Iran Tawarkan Buka Selat Hormuz dalam Tujuh Hari dengan Syarat Pengurangan Tekanan Militer AS

Iran disebut menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari, dengan syarat Amerika Serikat terlebih dahulu mengambil langkah untuk mengurangi tekanan militer terhadap Teheran. Tawaran tersebut disampaikan melalui mediator dan dilaporkan telah diajukan kepada Washington.

Informasi itu disampaikan seorang pejabat Iran kepada media Jepang, Kyodo News, dan dikutip Anadolu Agency pada Selasa (22/9). Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan minyak global yang disebut masih diblokade sejak perang antara Iran dan Amerika Serikat pecah pada Februari lalu.

Iran Ajukan Syarat Pembukaan Selat Hormuz

Menurut pejabat Iran tersebut, Teheran bersedia membuka Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari apabila Amerika Serikat memulai langkah untuk mengurangi tekanan militer. Pernyataan itu menunjukkan bahwa pembukaan jalur strategis tersebut berkaitan langsung dengan perkembangan konflik antara kedua negara.

“Iran sudah menawarkan untuk membuka Selat Hormuz dalam tujuh hari jika Amerika Serikat mengambil inisiatif awal untuk mengurangi tekanan militer,” kata pejabat itu kepada Kyodo News, sebagaimana dikutip Anadolu Agency.

Proposal tersebut, menurut dia, telah disampaikan kepada Washington melalui seorang mediator. Isi proposal itu tidak hanya membahas pembukaan jalur pelayaran, tetapi juga mendorong dimulainya kembali pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat.

Proposal Mendorong Perundingan Permanen

Pejabat Iran itu menjelaskan bahwa usulan tersebut menyerukan pembicaraan baru yang bertujuan mengakhiri permusuhan kedua negara secara permanen. Dengan demikian, pembukaan Selat Hormuz diposisikan sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk meredakan konflik, bukan sekadar keputusan terkait jalur perdagangan.

Ia juga menyebut masih terdapat kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat. Namun, pejabat tersebut membantah adanya potensi pertemuan antara Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Penutupan Selat Hormuz Ganggu Pasokan dan Harga BBM

Selat Hormuz disebut masih tertutup sebagai dampak dari perang yang dimulai Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Penutupan jalur tersebut menimbulkan dampak terhadap perdagangan minyak global, termasuk gangguan pada pasokan serta kenaikan harga bahan bakar minyak.

Selat Hormuz menjadi salah satu jalur penting dalam distribusi minyak. Karena itu, kondisi di kawasan tersebut mendapat perhatian besar, terutama ketika konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat masih berlangsung. Gangguan terhadap jalur ini disebut berpengaruh terhadap kelancaran suplai dan pergerakan harga bahan bakar.

Hingga kini, perang antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan masih berlanjut. Kedua pihak kerap terlibat saling serang, terutama di sekitar Selat Hormuz. Situasi tersebut membuat rencana pembukaan jalur itu sangat bergantung pada perkembangan militer dan diplomatik di antara kedua negara.

Gencatan Senjata Belum Mengakhiri Konflik

Iran dan Amerika Serikat sebelumnya sempat menyepakati gencatan senjata serta menandatangani nota kesepahaman atau MoU yang ditujukan untuk mengakhiri perang. Namun, berdasarkan keterangan dalam laporan tersebut, kesepakatan itu belum mampu menghentikan permusuhan.

Amerika Serikat disebut berulang kali melanggar kesepakatan yang telah dibuat. Kondisi ini memperumit upaya perdamaian dan membuat pembicaraan lanjutan menghadapi tantangan. Di sisi lain, Iran kini menawarkan pembukaan Selat Hormuz dengan syarat adanya inisiatif awal dari Washington untuk mengurangi tekanan militer.

Kesimpulan

Iran disebut siap membuka Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari apabila Amerika Serikat lebih dulu mengurangi tekanan militer. Tawaran itu telah disampaikan kepada Washington melalui mediator dan mencakup dorongan untuk memulai kembali pembicaraan guna mengakhiri permusuhan secara permanen.

Ke depan, realisasi pembukaan Selat Hormuz akan bergantung pada respons Amerika Serikat serta perkembangan konflik di kawasan tersebut. Apabila proposal itu mendapat tanggapan positif, jalur diplomasi berpeluang kembali dibuka. Namun, selama saling serang masih berlangsung dan kesepakatan sebelumnya belum sepenuhnya dijalankan, ketidakpastian terhadap kondisi Selat Hormuz, pasokan minyak, dan harga bahan bakar masih akan terus berlanjut.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment