Gunung Semeru Erupsi Tiga Kali, Kolom Abu Capai 1.000 Meter di Atas Puncak

Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, mengalami tiga kali erupsi pada Senin (14/9) pagi. Erupsi ketiga tercatat sebagai letusan terbesar dalam rangkaian aktivitas tersebut dengan kolom abu vulkanik mencapai 1.000 meter di atas puncak.

Dengan ketinggian tersebut, kolom abu teramati berada di sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl). Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, menyampaikan bahwa seluruh aktivitas erupsi terekam oleh seismograf. Masyarakat pun diminta mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan karena status aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga.

Tiga Kali Erupsi dalam Rentang Waktu Pagi

Erupsi pertama Gunung Semeru terjadi pada pukul 04.20 WIB. Saat itu, kolom letusan teramati mencapai ketinggian 500 meter di atas puncak atau sekitar 4.176 mdpl.

Kolom abu pada erupsi pertama terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat laut. Aktivitas tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 21 milimeter serta durasi erupsi selama 128 detik.

“Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat laut. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 21 mm dan durasi 128 detik,” kata Sigit dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang, Senin.

Erupsi Kedua Terjadi Pukul 05.53 WIB

Erupsi berikutnya terjadi sekitar satu setengah jam kemudian, yakni pada pukul 05.53 WIB. Ketinggian kolom letusan meningkat menjadi 800 meter di atas puncak atau sekitar 4.476 mdpl.

Dalam erupsi kedua, kolom abu vulkanik berwarna kelabu dengan intensitas tebal. Arah sebaran abu teramati menuju utara dan barat laut. Aktivitas tersebut tercatat pada seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan durasi 133 detik.

Letusan Ketiga Menjadi yang Terbesar

Selang waktu tidak terlalu lama, erupsi ketiga Gunung Semeru terjadi pada pukul 06.28 WIB. Pada letusan ini, kolom abu vulkanik mencapai 1.000 meter di atas puncak atau sekitar 4.676 mdpl.

Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan mengarah ke timur. Erupsi ketiga tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter serta durasi 140 detik.

“Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur. Erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi 140 detik,” ujar Sigit.

Gunung Semeru Masih Berstatus Level III atau Siaga

Sigit menegaskan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. Sejalan dengan kondisi tersebut, masyarakat diminta tidak melakukan kegiatan di wilayah yang berpotensi terdampak erupsi.

Larangan aktivitas berlaku di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak Gunung Semeru yang menjadi pusat erupsi. Wilayah tersebut dinilai berpotensi terdampak material erupsi sehingga harus dihindari oleh masyarakat.

Selain itu, masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Area tersebut tetap berisiko terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.

Warga Diminta Mewaspadai Awan Panas dan Lahar

Pembatasan aktivitas juga diberlakukan dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Kawasan ini berpotensi terkena lontaran batu pijar sehingga masyarakat perlu menjauhi area tersebut.

Petugas turut mengingatkan warga agar mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar yang dapat bergerak di sepanjang aliran sungai maupun lembah yang berhulu di puncak Semeru.

Beberapa jalur yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Potensi lahar juga dapat terjadi pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.

Kesimpulan

Gunung Semeru mengalami tiga kali erupsi pada Senin pagi, dengan letusan ketiga menjadi yang terbesar karena menghasilkan kolom abu setinggi 1.000 meter di atas puncak. Aktivitas vulkanik gunung tersebut masih berstatus Level III atau Siaga.

Dengan adanya potensi awan panas, guguran lava, lontaran batu pijar, dan lahar, masyarakat perlu mematuhi batasan wilayah yang telah ditetapkan. Pemantauan aktivitas Gunung Semeru dan kepatuhan terhadap rekomendasi keselamatan menjadi hal penting untuk mengurangi risiko bagi warga di kawasan yang berpotensi terdampak.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment