Kemlu Jepang Dikecam karena Simulasi Anti-Terorisme Gunakan Atribut Mirip Keffiyeh

Kementerian Luar Negeri Jepang mendapat kecaman setelah mengunggah foto simulasi anti-terorisme yang menampilkan pemeran teroris dengan atribut menyerupai keffiyeh Arab. Unggahan tersebut dinilai memperkuat stereotip yang mengaitkan masyarakat Arab atau Muslim dengan aksi terorisme.

Foto-foto latihan itu diunggah oleh Kemlu Jepang pada 10 September. Dalam salah satu gambar, seseorang yang berperan sebagai teroris tampak mengenakan kain serupa keffiyeh di kepala. Ia juga terlihat memasukkan kepala pemeran korban sandera ke dalam sebuah tas. Penggambaran tersebut kemudian memicu reaksi keras dari pengguna media sosial.

Simulasi Anti-Terorisme Jepang Tuai Kritik

Dilansir dari Independent, kritik terhadap unggahan Kemlu Jepang terutama berkaitan dengan penggunaan atribut yang dianggap merepresentasikan identitas Arab atau Muslim. Warganet menilai pemilihan kostum tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari simulasi, tetapi juga dapat memperkuat prasangka terhadap kelompok tertentu.

Salah satu pengguna media sosial menyebut tindakan mendandani pemeran teroris dengan pakaian yang mengingatkan pada wilayah tertentu sebagai bentuk diskriminasi. Ia juga menuntut agar Kemlu Jepang menyampaikan permintaan maaf dan menghapus foto-foto tersebut.

Pengguna lain mempertanyakan tujuan kementerian mengunggah simulasi dengan tampilan semacam itu. Ia menilai penggunaan atribut tersebut berpotensi memicu rasisme dan mempertanyakan kualitas pengambilan keputusan di lingkungan Kemlu Jepang.

Penggambaran Dinilai Tidak Pantas

Kecaman juga datang dari pengguna media sosial lain yang menyebut kostum dalam simulasi tersebut sangat tidak pantas dan menyinggung. Menurutnya, penggambaran teroris dengan atribut yang diasosiasikan dengan kelompok atau kawasan tertentu mencerminkan prasangka serta sikap xenofobia.

Perdebatan itu menunjukkan bahwa materi edukasi mengenai keamanan tidak hanya dinilai dari tujuan latihan, tetapi juga dari cara pesan tersebut disampaikan. Penggunaan simbol atau pakaian yang berkaitan dengan identitas agama dan wilayah dapat menimbulkan persepsi berbeda, terutama ketika ditampilkan dalam konteks terorisme.

Kemlu Jepang Hapus Foto dan Berikan Klarifikasi

Setelah gelombang kecaman muncul, Kemlu Jepang menghapus foto-foto latihan anti-terorisme tersebut. Pemerintah Jepang kemudian menyampaikan klarifikasi bahwa kostum yang dikenakan pemeran teroris tidak didasarkan pada kelompok etnis, wilayah, maupun agama tertentu.

Kemlu Jepang juga menyiratkan penyesalan atas kesalahpahaman yang timbul akibat unggahan itu. Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi mengatakan bahwa kementeriannya menanggapi berbagai pendapat yang disampaikan publik dengan serius. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers pada Jumat, 18 September.

Meski demikian, penghapusan foto tidak serta-merta menghentikan kritik. Insiden tersebut tetap menjadi sorotan karena menyangkut representasi kelompok tertentu dalam materi yang dibuat oleh lembaga pemerintah. Klarifikasi Kemlu Jepang diharapkan dapat menjelaskan bahwa latihan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengaitkan terorisme dengan identitas agama atau etnis tertentu.

Latar Belakang Latihan Anti-Terorisme

Kemlu Jepang menjelaskan bahwa simulasi tersebut dilakukan seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya edukasi anti-terorisme bagi warga Jepang yang bepergian atau tinggal di luar negeri. Latihan itu digelar di sebuah fasilitas pemerintah di Tokyo dan dilaksanakan oleh perusahaan keamanan.

Perusahaan keamanan yang terlibat menyatakan bahwa simulasi dirancang agar berlangsung serealistis mungkin. Skenario latihan tersebut mengambil pelajaran dari serangan teroris di Dhaka, Bangladesh, pada Juli 2016.

Dalam serangan itu, militan Islam mengepung kafe Holey Artisan di ibu kota Bangladesh selama 12 jam. Sebanyak 22 orang meninggal dunia, termasuk tujuh warga negara Jepang. Peristiwa tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya pembekalan keamanan bagi warga Jepang yang berada di luar negeri.

Latihan anti-terorisme di Jepang sendiri telah dilakukan sejak 2018. Melalui simulasi semacam ini, pemerintah berupaya meningkatkan kesiapan menghadapi situasi darurat. Namun, kontroversi terbaru memperlihatkan bahwa materi latihan juga perlu memperhatikan aspek representasi, sensitivitas budaya, serta dampaknya terhadap kelompok masyarakat tertentu.

Kesimpulan

Kecaman terhadap Kemlu Jepang bermula dari penggunaan atribut mirip keffiyeh dalam simulasi anti-terorisme. Publik menilai tampilan tersebut berisiko memperkuat stereotip terhadap orang Arab dan Muslim. Kemlu Jepang kemudian menghapus foto yang dipersoalkan dan menyatakan bahwa kostum tersebut tidak merujuk pada etnis, wilayah, atau agama tertentu.

Ke depan, penyelenggaraan latihan keamanan diharapkan tetap mampu memberikan edukasi yang praktis tanpa menggunakan simbol yang dapat menimbulkan prasangka. Insiden ini menjadi pengingat bahwa komunikasi publik, termasuk materi simulasi pemerintah, perlu disusun secara hati-hati agar tujuan edukasi tidak menimbulkan kesalahpahaman atau memperkuat diskriminasi.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment