Saham BYAN Tembus ARA Naik 19,96 Persen Usai Rencana Pengalihan Saham ke Haji Isam
JAKARTA – Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) langsung menguat tajam pada pembukaan perdagangan Jumat (18/9). Kenaikan tersebut terjadi sehari setelah perseroan mengumumkan rencana pengalihan saham pengendali kepada PT Jhonlin Baratama, entitas yang dikendalikan oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.
Pada pukul 09.05 WIB, saham BYAN tercatat dibuka di level Rp13.825 per saham. Harga tersebut meningkat Rp2.300 atau 19,96 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp11.525 per saham.
Level Rp13.825 sekaligus menjadi batas atas atau Auto Rejection Atas (ARA) dan merupakan harga tertinggi saham BYAN pada perdagangan pagi tersebut. Penguatan ini menunjukkan respons positif pelaku pasar terhadap kabar rencana perubahan kepemilikan saham pengendali di perusahaan.
Saham BYAN Sempat Turun Sebelum Kembali ke Level ARA
Dalam pergerakannya, saham BYAN sempat mengalami penurunan ke level Rp13.100. Namun, tekanan tersebut tidak berlangsung lama karena saham kembali naik dan bertahan di level Rp13.825.
Hingga waktu pemantauan tersebut, nilai transaksi saham BYAN tercatat sekitar Rp51,07 miliar. Volume perdagangan mencapai 37,04 ribu lot, sedangkan harga rata-ratanya berada di level Rp13.789 per saham.
Antrean transaksi di pasar reguler juga memperlihatkan minat beli yang lebih besar dibandingkan minat jual. Tercatat sekitar 7.717 lot berada pada sisi bid di berbagai tingkat harga. Sementara itu, antrean jual pada level Rp13.825 mencapai 371 lot.
Rencana Pengalihan Saham Pengendali Bayan
Lonjakan saham BYAN terjadi setelah Bayan mengungkapkan rencana pengalihan saham pengendali kepada PT Jhonlin Baratama. Perusahaan tersebut merupakan entitas yang dikendalikan oleh Haji Isam.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Low Tuck Kwong bersama putrinya, Elaine Low, telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat atau Conditional Sale and Purchase of Shares Agreement dengan PT Jhonlin Baratama pada 16 September 2026.
Perjanjian tersebut mencakup rencana pengalihan sebanyak 10.000.000.500 saham biasa BYAN. Jumlah saham itu nantinya akan menjadi milik PT Jhonlin Baratama apabila seluruh proses transaksi telah diselesaikan dan seluruh persyaratan pendahuluan terpenuhi.
Transaksi Masih Menunggu Pemenuhan Persyaratan
Manajemen Bayan menegaskan bahwa transaksi tersebut belum sepenuhnya rampung. Penyelesaiannya masih bergantung pada pemenuhan sejumlah kondisi dan persyaratan pendahuluan yang telah ditetapkan dalam perjanjian.
“Berdasarkan surat-surat pemberitahuan yang kami terima, Bapak Low Tuck Kwong (Dato’ Dr. Low Tuck Kwong) dan Ibu Elaine Low telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat pada tanggal 16 September 2026 dengan PT Jhonlin Baratama (Pembeli) terkait rencana pengalihan 10.000.000.500 saham biasa Perseroan dan penyelesaian transaksi tunduk pada pemenuhan beberapa kondisi-kondisi pendahuluan,” tulis Manajemen Bayan dalam keterbukaan informasi BEI pada Kamis (17/9).
Dengan demikian, perubahan kepemilikan saham tersebut masih bersifat rencana hingga seluruh persyaratan yang tercantum dalam perjanjian dipenuhi. Setelah transaksi selesai, PT Jhonlin Baratama akan memiliki 10.000.000.500 saham biasa Bayan.
Haji Isam Dikabarkan Mengincar Sekitar 62 Persen Saham BYAN
Sebelumnya, Haji Isam dikabarkan mengincar kepemilikan sekitar 62 persen saham BYAN yang dimiliki oleh Low Tuck Kwong. Bloomberg News pada 9 September melaporkan bahwa salah satu entitas bisnis yang dikendalikan Haji Isam telah mengajukan penawaran akuisisi Bayan dengan nilai sekitar US$3 miliar.
Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp52,53 triliun apabila menggunakan asumsi kurs Rp17.510 per dolar AS. Namun, laporan mengenai nilai penawaran tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh Reuters.
Di sisi lain, manajemen Bayan memastikan bahwa penandatanganan perjanjian jual beli saham bersyarat tersebut tidak menimbulkan dampak negatif material terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan.
Kesimpulan
Pergerakan saham BYAN yang langsung menyentuh ARA mencerminkan kuatnya perhatian pasar terhadap rencana pengalihan saham pengendali kepada PT Jhonlin Baratama. Saham tersebut naik 19,96 persen ke level Rp13.825 pada awal perdagangan, disertai antrean beli yang lebih besar dibandingkan antrean jual.
Meski demikian, rencana transaksi belum final karena masih menunggu pemenuhan berbagai persyaratan pendahuluan. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada penyelesaian proses tersebut serta keterbukaan informasi dari Bayan mengenai status pengalihan saham. Manajemen perseroan juga telah menyatakan bahwa perjanjian tersebut tidak memberikan dampak negatif material terhadap operasional dan kelangsungan usaha perusahaan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment