Benarkah Memelihara Kucing Bisa Menyebabkan Keguguran? Ini Penjelasan Dokter
Memelihara kucing masih kerap dikaitkan dengan berbagai kekhawatiran seputar kehamilan. Sebagian orang percaya bahwa kucing dapat menyebabkan perempuan sulit hamil, mandul, hingga mengalami keguguran. Anggapan tersebut bahkan membuat sejumlah perempuan yang sedang merencanakan kehamilan memilih menjauh dari hewan peliharaannya.
Namun, dokter spesialis kebidanan dan kandungan Eka Hospital MT Haryono, Sita Ayu Arumi, menegaskan bahwa kucing bukan penyebab langsung sulit memiliki anak maupun keguguran. Menurutnya, hal yang perlu diwaspadai adalah toksoplasmosis, yakni infeksi yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii.
Kucing Bukan Penyebab Langsung Keguguran
Sita menjelaskan, seseorang yang terinfeksi toksoplasmosis dapat menghadapi risiko tertentu ketika hamil. Infeksi tersebut berpotensi menimbulkan kecacatan pada janin dan keguguran, meski angkanya disebut kecil. Kendati demikian, toksoplasmosis tidak berkaitan dengan kondisi sulit hamil.
“Kalau terinfeksi tokso, nanti saat hamil bisa terkena itu. Efeknya bisa kecacatan janin dan keguguran, tapi angkanya kecil. Kalau sulit hamil, enggak,” kata Sita dalam keterangannya saat temu media di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (18/8).
Ia menambahkan, terdapat sejumlah faktor lain yang lebih perlu diperhatikan dalam kasus keguguran. Faktor tersebut antara lain kondisi dan kualitas janin, termasuk faktor genetik. Kualitas sperma dan sel telur, infeksi, serta kelainan bawaan juga dapat berperan terhadap kehamilan.
Oleh sebab itu, keberadaan kucing di rumah tidak semestinya langsung dianggap sebagai penyebab keguguran. Pemeriksaan kesehatan diperlukan untuk mengetahui faktor yang mungkin memengaruhi kehamilan.
Bulu Kucing Tidak Menyebabkan Mandul
Salah satu mitos yang masih banyak dipercaya adalah anggapan bahwa bulu kucing dapat menyebabkan perempuan mandul atau mengalami keguguran. Sita menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak benar.
Bulu kucing tidak menyebabkan keguguran maupun kemandulan. Pada sebagian orang, bulu kucing memang dapat memicu alergi atau memperburuk gejala asma. Namun, kondisi tersebut berbeda dengan toksoplasmosis yang disebabkan oleh infeksi parasit.
Mengenal Risiko Toksoplasmosis
Toksoplasmosis disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Kucing dapat menjadi salah satu inang parasit tersebut dan mengeluarkannya melalui kotoran. Meski demikian, bukan berarti semua kucing pasti membawa toksoplasma.
Risiko lebih berkaitan dengan kucing yang terinfeksi, terutama kucing yang memiliki akses ke luar rumah dan berpotensi memakan daging mentah atau hewan buruan seperti tikus. Dengan demikian, memelihara kucing tidak otomatis membuat seseorang terpapar toksoplasmosis.
Penularan toksoplasmosis juga tidak selalu berasal dari kontak langsung dengan kucing. Seseorang dapat terpapar melalui makanan atau lingkungan yang telah tercemar. Daging yang tidak dimasak hingga matang dan tanah yang terkontaminasi kotoran hewan termasuk hal yang perlu diwaspadai.
Langkah Mengurangi Risiko Toksoplasmosis
Perempuan yang sedang hamil tidak harus memberikan atau menjauhkan kucing peliharaannya. Hal yang lebih penting adalah memastikan kucing dirawat dengan baik serta menjaga kebersihan diri, hewan, dan lingkungan sekitar.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko toksoplasmosis antara lain:
- Menghindari kegiatan membersihkan kotoran atau pasir kucing selama hamil. Jika memungkinkan, mintalah bantuan orang lain.
- Menggunakan sarung tangan saat berkebun atau menyentuh tanah.
- Mencuci tangan dengan sabun setelah memegang hewan dan sebelum makan.
- Tidak memberikan daging mentah kepada kucing.
- Memastikan daging yang dikonsumsi dimasak hingga benar-benar matang.
- Menjaga kebersihan area tempat kucing makan, tidur, dan bermain.
Kucing yang sehat dan dirawat dengan baik pada dasarnya tidak perlu menjadi sumber kekhawatiran berlebihan. Namun, kebersihan tetap harus diperhatikan, khususnya bagi perempuan yang sedang hamil atau merencanakan kehamilan.
Pemeriksaan Kehamilan Tetap Penting
Selain menjaga kebersihan dan keamanan makanan, pemeriksaan kesehatan sebelum dan selama kehamilan juga penting dilakukan. Pemeriksaan tersebut dapat membantu mengetahui berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi kehamilan sehingga dapat ditangani lebih awal.
Kesimpulan
Memelihara kucing tidak secara langsung menyebabkan keguguran, sulit hamil, atau kemandulan. Risiko yang perlu diperhatikan adalah toksoplasmosis akibat infeksi parasit Toxoplasma gondii, bukan sekadar karena menyentuh atau tinggal bersama kucing.
Perempuan hamil maupun yang sedang merencanakan kehamilan tidak harus menjauhi kucing peliharaannya. Dengan perawatan hewan yang baik, kebersihan yang terjaga, keamanan makanan, serta pemeriksaan kesehatan sebelum dan selama kehamilan, berbagai risiko dapat lebih diperhatikan dan ditangani sejak dini.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment