Kontrasepsi di Indonesia Masih Didominasi Perempuan, Partisipasi Pria Baru 3,3 Persen

Penggunaan kontrasepsi di Indonesia masih menunjukkan ketimpangan partisipasi antara perempuan dan laki-laki. Berdasarkan Pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK) 2025, sebanyak 96,7 persen peserta keluarga berencana (KB) merupakan perempuan. Sementara itu, partisipasi laki-laki dalam penggunaan kontrasepsi baru mencapai sekitar 3,3 persen.

Direktur Bina Akses Pelayanan KB Kemendukbangga/BKKBN, dr. Fajar Firdawati, menyebut kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Dalam survei tersebut, peserta KB perempuan mencapai sekitar 95,3 persen, sedangkan laki-laki berada di angka 4,7 persen.

Partisipasi Perempuan dalam Program KB Masih Dominan

Fajar menjelaskan, dominasi perempuan dalam penggunaan kontrasepsi antara lain dipengaruhi oleh pilihan metode yang lebih beragam bagi perempuan dibandingkan laki-laki. Pernyataan itu disampaikan dalam acara advokasi strategis PJPK di Jakarta, Rabu (23/9).

Menurutnya, masih terdapat anggapan di masyarakat bahwa kontrasepsi merupakan urusan perempuan. Padahal, keputusan mengenai penggunaan alat kontrasepsi semestinya menjadi pembahasan bersama antara suami dan istri.

“Memang masih sangat didominasi oleh perempuan. Selain karena jenis pilihan untuk perempuan jauh lebih banyak daripada laki-laki,” kata Fajar.

Ia menekankan pentingnya meningkatkan pemahaman pasangan mengenai perencanaan keluarga. Keputusan terkait metode kontrasepsi, menurutnya, perlu diambil secara bersama agar menjadi tanggung jawab kedua pihak dalam keluarga.

“Jadi pemahaman pasangan suami istri yang perlu kita tingkatkan kembali. Keluarga ini harus memutuskan bersama,” ujarnya.

Suntik KB Menjadi Metode yang Paling Banyak Digunakan

Data PK 2025 juga memperlihatkan bahwa suntik KB merupakan metode kontrasepsi yang paling banyak digunakan di Indonesia. Proporsi pengguna metode ini mencapai 56,74 persen dari seluruh peserta KB.

Setelah suntik KB, metode kontrasepsi yang paling banyak digunakan adalah susuk atau implan KB. Pengguna implan tercatat sebesar 13,85 persen. Selanjutnya, pil KB digunakan oleh 11,49 persen peserta, sedangkan penggunaan IUD mencapai 9,88 persen.

Selain itu, metode operasi wanita atau MOW tercatat digunakan oleh 4,57 persen peserta KB. Adapun penggunaan kondom dalam data tersebut berada pada angka 0,13 persen.

Penggunaan Implan Mulai Meningkat

Fajar menyampaikan bahwa penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP), termasuk implan, mulai menunjukkan peningkatan di tengah masyarakat. Ia mengatakan, penggunaan implan yang sebelumnya berada di kisaran 3 persen kini telah mencapai sekitar 6 persen.

“Implan dulunya mungkin hanya sekitar 3 persen. Sekarang sudah sekitar 6 persen. Sudah mulai mau masyarakat kita menggunakan implan,” jelasnya.

Meningkatnya minat terhadap implan turut mendorong pemerintah menyesuaikan penyediaan kebutuhan metode tersebut. Penyesuaian itu dilakukan agar ketersediaan implan dapat mengikuti permintaan masyarakat.

Penggunaan Kontrasepsi oleh Laki-Laki Masih Rendah

Di sisi lain, partisipasi laki-laki dalam program KB masih berada di kisaran 3 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa penggunaan kontrasepsi oleh pria belum mengalami perubahan besar dibandingkan data sebelumnya.

Fajar menjelaskan, pilihan kontrasepsi untuk laki-laki saat ini masih lebih terbatas dibandingkan perempuan. Metode yang tersedia terutama kondom dan vasektomi atau metode operasi pria (MOP).

“Karena vasektomi sendiri, seperti kita ketahui, pilihan laki-laki itu hanya kondom dan vasektomi,” katanya.

Berdasarkan data yang disampaikan, penggunaan kondom jauh lebih banyak dibandingkan vasektomi. Sementara itu, vasektomi umumnya dipilih oleh laki-laki yang sudah benar-benar tidak ingin menambah jumlah anak.

Keputusan Kontrasepsi Perlu Dibicarakan Bersama

Data tersebut menunjukkan bahwa perempuan masih menjadi pihak yang paling banyak menggunakan kontrasepsi sekaligus memikul porsi terbesar dalam program KB. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan lebih banyaknya pilihan metode bagi perempuan, tetapi juga dengan pemahaman masyarakat mengenai tanggung jawab dalam perencanaan keluarga.

Ke depan, peningkatan pemahaman pasangan suami istri menjadi hal penting agar keputusan penggunaan kontrasepsi tidak hanya dibebankan kepada perempuan. Di saat yang sama, meningkatnya minat terhadap implan menjadi perhatian bagi pemerintah untuk memastikan kebutuhan metode tersebut dapat tersedia sesuai permintaan masyarakat.

Dengan pengambilan keputusan yang dilakukan bersama, program KB diharapkan dapat dipahami sebagai tanggung jawab pasangan. Partisipasi laki-laki juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan perencanaan keluarga yang diputuskan secara bersama-sama.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment