Les Musik dan Kecerdasan Anak: Benarkah Bisa Meningkatkan Kemampuan Otak?
Banyak orang tua mendaftarkan anak mengikuti les musik dengan harapan kemampuan otaknya ikut berkembang. Piano, biola, dan berbagai alat musik lain kerap dipandang bukan hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai aktivitas yang dapat mendukung proses belajar anak. Namun, apakah les musik benar-benar dapat membuat anak lebih pintar?
Jawabannya tidak sesederhana itu. Sejumlah penelitian memang menemukan hubungan antara latihan musik dan beberapa kemampuan kognitif anak. Akan tetapi, hasil penelitian lain menunjukkan bahwa pengaruh tersebut bisa sangat kecil setelah faktor-faktor tertentu diperhitungkan. Karena itu, les musik sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai penyebab utama meningkatnya kecerdasan atau prestasi akademik anak.
Memainkan Alat Musik Melibatkan Banyak Kemampuan
Saat memainkan alat musik, anak tidak hanya berlatih menghasilkan nada. Mereka juga perlu mendengarkan suara dengan saksama, mengingat pola, mengikuti ritme, memahami instruksi, serta mengatur gerakan tangan dan tubuh secara bersamaan.
Berbagai aktivitas tersebut berkaitan dengan fungsi eksekutif. Fungsi eksekutif merupakan kemampuan mental yang membantu seseorang mengatur perhatian, mengendalikan respons, menyimpan informasi, dan menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapi.
Dengan demikian, proses belajar musik menuntut anak untuk menggunakan beberapa kemampuan secara bersamaan. Anak harus memperhatikan bunyi, mengingat langkah-langkah, dan mengendalikan gerakan agar dapat mengikuti permainan musik dengan baik.
Latihan Musik dan Kemampuan Mengendalikan Respons
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Cognition menyoroti salah satu bagian dari fungsi eksekutif, yaitu inhibitory control. Kemampuan ini merujuk pada kecakapan untuk menahan respons spontan atau tidak langsung bereaksi terhadap suatu rangsangan.
Dalam penelitian tersebut, ditemukan adanya hubungan antara latihan musik dan peningkatan kemampuan inhibitory control. Secara sederhana, latihan musik mungkin membantu anak belajar mengendalikan respons yang tidak diperlukan. Anak dapat berlatih untuk menunggu, memperhatikan, dan mengikuti instruksi sebelum bertindak.
Meski demikian, hubungan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa les musik menjadi satu-satunya penyebab perubahan kemampuan anak. Temuan penelitian perlu dipahami secara hati-hati, terutama karena kemampuan setiap anak dan kondisi pembelajarannya dapat berbeda.
Working Memory Juga Berpotensi Terpengaruh
Efek lebih terlihat pada anak usia prasekolah
Penelitian yang dikutip dari Frontiers in Psychology menjelaskan bahwa istilah “kemampuan otak meningkat” dapat mencakup berbagai kemampuan. Salah satu kemampuan yang cukup responsif terhadap latihan musik adalah working memory.
Working memory adalah kemampuan untuk menyimpan informasi dalam waktu singkat dan menggunakannya ketika mengerjakan suatu tugas. Dalam kegiatan musik, anak dapat menggunakan kemampuan ini ketika mengingat pola, mengikuti urutan, atau menerapkan instruksi saat memainkan alat musik.
Efek yang relatif lebih besar terlihat pada anak usia prasekolah, sekitar 3 hingga 6 tahun. Namun, hasil penelitian tidak selalu seragam. Besarnya pengaruh juga dapat dipengaruhi oleh cara pembelajaran musik diberikan kepada anak.
Les Musik Tidak Otomatis Membuat Anak Lebih Pintar
Riset yang diterbitkan dalam Memory & Cognition memang menunjukkan adanya kaitan antara latihan musik dengan kemampuan kognitif dan akademik anak. Akan tetapi, setelah peneliti memperhitungkan kualitas penelitian, efek tersebut menjadi sangat kecil hingga mendekati nol.
Temuan ini menunjukkan bahwa anak yang mengikuti les musik belum tentu berada dalam kondisi yang sama dengan anak yang tidak mengikuti les. Anak yang belajar musik bisa saja sejak awal memperoleh lebih banyak stimulasi dari keluarga, memiliki akses pendidikan yang berbeda, atau tumbuh dalam lingkungan belajar yang lebih mendukung.
Selain itu, karakteristik anak sejak awal juga mungkin memengaruhi ketertarikannya terhadap musik. Anak yang memiliki minat tertentu terhadap musik mungkin lebih terdorong untuk mengikuti les. Oleh sebab itu, ketika seorang anak yang mengikuti les musik memiliki kemampuan akademik lebih baik, hal tersebut tidak otomatis berarti les musiklah yang membuatnya lebih pintar.
Musik Sebaiknya Tidak Hanya Dipilih demi IQ
Hubungan antara musik dan kemampuan kognitif dapat berjalan dua arah. Latihan musik mungkin memengaruhi beberapa kemampuan anak, tetapi karakteristik anak sejak awal juga dapat memengaruhi ketertarikannya untuk belajar musik.
Karena itu, orang tua tidak harus mengenalkan musik semata-mata dengan tujuan mengejar IQ yang lebih tinggi. Belajar musik dapat menjadi aktivitas yang melibatkan kemampuan mendengar, mengingat, mengikuti ritme, mengatur gerakan, serta memusatkan perhatian.
Kesimpulan
Les musik memiliki hubungan dengan sejumlah kemampuan kognitif anak, termasuk inhibitory control dan working memory. Pengaruh yang relatif lebih besar terlihat pada anak usia prasekolah, tetapi hasil penelitian secara keseluruhan belum seragam. Setelah kualitas penelitian diperhitungkan, hubungan dengan kemampuan kognitif dan akademik bahkan dapat menjadi sangat kecil.
Dengan demikian, les musik tidak dapat dianggap sebagai jaminan bahwa anak akan menjadi lebih pintar. Ke depan, orang tua dapat memandang pembelajaran musik sebagai kegiatan yang memberi kesempatan bagi anak untuk melatih banyak kemampuan sekaligus, tanpa menjadikannya satu-satunya ukuran kecerdasan atau prestasi akademik.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment