Bolehkah Mencampur Bensin Berbeda RON? Ini Dampaknya bagi Mesin Kendaraan

Keterbatasan pasokan bahan bakar minyak (BBM) dapat membuat pengendara mempertimbangkan untuk mencampur bensin dengan kadar oktan atau Research Octane Number (RON) yang berbeda. Misalnya, bensin RON 90 dicampur dengan RON 95 atau RON 98. Secara perhitungan, pencampuran tersebut memang dapat menghasilkan kadar oktan di antara jenis bensin yang digunakan.

Namun, mencampur bensin dengan RON berbeda ternyata tidak direkomendasikan oleh pabrikan maupun ahli teknik mesin. Setiap jenis bensin pada dasarnya telah disesuaikan dengan rasio kompresi mesin kendaraan. Informasi mengenai rasio kompresi tersebut biasanya tercantum dalam buku panduan atau manual kendaraan.

Setiap Mesin Memiliki Kebutuhan RON Berbeda

Bensin dengan kadar RON 90 hingga RON 98 dirancang untuk digunakan pada karakteristik mesin yang berbeda. Karena itu, pemilik kendaraan sebaiknya mengikuti rekomendasi bahan bakar yang tercantum dalam buku manual.

Penggunaan BBM dengan RON yang terlalu rendah dapat membuat kinerja mesin tidak optimal. Sebaliknya, penggunaan bensin dengan RON yang terlalu tinggi juga dapat menimbulkan risiko terhadap dapur pacu. Dalam kondisi tersebut, mesin berpotensi mengalami gejala menggelitik dan peningkatan suhu secara drastis.

Dengan demikian, pemilihan bensin tidak hanya berkaitan dengan angka oktan yang lebih tinggi. Kesesuaian antara RON dan rasio kompresi mesin menjadi hal penting agar kendaraan dapat bekerja sesuai peruntukannya.

Risiko Mencampur Bensin Berbeda RON

Mencampur dua jenis BBM dengan RON berbeda bukan hanya persoalan menggabungkan angka oktan. Setiap produk bensin dapat memiliki formula serta kandungan zat aditif yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat memengaruhi perlindungan terhadap komponen mesin.

Tri Yuswidjajanto Zaenuri, dosen teknik mesin ITB, menjelaskan bahwa pencampuran BBM dapat menimbulkan dampak negatif akibat ketimpangan kandungan di dalamnya. Kondisi tersebut berpotensi membuat perlindungan mesin menurun secara drastis.

“Maka nanti dosisnya (zat aditif) akan turun setengahnya. Secara oktan mungkin kita dapat kalau mencampur (bensin), tapi bahayanya deposit (kerak) justru naik,” kata Tri.

Peran Zat Aditif pada Bensin

Salah satu dampak yang dikhawatirkan dari pencampuran BBM adalah menurunnya fungsi aditif detergen. Ketika kandungan tersebut tidak bekerja secara optimal, sisa kotoran atau deposit dapat tertinggal di berbagai bagian sistem bahan bakar.

Deposit tersebut berpotensi menumpuk mulai dari saluran bahan bakar hingga ruang bakar. Jika dibiarkan, komponen klep dapat menjadi kotor. Dalam jangka waktu tertentu, kondisi ini juga dapat berdampak pada piston.

Kerusakan pada komponen mesin tersebut dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Bahkan, kerusakan fatal hingga mesin macet total menjadi salah satu risiko yang perlu diwaspadai apabila deposit terus menumpuk dan mengganggu kinerja bagian-bagian penting dalam mesin.

Cara Beralih ke BBM dengan RON Berbeda

Bagi pengendara yang ingin beralih ke jenis bensin dengan kadar RON lain, terdapat dua cara yang dapat dilakukan secara lebih aman. Cara pertama adalah mengosongkan tangki terlebih dahulu sebelum mengisinya dengan bensin baru.

Dengan tangki yang telah dikosongkan, bahan bakar yang digunakan berikutnya dapat lebih sesuai dengan RON yang dipilih. Cara ini dapat diterapkan bagi pengendara yang ingin mengganti jenis BBM tanpa mencampurkan dua bensin berbeda di dalam tangki.

Cara kedua adalah langsung mengisi bensin yang diinginkan, kemudian melanjutkan pengisian secara penuh atau full tank pada jadwal berikutnya. Dengan metode tersebut, manfaat penggunaan RON yang sesuai diharapkan dapat dirasakan secara optimal.

Kesimpulan

Mencampur bensin dengan RON berbeda memang dapat menghasilkan kadar oktan tertentu, tetapi tindakan tersebut tidak direkomendasikan karena setiap BBM memiliki formula dan kandungan aditif masing-masing. Pencampuran berisiko menurunkan fungsi zat aditif, meningkatkan pembentukan deposit, serta mengganggu kebersihan saluran bahan bakar, klep, hingga ruang bakar.

Pengendara sebaiknya memilih BBM sesuai rasio kompresi kendaraan yang tercantum dalam buku manual. Jika ingin berganti jenis bensin, tangki dapat dikosongkan terlebih dahulu atau pengisian penuh dilakukan pada jadwal berikutnya. Dengan mengikuti rekomendasi tersebut, penggunaan BBM dapat disesuaikan dengan kebutuhan mesin dan potensi gangguan akibat pencampuran dapat dihindari.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment