Jadeite Cabbage, Ukiran Kubis Giok yang Jadi Magnet Wisatawan di National Palace Museum
National Palace Museum (NPM) di Taipei, Taiwan, dikenal sebagai salah satu museum yang menyimpan koleksi bersejarah dalam jumlah besar. Di dalamnya terdapat hampir 700 ribu artefak dari era Kekaisaran China. Namun, dari ratusan ribu benda bernilai sejarah tersebut, sebuah ukiran batu giok berbentuk kubis justru menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.
Ukiran bernama Jadeite Cabbage itu memiliki ukuran sekitar 18,8 sentimeter. Meski tidak berukuran besar, karya seni tersebut mampu menarik perhatian jutaan pengunjung. Popularitasnya bahkan membuat Jadeite Cabbage memiliki ruang pameran tersendiri di NPM dan kerap menjadi objek yang paling ditunggu wisatawan.
Ukiran Kubis Giok yang Mengundang Antrean Panjang
Melansir Stuff, pengelola National Palace Museum memiliki istilah khusus untuk menyebut saat Jadeite Cabbage dipinjamkan atau dipamerkan di museum luar negeri. Mereka menyebutnya sebagai “perjalanan bisnis”. Pengumuman mengenai perjalanan tersebut biasanya menjadi perhatian karena ukiran ini merupakan salah satu karya yang paling dikenal dari koleksi museum.
Mengutip CNN, National Palace Museum menerima sekitar dua juta pengunjung setiap tahun. Di antara para pengunjung itu, banyak yang rela mengantre untuk melihat dan mengabadikan gambar Jadeite Cabbage. Antrean panjang tersebut menjadi gambaran nyata mengenai besarnya popularitas ukiran yang bentuknya menyerupai sayuran tersebut.
Daya tarik Jadeite Cabbage tidak hanya terletak pada bahan pembuatnya, tetapi juga pada kemampuan seniman dalam memanfaatkan karakter alami batu giok. Karya ini memperlihatkan perpaduan warna hijau pada bagian daun dan putih pucat di area pangkal. Perbedaan warna tersebut membuat ukiran tampak semakin menyerupai kubis sungguhan.
Detail Alami dan Keunikan Tersembunyi
Seniman yang membuat Jadeite Cabbage hingga kini masih belum diketahui identitasnya. Meski demikian, keterampilan pembuatnya dapat terlihat dari cara ia mengolah batu giok yang digunakan. Cacat alami pada batu dimanfaatkan untuk membentuk detail urat-urat daun, sehingga permukaannya tampak lebih hidup.
Jika diperhatikan secara saksama, terdapat pula bentuk ekor tonggeret dan belalang yang tersembunyi di balik lipatan dedaunan. Detail kecil ini membuat pengunjung tidak hanya melihat sebuah ukiran berbentuk kubis, tetapi juga diajak mengamati unsur-unsur lain yang disisipkan di dalamnya.
Jejak Sejarah dari Beijing hingga Taiwan
Jadeite Cabbage memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Sebelum berada di Taiwan, karya tersebut tersimpan di Kota Terlarang, Beijing, sebagai bagian dari koleksi kekaisaran. Setelah Dinasti Qing runtuh pada 1912, ukiran ini ditemukan di dalam sebuah wadah enamel.
Pada 1928, Jadeite Cabbage mulai dipamerkan kepada publik di Palace Museum Beijing. Namun, situasi politik dan konflik yang meluas kemudian mendorong proses evakuasi berbagai artefak kekaisaran. Ukiran kubis giok itu turut dipindahkan bersama ribuan benda bersejarah lainnya hingga akhirnya berada di Taiwan.
Dalam perjalanan sejarahnya, Jadeite Cabbage kerap dikaitkan dengan sejumlah makna simbolis, seperti kesucian, kesuburan, dan kemakmuran. Meski demikian, tidak semua sejarawan seni menilai karya ini sebagai mahakarya teknis yang luar biasa. Perbedaan penilaian tersebut tidak mengurangi daya tariknya di mata publik.
Dari Artefak Kekaisaran Menjadi Ikon Suvenir
Popularitas Jadeite Cabbage kini telah berkembang jauh melampaui ruang pamer museum. Bentuknya diabadikan dalam berbagai produk suvenir komersial, mulai dari replika, gantungan kunci, hingga boneka. Hal ini menunjukkan bahwa ukiran tersebut telah berubah menjadi salah satu simbol populer yang melekat dengan National Palace Museum.
Seorang mantan peneliti museum bahkan menyamakan fenomena Jadeite Cabbage dengan penyanyi one-hit wonder. Istilah itu merujuk pada sosok yang dikenal luas sepanjang masa berkat satu karya populer. Dalam perbandingan tersebut, karya yang menjadi “lagu hit” Jadeite Cabbage adalah sepotong batu giok berukuran sekitar 19 sentimeter yang dipahat menyerupai sayuran.
Kesimpulan
Jadeite Cabbage membuktikan bahwa ukuran kecil tidak selalu membatasi daya tarik sebuah karya seni. Detail ukiran, pemanfaatan warna alami batu giok, sejarah panjang, serta makna simbolis membuatnya menjadi salah satu artefak paling populer di National Palace Museum. Popularitas itu juga terlihat dari ruang pamer khusus, antrean pengunjung, hingga munculnya berbagai suvenir berbentuk kubis giok.
Ke depan, Jadeite Cabbage kemungkinan tetap menjadi salah satu daya tarik utama museum selama perhatian wisatawan terhadap kisah sejarah dan keunikannya terus bertahan. Bagi pengunjung, ukiran ini bukan sekadar benda menyerupai kubis, melainkan artefak yang membawa jejak perjalanan dari koleksi kekaisaran di Beijing hingga menjadi ikon budaya populer di Taiwan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment