Tembakau Menjadi Komoditas Alternatif Petani Wonogiri Saat Musim Kemarau
Musim kemarau kerap menjadi tantangan bagi petani di Wonogiri, Jawa Tengah. Keterbatasan pasokan air membuat sebagian lahan pertanian berisiko tidak produktif hingga musim hujan kembali tiba. Dalam kondisi tersebut, petani membutuhkan komoditas alternatif yang mampu tumbuh dengan kebutuhan air terbatas sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi keluarga.
Tembakau menjadi salah satu pilihan yang dikembangkan sejumlah petani di Wonogiri. Tanaman ini dinilai sesuai untuk mengisi lahan pada musim kemarau karena tidak membutuhkan banyak air. Selain menjaga lahan tetap produktif, budidaya tembakau juga membuka peluang peningkatan pendapatan bagi petani dan masyarakat yang terlibat dalam kegiatan pertanian.
Kemitraan Mendukung Budidaya Tembakau di Wonogiri
Peluang tersebut diperkuat melalui kemitraan antara PT HM Sampoerna Tbk. dan petani tembakau melalui perusahaan pemasok. Kemitraan ini menjadi salah satu bentuk komitmen pemberdayaan masyarakat di dalam rantai nilai pertanian.
Hingga kini, Sampoerna telah mendampingi lebih dari 22.500 petani tembakau dan cengkih. Pendampingan dilakukan dengan menerapkan standar pertanian yang baik sejak tahap penanaman hingga panen. Melalui program tersebut, petani memperoleh pengetahuan teknis, dukungan untuk meningkatkan produktivitas, serta kesempatan mengembangkan usaha tani secara berkelanjutan.
Menerapkan Praktik Pertanian yang Baik
Program pendampingan mencakup Praktik Pertanian yang Baik atau Good Agricultural Practices (GAP). Praktik ini membantu petani memahami teknik budidaya tembakau secara lebih terarah, mulai dari pembibitan, pengelolaan lahan, pemupukan, penggunaan air secara efisien, hingga penanganan pascapanen.
Penerapan GAP membuat petani memahami bahwa setiap tahapan budidaya dapat memengaruhi kualitas dan produktivitas hasil panen. Pemilihan benih, penentuan waktu tanam, perawatan bibit, serta pemupukan yang tepat menjadi bagian penting dalam menghasilkan tembakau dengan kualitas yang lebih baik.
Selain itu, peningkatan produktivitas turut didukung melalui modernisasi peralatan pertanian. Salah satunya melalui distribusi alat panen padi yang tidak hanya digunakan untuk memotong padi, tetapi juga membantu menggemburkan tanah sebagai persiapan penanaman komoditas pertanian lainnya.
Mendorong Praktik Ketenagakerjaan yang Bertanggung Jawab
Pendampingan juga mengacu pada Kode Praktik Pekerja Pertanian atau Agricultural Labor Practices (ALP). Kode tersebut mendorong penerapan praktik ketenagakerjaan yang bertanggung jawab di tingkat usaha tani.
Aspek yang diperhatikan antara lain kesehatan dan keselamatan kerja, pencegahan pekerja anak, serta penghormatan terhadap hak-hak pekerja pertanian. Dengan demikian, pengembangan usaha tani tidak hanya berfokus pada hasil panen, tetapi juga pada terciptanya lingkungan kerja yang lebih baik.
Kisah Katino Mengembangkan Usaha Tani Tembakau
Salah satu petani yang merasakan manfaat kemitraan tersebut adalah Katino, 46 tahun, warga Eromoko, Wonogiri. Perjalanannya menjadi petani tembakau bermula ketika ia melihat seorang petani berusia sekitar 70 tahun selesai menjual hasil panen di sebuah gudang.
Saat itu, Katino masih bekerja sebagai sopir truk. Pemandangan tersebut menginspirasinya untuk melihat pertanian sebagai peluang membangun kehidupan yang lebih baik. Dengan tekad dan kemauan belajar, ia mulai menekuni budidaya tembakau secara serius pada 2019.
Awalnya, Katino belajar dari petani lain. Setelah itu, ia memperoleh pendampingan dari Sampoerna melalui salah satu perusahaan pemasoknya. Pendampingan diberikan sejak proses pembibitan, penyebaran benih, perawatan bibit, pemupukan dasar, hingga penyiraman.
“Dengan adanya pendamping lapangan, kita yang awalnya dari awal tidak tahu apa-apa, sekarang jadi tahu,” tutur Katino.
Bagi Katino, pendampingan tersebut tidak hanya meningkatkan pengetahuan teknis, tetapi juga mengubah cara pandangnya dalam mengelola lahan. Ia memahami bahwa pemilihan benih, waktu tanam, serta pemupukan yang tepat dapat memengaruhi kualitas dan produktivitas tembakau.
Ketekunannya mulai membuahkan hasil sejak 2023. Kondisi ekonomi Katino berangsur membaik seiring peningkatan pendapatan. Ia kemudian mampu membeli sebidang lahan sawah baru dan terus mengembangkan usaha taninya.
Saat ini, Katino mengelola sekitar 9.000 meter persegi lahan di tiga lokasi, ditambah satu lahan sewa. Ia juga mempekerjakan beberapa buruh tani untuk mendukung pola tanam bergantian antara musim hujan dan musim kemarau.
Purwanto Mengembangkan Lahan Warisan Keluarga
Pengalaman serupa dirasakan Purwanto, 34 tahun, petani tembakau di Wonogiri. Sebelum kembali ke kampung halaman, Purwanto sempat merantau ke Jakarta dan bekerja di perusahaan swasta. Ia kemudian memutuskan pulang untuk menemani kedua orangtuanya sekaligus mengolah lahan warisan keluarga.
Purwanto mulai mengenal budidaya tembakau ketika pulang pada musim kemarau. Melihat tetangga menanam tembakau, ia ikut belajar dan mencoba menanam dalam skala kecil. Dari pengalaman tersebut, ia kemudian menjalin kemitraan dengan Sampoerna melalui perusahaan pemasoknya.
Menurut Purwanto, pendampingan mencakup seluruh tahapan budidaya, mulai dari pembibitan dan penanaman hingga proses pascapanen. Penyuluhan serta bimbingan teknis membuat proses budidaya menjadi lebih terarah.
“Kita dapat penyuluhan, bimbingan teknis, dan pendampingan untuk penanamannya. Mulai dari pembibitan, penanaman, bahkan sampai pascapanen pun kita masih didampingi oleh petugas lapangan,” kata Purwanto.
Melalui pendampingan tersebut, Purwanto tidak lagi hanya mengandalkan pengalaman turun-temurun. Ia juga menerapkan praktik budidaya yang direkomendasikan dalam program kemitraan. Pendekatan ini membantunya menjaga kualitas tanaman sejak awal hingga panen sehingga hasil yang diperoleh menjadi lebih konsisten dan memiliki nilai ekonomi lebih baik.
Kemitraan Tembakau Mendorong Kesejahteraan Petani
Bagi Purwanto, hasil penjualan tembakau memberikan ruang untuk mengatur keuangan keluarga dengan lebih baik. Sebagian pendapatan dapat disisihkan sebagai modal musim tanam berikutnya, termasuk untuk kebutuhan pupuk, padi, dan tembakau.
Dampak ekonomi juga terlihat dari kondisi rumah orangtuanya yang semula berdinding kayu seadanya. Berkat ketekunan mengelola usaha tani, rumah tersebut kini menjadi rumah tembok yang lebih layak huni.
Manfaat budidaya tembakau turut dirasakan keluarga lain di Wonogiri. Menurut Purwanto, sebagian warga menggunakan hasil panen untuk membeli kendaraan yang kemudian dimanfaatkan sebagai mobil sewaan atau jasa angkutan barang. Kondisi tersebut menunjukkan adanya perputaran ekonomi yang lebih luas di lingkungan masyarakat.
Kemitraan tembakau juga mendorong sebagian warga untuk tetap tinggal dan mengembangkan usaha di kampung halaman. Peluang ekonomi dari sektor pertanian membuat mereka memiliki pilihan untuk membangun kehidupan tanpa harus selalu mencari pekerjaan di daerah lain.
Kesimpulan
Tembakau menjadi salah satu komoditas alternatif yang membantu petani Wonogiri menghadapi musim kemarau. Karakternya yang tidak membutuhkan banyak air memungkinkan lahan tetap produktif ketika pasokan air terbatas.
Kisah Katino dan Purwanto menunjukkan bahwa pendampingan, penerapan praktik pertanian yang baik, serta pola tanam bergantian dapat mendukung peningkatan kapasitas dan kesejahteraan petani. Ke depan, pengelolaan lahan secara berkelanjutan diharapkan terus membuka peluang ekonomi bagi petani, menjaga produktivitas pertanian, dan menggerakkan perekonomian masyarakat Wonogiri.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment