Ilmuwan Penemu Protein Susu Kecoak Raih Ig Nobel Bidang Kimia

Para ilmuwan yang meneliti protein susu kecoak menjadi sorotan setelah meraih penghargaan dalam ajang Ig Nobel ke-36 yang digelar di Swiss pada 3 September. Penelitian tersebut dianggap unik karena mengungkap kandungan energi dalam susu kecoak yang ternyata jauh lebih tinggi dibandingkan susu sapi dalam ukuran yang setara.

Penghargaan Ig Nobel dikenal sebagai parodi dari penghargaan Nobel. Ajang ini diberikan kepada sepuluh penelitian nyata yang mampu membuat orang tertawa sekaligus mendorong publik untuk berpikir. Meski memiliki unsur humor, penelitian yang menerima penghargaan tetap dilakukan melalui metode ilmiah yang serius dan sah.

Dalam penyelenggaraan tahun ini, para penemu protein susu kecoak mendapatkan penghargaan di bidang kimia. Penghargaan tersebut kembali menarik perhatian terhadap penelitian mengenai Diploptera punctata, atau yang dikenal sebagai kecoak kumbang Pasifik.

Peneliti Protein Susu Kecoak Raih Penghargaan Ig Nobel

Penyelenggara Ig Nobel, Improbable Research, telah merilis daftar pemenang melalui situs resminya. Para ilmuwan yang terlibat dalam penelitian protein susu kecoak berasal dari sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Jepang, Kanada, dan India.

Nama-nama peneliti yang tercantum dalam daftar tersebut adalah Sanchari Banerjee, Nathan Coussens, François-Xavier Gallat, Nitish Sathyanarayanan, Jandhyam Srikanth, Koichiro Yagi, James Gray, Stephen Tobe, Barbara Stay, Leonard Chavas, dan Subramanian Ramaswamy.

Menurut keterangan resmi penyelenggara, penghargaan diberikan atas penemuan bahwa protein susu dari kecoak viviparous mengandung energi tiga kali lebih banyak daripada protein susu sapi. Namun, tidak terdapat informasi lebih lanjut mengenai latar belakang para peneliti tersebut dalam daftar penghargaan yang dirilis.

Mengenal Susu dari Kecoak Kumbang Pasifik

Penelitian ini berfokus pada susu dari Diploptera punctata, salah satu spesies kecoak yang menghasilkan cairan mirip susu untuk memberi nutrisi kepada anak-anaknya. Temuan ini berbeda dari pemahaman umum tentang susu yang biasanya dikaitkan dengan mamalia.

Cairan Nutrisi Disimpan di Dalam Kantung Induk

Pada mamalia, susu diberikan kepada anak melalui kelenjar susu. Sementara itu, Diploptera punctata menyimpan cairan kaya nutrisi di dalam kantung induknya. Kantung tersebut menjadi tempat embrio berkembang sekaligus mengonsumsi cairan yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhannya.

Setelah dikonsumsi oleh embrio, cairan tersebut terkonsentrasi di dalam usus embrio. Proses itu menghasilkan kristal-kristal kecil yang mengandung protein, karbohidrat, dan lipid dengan komposisi yang berbeda-beda.

Kristal Susu Kecoak Mengandung Energi Tinggi

Para peneliti kemudian mempelajari kristal protein berukuran lebih besar yang berhasil diisolasi dari usus tengah embrio Diploptera punctata. Berdasarkan hasil penelitian, kristal susu kecoak mampu menyimpan nutrisi dalam jumlah tinggi sehingga dapat mendukung pertumbuhan embrio.

Seperti dikutip dari The Scientist, para peneliti juga membandingkan kandungan energi kristal tersebut dengan susu sapi. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa satu kristal susu kecoak dapat mengandung energi lebih dari tiga kali lipat dibandingkan susu sapi dengan ukuran yang setara.

Kandungan energi yang tinggi itu membuat kristal susu kecoak berfungsi sebagai sumber makanan yang stabil bagi embrio. Dengan bentuk kristal, nutrisi dapat tersimpan di dalam tubuh embrio dan dimanfaatkan untuk mendukung proses pertumbuhannya.

Penelitian Serius di Balik Penghargaan yang Menghibur

Meski nama dan objek penelitiannya terdengar tidak biasa, penelitian ini menunjukkan bahwa penghargaan Ig Nobel tidak semata-mata diberikan untuk sesuatu yang lucu. Ajang tersebut menyoroti penelitian nyata yang memiliki dasar ilmiah, tetapi sekaligus mampu menarik perhatian masyarakat karena topiknya tidak lazim.

Para penerima penghargaan tetap merasa bangga karena penelitian mereka berhasil mengundang perhatian publik. Dalam konteks penelitian protein susu kecoak, penghargaan tersebut membantu memperkenalkan proses biologis yang berlangsung pada Diploptera punctata kepada khalayak yang lebih luas.

Kesimpulan

Penghargaan Ig Nobel bidang kimia yang diraih para penemu protein susu kecoak menyoroti temuan tentang kandungan energi tinggi dalam kristal susu Diploptera punctata. Kristal tersebut diketahui mengandung protein, karbohidrat, dan lipid, serta memiliki energi lebih dari tiga kali lipat dibandingkan susu sapi dengan ukuran setara.

Penelitian ini memperlihatkan bahwa objek yang terdengar unik tetap dapat dikaji secara serius menggunakan metode ilmiah. Ke depan, temuan mengenai susu kecoak akan tetap menjadi perhatian karena mampu membuka pemahaman yang lebih luas tentang cara spesies tersebut menyimpan dan menyediakan nutrisi bagi embrionya.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment