ini, setelah sebelumnya berhenti beroperasi selama tujuh bulan. Langkah itu menunjukkan bahwa LG Energy masih melihat prospek jangka panjang pada pasar kendaraan listrik, meskipun saat ini perusahaan juga perlu menyesuaikan diri dengan meningkatnya permintaan ESS.

Kesimpulan

Pengalihan sebagian pabrik LG Energy Solution ke produksi baterai ESS mencerminkan perubahan arah pasar baterai di Amerika Utara. Peningkatan pembangunan pusat data AI mendorong kebutuhan terhadap baterai penyimpan energi berukuran besar, sementara pertumbuhan kendaraan listrik belum mencapai perkiraan sebelumnya.

Meski permintaan ESS diprediksi meningkat hingga 125 GWh dalam lima tahun ke depan, kapasitas tersebut belum tentu mampu menyerap seluruh kelebihan produksi dari fasilitas baterai EV. LG Energy pun memilih strategi ganda dengan mengembangkan baterai ESS sekaligus mempertahankan produksi baterai kendaraan listrik berbasis nikel.

Robert Lee meyakini kendaraan listrik akan kembali mengalami kebangkitan dan pada akhirnya mendominasi mayoritas kendaraan di Amerika Serikat. Dengan demikian, peralihan ke ESS saat ini dapat dipandang sebagai penyesuaian sementara terhadap kondisi pasar, sembari menunggu pertumbuhan kendaraan listrik kembali menguat.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment