Ilmuwan China Temukan Deposit Emas dan Perak Raksasa di Dasar Laut Pasifik Barat
Ilmuwan China menemukan deposit mineral bawah laut berukuran sangat besar yang kaya akan emas dan perak di kawasan Pasifik barat. Endapan tersebut berada di ladang hidrotermal bersuhu tinggi dan disebut memiliki nilai ekonomi serta potensi eksploitasi yang sangat tinggi.
Penemuan ini merupakan hasil ekspedisi ilmiah gabungan yang melibatkan sejumlah lembaga akademik China. Laporan mengenai temuan tersebut disampaikan oleh stasiun televisi pemerintah China, CCTV, pada Jumat (11/9). Ekspedisi dilakukan untuk meneliti kawasan dasar laut yang diketahui memiliki aktivitas hidrotermal dan kandungan mineral bernilai ekonomi.
Deposit Mengandung Emas dan Perak Berkadar Tinggi
Wakil Dekan Institut Teknik Kelautan Universitas Tsinghua sekaligus salah satu ilmuwan utama proyek, Song Shiji, mengatakan area penambangan dasar laut tersebut memiliki nilai eksploitasi yang sangat tinggi. Deposit yang ditemukan diketahui mengandung logam mulia dalam konsentrasi yang disebut jauh lebih tinggi dibandingkan sejumlah endapan mineral di daratan.
Berdasarkan laporan CCTV, kadar emas di dalam bijih mencapai rata-rata 15,4 gram per ton. Sementara itu, kadar perak tercatat sekitar 1,27 kilogram per ton bijih. Emas dan perak tersebut terkonsentrasi dalam material yang dikenal sebagai bijih sulfida hidrotermal.
Tim peneliti menemukan deposit itu dalam bentuk tiga gundukan sulfida besar berbentuk kerucut. Bijih tersebut sebagian besar tersusun atas mineral bernilai ekonomi, seperti kalkopirit, pirit, dan sfalerit. Endapan semacam ini umumnya juga mengandung tembaga, seng, dan timbal.
Terbentuk dari Aktivitas Hidrotermal
Deposit mineral tersebut terbentuk melalui proses hidrotermal yang berlangsung di dasar laut. Air laut yang masuk ke dalam kerak bumi dipanaskan hingga mencapai suhu sangat tinggi. Dalam proses itu, air menyerap berbagai unsur logam dari lingkungan di sekitarnya.
Air panas yang kaya mineral kemudian keluar melalui lubang-lubang hidrotermal dan bertemu dengan air laut yang suhunya jauh lebih rendah. Perubahan suhu secara tiba-tiba menyebabkan logam bereaksi dengan sulfur. Reaksi tersebut kemudian menghasilkan endapan mineral sulfida di sekitar lubang hidrotermal.
Suhu Fluida Mencapai Lebih dari 315 Derajat Celsius
Survei pendahuluan yang dilakukan sebelum ekspedisi menemukan puluhan lubang hidrotermal bersuhu tinggi pada kedalaman sekitar 700 hingga 1.500 meter. Fluida yang keluar dari lubang-lubang tersebut memiliki suhu lebih dari 315 derajat Celsius.
Dengan memanfaatkan hasil survei sebelumnya, tim peneliti berhasil mengidentifikasi area hidrotermal baru yang disebut “baru dan sangat besar” di dalam cekungan tersebut. Kawasan ini menjadi lokasi ditemukannya tiga gundukan sulfida yang mengandung mineral emas dan perak.
Ekspedisi Melibatkan Sejumlah Lembaga Akademik
Penelitian tersebut melibatkan para peneliti dari Institut Geologi Kelautan Qingdao dan Universitas Shanghai Jiao Tong. Tim berangkat dari Shenzhen pada 10 Agustus menggunakan kapal penelitian Xiang Yang Hong 10.
Kapal tersebut merupakan salah satu kapal penelitian oseanografi raksasa pertama yang dirancang dan dibangun di dalam negeri China. Ekspedisi berlangsung selama 18 hari dan mencakup tujuh kali penyelaman ke laut dalam.
Menurut laporan yang tersedia, lokasi deposit berada di sebuah cekungan busur belakang di Pasifik barat yang termasuk dalam zona ekonomi eksklusif China. Namun, pemerintah China tidak mengungkapkan koordinat pasti lokasi penemuan tersebut.
Platform pelacakan maritim Shipxy menunjukkan kapal Xiang Yang Hong 10 berlayar melalui perairan di utara dan timur Taiwan serta wilayah utara Filipina selama ekspedisi berlangsung.
Habitat bagi Organisme Laut dalam
Ladang hidrotermal diketahui tersebar luas di kawasan Pasifik barat. Wilayah tersebut membentang dari Kepulauan Kuril di utara Jepang hingga perairan timur laut Selandia Baru, berdasarkan penelitian ilmiah yang diterbitkan dalam Jurnal Universitas Jilin oleh para ilmuwan kelautan dari Qingdao pada 2016.
Selain memiliki potensi kandungan mineral, ladang hidrotermal juga menjadi habitat bagi komunitas biologis unik. Song Shiji mengatakan organisme yang hidup di kawasan tersebut mampu beradaptasi dengan kondisi ekstrem di laut dalam.
Keberadaan organisme tersebut dapat membantu ilmuwan memahami cara makhluk hidup mempertahankan diri di lingkungan dengan suhu tinggi, tekanan besar, serta kondisi kimia yang berbeda dari wilayah laut lainnya. Karena itu, penemuan deposit mineral ini tidak hanya penting dari sisi geologi dan ekonomi, tetapi juga bagi penelitian mengenai kehidupan di laut dalam.
Kesimpulan
Penemuan deposit sulfida hidrotermal kaya emas dan perak di Pasifik barat menambah informasi penting mengenai potensi mineral dasar laut. Dengan kadar emas mencapai 15,4 gram per ton bijih dan perak hingga 1,27 kilogram per ton bijih, endapan tersebut disebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Meski demikian, lokasi pasti deposit belum dipublikasikan. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami karakteristik endapan, kondisi ladang hidrotermal, serta ekosistem unik yang hidup di sekitarnya. Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa dasar laut masih menyimpan banyak informasi mengenai proses geologi dan kemampuan organisme beradaptasi di lingkungan ekstrem.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment