Iran Tuduh AS Tiru Taktik Hitler setelah Salahkan Teheran atas Kenaikan Harga Bahan Bakar

Iran menuduh Amerika Serikat menggunakan pola propaganda yang pernah dipakai pemimpin Nazi Adolf Hitler setelah sejumlah pejabat Washington menyalahkan Teheran atas kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri. Tuduhan tersebut disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, melalui akun X.

Baghaei menilai pernyataan pejabat Amerika Serikat telah mengabaikan rangkaian peristiwa yang, menurut Iran, menjadi penyebab munculnya krisis. Ia menyebut Washington justru ikut menciptakan situasi tersebut setelah memulai perang pada Februari lalu. Konflik itu kemudian disebut berdampak pada penutupan Selat Hormuz dan terganggunya pelayaran komersial.

Iran Kritik AS soal Kenaikan Harga Bahan Bakar

Baghaei menyampaikan kritik terhadap sikap pejabat Amerika Serikat yang mengaitkan kenaikan harga bahan bakar dengan Iran. Ia mempertanyakan alasan Washington melemparkan kesalahan kepada Teheran, sementara dampak krisis tersebut, menurutnya, tidak dapat dilepaskan dari keputusan dan tindakan Amerika Serikat sendiri.

Dalam unggahannya, Baghaei menyatakan bahwa para pejabat AS seolah-olah menganggap masyarakat telah melupakan pihak yang memulai perang. Ia juga menyinggung tindakan yang disebut memicu krisis hingga berujung pada penutupan Selat Hormuz serta gangguan terhadap aktivitas pelayaran komersial.

“Para pejabat AS menyalahkan Iran atas kenaikan harga bahan bakar, seolah-olah ingatan publik begitu pendek hingga lupa siapa sebenarnya yang memulai perang agresi, dan tindakan yang memicu krisis hingga berujung pada penutupan Selat Hormuz serta terganggunya pelayaran komersial,” tulis Baghaei melalui akun X.

Baghaei Bandingkan dengan Taktik Adolf Hitler

Selain menolak tuduhan Amerika Serikat, Baghaei membandingkan cara Washington menyampaikan narasi tersebut dengan taktik yang pernah digunakan Adolf Hitler. Ia mengatakan, tindakan menyalahkan pihak lain setelah melakukan agresi bukanlah hal baru dalam sejarah.

Baghaei secara khusus merujuk pada invasi Hitler ke Polandia pada 1939. Menurut dia, Hitler ketika itu melabeli invasi tersebut sebagai tindakan defensif. Perbandingan ini digunakan Baghaei untuk menilai bahwa Amerika Serikat sedang menerapkan pola serupa ketika menyalahkan Iran atas dampak krisis dan kenaikan harga bahan bakar.

“Namun, ini bukanlah taktik baru. Pada tahun 1939, Hitler melakukan hal serupa dengan melabeli invasinya ke Polandia sebagai tindakan defensif,” tulis Baghaei.

Teheran Soroti Narasi Perang

Pernyataan tersebut menunjukkan keberatan Iran terhadap cara Amerika Serikat membingkai konflik dan dampaknya. Baghaei menilai narasi yang menyudutkan Iran berpotensi mengaburkan pihak yang, menurut versi Teheran, memulai perang agresi serta memicu gangguan terhadap jalur pelayaran.

Dalam pernyataannya, Baghaei tidak hanya membantah tuduhan soal harga bahan bakar, tetapi juga mempertanyakan dasar kebijakan yang diambil Washington. Ia menilai publik perlu mengingat kembali rangkaian tindakan yang menyebabkan krisis sebelum menentukan pihak yang dianggap bertanggung jawab.

Pemerintahan Trump Disebut Mengalami “The March of Folly”

Baghaei kemudian menyebut kebijakan pemerintahan Donald Trump sebagai gejala “The March of Folly”. Istilah tersebut merujuk pada buku karya Barbara W. Tuchman yang membahas paradoks ketika pemerintah menjalankan kebijakan yang justru bertentangan dengan kepentingan mereka sendiri.

Menurut Baghaei, tindakan memulai “perang pilihan” yang disebutnya melanggar hukum, lalu menyalahkan korban atas dampak yang muncul, tidak dapat begitu saja dianggap sebagai strategi yang cemerlang. Ia mempertanyakan apakah langkah tersebut benar-benar menunjukkan kecerdasan strategis atau justru menggambarkan pola kebijakan yang keliru.

“Ketika pihak yang memicu ‘perang pilihan’ yang melanggar hukum, justru menyalahkan korbannya atas dampak yang timbul, patutkah hal ini dipandang sebagai kecemerlangan strategis? Atau ini sekadar gejala klasik dari ‘The March of Folly’,” tulis Baghaei.

Kesimpulan

Iran melalui Esmaeil Baghaei menolak tuduhan Amerika Serikat yang mengaitkan Teheran dengan kenaikan harga bahan bakar. Iran justru menilai krisis tersebut muncul setelah AS memulai perang pada Februari lalu, yang kemudian disebut berdampak pada penutupan Selat Hormuz dan terganggunya pelayaran komersial.

Baghaei juga membandingkan cara AS menyalahkan Iran dengan taktik Adolf Hitler ketika menginvasi Polandia pada 1939. Selain itu, ia mengkritik pemerintahan Donald Trump melalui istilah “The March of Folly”, yang menggambarkan kebijakan pemerintah yang berlawanan dengan kepentingannya sendiri. Ke depan, pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa perselisihan narasi antara Iran dan Amerika Serikat masih menjadi bagian penting dalam perkembangan konflik serta dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pelayaran.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment