Jawa Timur Masuki Puncak Musim Kemarau, Hujan Diprediksi Tetap Rendah hingga November
Seluruh wilayah Jawa Timur saat ini berada dalam fase puncak musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi tersebut dipengaruhi oleh fenomena atmosfer El Nino berkategori sangat kuat. Fenomena ini diprediksi masih bertahan hingga awal 2027, sehingga masyarakat di Jawa Timur perlu bersiap menghadapi cuaca kering dalam beberapa waktu ke depan.
Staf Analisa dan Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Firda Amalia, membenarkan bahwa wilayah Jawa Timur sedang memasuki periode puncak kemarau. Berdasarkan prakiraan sebelumnya, puncak musim kemarau berlangsung pada Agustus hingga September. Saat ini, kondisi tersebut telah terjadi di seluruh wilayah Jawa Timur.
Selain suhu dan kondisi udara yang cenderung kering, rendahnya curah hujan juga menjadi ciri utama musim kemarau kali ini. BMKG memprediksi intensitas hujan di Jawa Timur masih berada pada kategori rendah hingga dua bulan ke depan.
Curah Hujan Oktober Diperkirakan Sangat Minim
Firda menjelaskan, kondisi cuaca di Jawa Timur masih cukup kering. Berdasarkan prediksi BMKG, curah hujan hingga November secara umum belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Masyarakat pun masih harus bersiap menghadapi terbatasnya hujan di berbagai daerah.
Pada Oktober, curah hujan diperkirakan berada pada kisaran 0 hingga 50 milimeter per bulan. Angka tersebut termasuk sangat rendah dan menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Jawa Timur masih berada dalam pengaruh kuat musim kemarau.
Memasuki November, curah hujan diprediksi mulai meningkat. Namun, peningkatan tersebut masih terbatas karena hujan diperkirakan berada dalam kategori ringan, yakni sekitar 51 hingga 100 milimeter per bulan. Dengan demikian, hujan yang turun belum cukup untuk mengakhiri kondisi kering secara menyeluruh.
Peningkatan Hujan Diprediksi Terjadi pada Desember
BMKG memperkirakan peningkatan curah hujan yang lebih masif baru terjadi pada penghujung 2026. Pada Desember, sebagian besar wilayah Jawa Timur diprediksi mulai menerima hujan dengan intensitas lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Curah hujan pada bulan tersebut diperkirakan masuk kategori menengah hingga tinggi. Jumlahnya dapat mencapai sekitar 300 hingga 400 milimeter per bulan. Perubahan ini menandai potensi berakhirnya periode kering yang mendominasi Jawa Timur selama puncak musim kemarau.
Meski demikian, prakiraan tersebut merupakan gambaran umum untuk wilayah Jawa Timur. Perbedaan kondisi geografis di setiap daerah tetap dapat memengaruhi waktu dan intensitas hujan yang turun.
Hujan Masih Berpeluang Turun di Sejumlah Daerah
Walaupun seluruh Jawa Timur sedang berada dalam puncak musim kemarau, hujan tetap berpeluang terjadi di sejumlah wilayah tertentu. Fenomena hujan pada musim kering tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor lokal, antara lain kondisi topografi pegunungan dan tingginya kelembapan udara.
Wilayah dengan karakteristik geografis tertentu dapat mengalami kondisi cuaca yang berbeda dibandingkan daerah lainnya. Karena itu, hujan masih mungkin turun secara lokal meskipun secara umum Jawa Timur tengah mengalami periode kering dengan curah hujan rendah.
Selain faktor lokal, gangguan atmosfer pada skala regional juga dapat memicu hujan secara tiba-tiba. BMKG menyebut gelombang Rossby dan Madden-Julian Oscillation atau MJO sebagai sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi pembentukan hujan di tengah musim kemarau.
Kesimpulan
Jawa Timur saat ini berada di puncak musim kemarau yang dipengaruhi oleh El Nino berkategori sangat kuat. Curah hujan diprediksi tetap rendah hingga November, dengan Oktober menjadi salah satu periode paling kering karena curah hujan diperkirakan hanya 0 hingga 50 milimeter per bulan.
Hujan mulai diperkirakan meningkat pada November, meski masih dalam kategori ringan. Peningkatan yang lebih besar baru diprediksi terjadi pada Desember, dengan curah hujan mencapai 300 hingga 400 milimeter per bulan. Di tengah kondisi tersebut, hujan lokal masih dapat turun akibat faktor topografi, kelembapan udara, serta gangguan atmosfer seperti gelombang Rossby dan MJO.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment