Rupiah Melemah ke Rp17.884 per Dolar AS, Investor Menanti Keputusan RDG BI
Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (22/9) sore. Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.884 per dolar AS, turun 37 poin atau 0,21 persen dibandingkan posisi pada perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah berlangsung ketika pasar valuta asing Asia menunjukkan pergerakan yang beragam. Sejumlah mata uang kawasan masih mampu menguat terhadap dolar AS, sementara mata uang lainnya mengalami tekanan. Di saat yang sama, seluruh mata uang utama negara maju tercatat bergerak melemah terhadap dolar AS.
Rupiah Melemah 0,21 Persen
Pergerakan rupiah pada perdagangan sore mencerminkan adanya tekanan terhadap mata uang domestik. Dengan penurunan 37 poin, rupiah berada di level Rp17.884 per dolar AS. Pelemahan tersebut setara dengan 0,21 persen jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah terjadi menjelang agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan berlangsung pada hari berikutnya. Investor mencermati keputusan tersebut sehingga membentuk sikap hati-hati di pasar valuta asing.
Pergerakan Mata Uang Asia Bervariasi
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terhadap dolar AS tidak seragam. Beberapa mata uang tercatat menguat pada perdagangan yang sama. Peso Filipina naik 0,14 persen, sedangkan won Korea Selatan menguat 0,94 persen. Dolar Hong Kong juga mencatat kenaikan tipis sebesar 0,02 persen.
Sejumlah Mata Uang Asia Tertekan
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Yuan China turun 0,12 persen. Ringgit Malaysia terdepresiasi 0,02 persen, sementara dolar Singapura melemah 0,09 persen.
Yen Jepang juga bergerak turun sebesar 0,18 persen. Perbedaan kinerja antarmata uang tersebut menunjukkan bahwa pasar Asia berada dalam kondisi yang beragam, dengan sebagian mata uang menguat dan sebagian lainnya menghadapi tekanan.
Mata Uang Negara Maju Kompak Melemah
Selain rupiah dan beberapa mata uang Asia, seluruh mata uang utama negara maju terpantau melemah terhadap dolar AS. Euro Eropa turun 0,26 persen, sedangkan poundsterling Inggris terkoreksi 0,25 persen.
Dolar Australia mengalami penurunan sebesar 0,28 persen. Sementara itu, dolar Kanada melemah 0,08 persen dan franc Swiss turun 0,12 persen. Pergerakan tersebut terjadi di tengah penguatan dolar AS yang turut memengaruhi pasar mata uang global.
Investor Menanti Keputusan RDG BI
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah melemah cukup signifikan karena investor tengah mengantisipasi keputusan RDG BI. Menurut dia, perhatian pelaku pasar tertuju pada agenda bank sentral tersebut yang akan digelar besok.
“Rupiah ditutup melemah cukup besar terhadap dolar AS di tengah antisipasi investor terhadap RDG BI besok. Mata uang Asia maupun utama dunia umumnya juga melemah di tengah kenaikan indeks dolar AS ke level tertinggi baru sejak 30 Juli oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga berlangsung dalam konteks pergerakan dolar AS di pasar global. Kenaikan indeks dolar AS ke level tertinggi baru sejak 30 Juli menjadi salah satu faktor yang menekan berbagai mata uang, termasuk rupiah.
Kesimpulan
Rupiah ditutup melemah 37 poin atau 0,21 persen ke level Rp17.884 per dolar AS pada Selasa (22/9) sore. Pelemahan ini terjadi ketika mata uang Asia bergerak bervariasi dan seluruh mata uang utama negara maju terpantau turun terhadap dolar AS.
Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada keputusan RDG BI yang dijadwalkan berlangsung besok. Selain itu, perkembangan indeks dolar AS dan meningkatnya ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed masih menjadi faktor yang diperhatikan dalam menentukan arah pergerakan rupiah serta mata uang global.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment