Houthi Sebut Arab Saudi Lancarkan 58 Serangan dalam 24 Jam
Kelompok milisi Houthi di Yaman melaporkan Arab Saudi melancarkan puluhan serangan udara ke wilayah yang mereka kuasai pada Minggu (13/9). Serangan tersebut disebut terjadi setelah Houthi lebih dulu menggempur pangkalan militer milik Riyadh pada hari yang sama.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan Arab Saudi melancarkan 58 serangan dalam kurun 24 jam terakhir. Eskalasi ini menandai kembali memanasnya konflik antara Houthi dan Saudi setelah beberapa tahun sebelumnya sempat mereda melalui gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Houthi Klaim Saudi Lancarkan 58 Serangan
Yahya Saree menyampaikan bahwa serangan Saudi dilakukan setelah Houthi menyerang salah satu pangkalan militer Riyadh. Pernyataan tersebut disampaikan ketika ketegangan antara kedua pihak meningkat akibat rangkaian serangan rudal dan drone dalam sepekan terakhir.
Menurut saluran televisi milik Houthi, Almasirah, dua serangan Saudi diarahkan ke Saada. Wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu benteng utama kelompok Houthi. Serangan lainnya dilaporkan menyasar kawasan perbatasan Distrik Monabbih di provinsi yang sama.
Houthi juga mengeklaim bahwa Arab Saudi telah melancarkan lebih dari 100 serangan sejak Selasa (8/9). Namun, hingga kini, serangan-serangan Saudi disebut sebagian besar masih menyasar wilayah garis depan dan belum diarahkan ke pusat kekuasaan Houthi, termasuk ibu kota Sanaa.
Konflik Meningkat Setelah Serangan di Laut Merah
Hubungan Houthi dan Arab Saudi kembali memanas setelah kelompok tersebut mendeklarasikan blokade terhadap Riyadh serta melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah. Houthi menyebut aksi mereka sebagai balasan atas serangan militer Yaman yang didukung Saudi terhadap bandara di Sanaa pada 13 Juli.
Pekan ini disebut menjadi periode serangan rudal dan drone terberat yang dilakukan Houthi selama beberapa tahun terakhir. Serangkaian serangan tersebut dilaporkan menyebabkan sejumlah situs minyak Saudi terbakar. Sedikitnya 73 orang juga dikabarkan terluka akibat eskalasi yang berlangsung.
Rangkaian serangan Houthi selama sepekan terakhir kemudian berpuncak pada perebutan pantai di wilayah Laut Merah Yaman. Kawasan tersebut memiliki keterkaitan penting dengan Selat Bab Al Mandab, jalur perairan yang menjadi salah satu akses utama bagi lalu lintas ekspor minyak Arab Saudi.
Dampak terhadap Jalur Perdagangan dan Minyak
Selat Bab Al Mandab disebut sebagai arteri vital bagi ekspor minyak Saudi. Perannya semakin penting karena Selat Hormuz masih ditutup akibat perang antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini membuat setiap perkembangan keamanan di sekitar Laut Merah dan Bab Al Mandab berpotensi menambah tekanan terhadap jalur distribusi energi.
Dalam situasi tersebut, serangan terhadap kapal dan penguasaan wilayah pesisir menjadi bagian penting dari dinamika konflik. Eskalasi antara Houthi dan Saudi tidak hanya berdampak pada wilayah daratan Yaman, tetapi juga meningkatkan perhatian terhadap keamanan jalur laut yang berkaitan dengan pengiriman minyak.
Latar Belakang Konflik Yaman
Arab Saudi telah membantu pemerintah Yaman memerangi Houthi sejak 2015. Konflik Yaman sendiri pecah pada 2014 ketika Houthi merebut ibu kota dan menggulingkan pemerintahan yang diakui secara internasional.
Pada 2022, gencatan senjata tercapai melalui mediasi PBB. Kesepakatan tersebut sempat meredakan pertempuran, tetapi konflik kembali berkobar pada Juli setelah insiden di bandara Sanaa. Sejak saat itu, serangan antara pihak-pihak yang bertikai kembali meningkat.
Dampak kemanusiaan dari pertempuran terbaru juga terus meluas. Menurut badan PBB, pertempuran dalam beberapa pekan terakhir telah menyebabkan hampir 86 ribu orang mengungsi. Lebih dari 2.000 orang dilaporkan telah mencapai Djibouti.
Kesimpulan
Laporan Houthi mengenai 58 serangan Arab Saudi dalam 24 jam menunjukkan bahwa konflik Yaman kembali memasuki fase yang lebih tegang. Serangan balasan, aktivitas militer di wilayah pesisir, serta gangguan terhadap jalur Laut Merah memperlihatkan kompleksitas konflik yang belum terselesaikan.
Ke depan, perkembangan situasi akan sangat bergantung pada kemampuan pihak-pihak yang bertikai untuk menahan eskalasi dan kembali membuka ruang bagi penyelesaian melalui jalur diplomasi. Tanpa langkah tersebut, pertempuran berpotensi terus memperburuk krisis kemanusiaan serta meningkatkan jumlah pengungsi dari Yaman.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment