IHSG Anjlok 1,69 Persen ke Level 6.277, Sektor Energi Jadi Penekan Utama

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (22/9) sore. IHSG berakhir di level 6.277, turun 107,68 poin atau setara dengan penurunan 1,69 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pelemahan tersebut terjadi di tengah aktivitas transaksi yang cukup besar di Bursa Efek Indonesia.

Berdasarkan data RTI Infokom, nilai transaksi saham pada perdagangan kali ini mencapai Rp14,42 triliun. Sementara itu, volume saham yang berpindah tangan tercatat sebanyak 33,70 miliar saham. Pergerakan pasar secara umum juga didominasi oleh saham-saham yang mengalami koreksi.

Mayoritas Saham Mengalami Koreksi

Pada penutupan perdagangan Selasa, sebanyak 139 saham tercatat menguat. Namun, jumlah saham yang melemah jauh lebih besar, yakni mencapai 533 saham. Adapun 118 saham lainnya bergerak stagnan.

Komposisi tersebut menunjukkan tekanan jual yang cukup kuat di pasar domestik. Jumlah saham yang terkoreksi lebih dari tiga kali lipat dibandingkan saham yang mengalami penguatan. Kondisi ini turut menekan pergerakan IHSG hingga berakhir di zona merah.

Sektor Energi Memimpin Pelemahan

Dari 11 sektor yang tercatat dalam indeks sektoral, sebanyak 10 sektor mengalami penurunan. Sektor energi menjadi kelompok yang mencatat pelemahan paling dalam dengan penurunan sebesar 2,52 persen.

Selain sektor energi, tekanan juga terlihat dari pergerakan mayoritas sektor lainnya. Dengan 10 sektor berada di zona merah, ruang penguatan di pasar saham domestik menjadi terbatas. Pelemahan secara luas tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat penurunan IHSG pada akhir perdagangan.

Sektor Barang Konsumen Nonprimer Menguat

Di tengah pelemahan hampir seluruh sektor, sektor barang konsumen nonprimer menjadi satu-satunya sektor yang berhasil mencatatkan penguatan. Sektor tersebut naik tipis sebesar 0,23 persen.

Kenaikan sektor barang konsumen nonprimer belum mampu mengimbangi tekanan yang datang dari sektor-sektor lain, terutama sektor energi. Dengan demikian, IHSG tetap berakhir turun meskipun masih terdapat kelompok saham yang bergerak positif.

Bursa Asia Bergerak di Zona Hijau

Pergerakan bursa saham domestik berlangsung berlawanan dengan mayoritas pasar saham di kawasan Asia. Sejumlah indeks utama Asia terpantau bergerak menguat pada perdagangan yang sama.

Indeks Hang Seng Composite di Hong Kong naik 0,18 persen. Sementara itu, Shanghai Composite di China menguat 0,06 persen. Penguatan yang lebih besar terlihat pada indeks Nikkei 225 di Jepang yang naik 1,38 persen. Adapun indeks Straits Times di Singapura menguat 1 persen.

Data tersebut memperlihatkan bahwa mayoritas bursa di kawasan Asia mampu bergerak di zona hijau, sementara IHSG justru mengalami penurunan cukup signifikan. Perbedaan arah pergerakan ini menunjukkan bahwa perdagangan saham domestik pada Selasa berada di bawah tekanan yang lebih kuat dibandingkan sejumlah pasar regional.

Bursa Eropa dan Amerika Kompak Menguat

Penguatan juga terlihat pada bursa saham Eropa. Indeks DAX di Jerman tercatat naik 0,12 persen. Sementara itu, indeks FTSE 100 di Inggris menguat 0,09 persen.

Pergerakan positif berlanjut di bursa Amerika Serikat. Indeks S&P 500 menguat 1,49 persen, sedangkan Nasdaq Composite naik 2,26 persen. Indeks Dow Jones juga mencatatkan penguatan sebesar 0,71 persen.

Kesimpulan

IHSG menutup perdagangan Selasa (22/9) di level 6.277, melemah 107,68 poin atau 1,69 persen. Penurunan tersebut berlangsung di tengah nilai transaksi Rp14,42 triliun dan volume perdagangan 33,70 miliar saham. Tekanan pasar tercermin dari 533 saham yang terkoreksi, berbanding 139 saham yang menguat dan 118 saham stagnan.

Pelemahan IHSG juga dipengaruhi oleh kinerja mayoritas sektor, dengan sektor energi menjadi penekan utama setelah turun 2,52 persen. Hanya sektor barang konsumen nonprimer yang mampu menguat, yakni sebesar 0,23 persen. Ke depan, arah perdagangan IHSG akan tercermin dari perkembangan kinerja sektor-sektor di dalam indeks serta keseimbangan antara saham yang menguat dan terkoreksi pada sesi perdagangan berikutnya.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment