Proyek PSEL Galuga Ubah 1.500 Ton Sampah per Hari Menjadi Listrik, Solusi atau Masalah Baru?

Bogor menjadi salah satu wilayah yang dipilih pemerintah untuk mengembangkan program Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Fasilitas tersebut dibangun di kawasan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Galuga, Kabupaten Bogor, sebagai upaya menangani persoalan sampah yang terus meningkat.

Proyek ini menggabungkan teknologi PSEL untuk mengolah sampah baru dengan teknologi pirolisis yang ditujukan untuk menangani timbunan sampah lama. Pemerintah menilai integrasi kedua teknologi dalam satu kawasan merupakan terobosan dalam pengelolaan sampah sekaligus pemanfaatan energi.

Meski demikian, rencana tersebut mendapat sorotan dari Greenpeace Indonesia. Organisasi lingkungan itu menilai PSEL belum tentu menjadi solusi utama karena fasilitas tersebut tetap membutuhkan pasokan sampah dalam jumlah besar agar dapat beroperasi. Perdebatan ini menunjukkan bahwa pengolahan sampah menjadi energi tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga menyangkut kebijakan, anggaran, lingkungan, dan perilaku masyarakat.

Proyek PSEL Galuga Targetkan Pengolahan 1.500 Ton Sampah

Persoalan sampah di wilayah Bogor dinilai mendesak. Kabupaten Bogor disebut menghasilkan sekitar 3.000 ton sampah setiap hari. Sementara itu, Kota Bogor menghasilkan sekitar 700 hingga 1.000 ton sampah per hari.

Melalui proyek di TPAS Galuga, pemerintah menargetkan pengolahan sekitar 1.500 ton sampah baru setiap hari. Sampah tersebut akan dikonversi menjadi energi listrik dengan kapasitas sekitar 20 hingga 30 megawatt.

Fasilitas ini rencananya mulai beroperasi pada 2027. Pemerintah memandang pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) tersebut sebagai langkah cepat untuk mengurangi timbunan sampah yang terus menggunung.

Greenpeace Soroti Ketergantungan terhadap Pasokan Sampah

Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia Ibrar Akbar menilai PSEL bertentangan dengan hierarki pengelolaan sampah. Dalam hierarki tersebut, pengurangan sampah dari sumber atau hulu seharusnya menjadi prioritas utama.

Menurut Ibrar, PSEL justru membutuhkan pasokan sampah secara berkelanjutan. Kebutuhan sekitar 1.500 ton sampah per hari dinilai dapat membuat sistem pengelolaan sampah bergantung pada jumlah sampah yang besar.

“Kami melihat PSEL ini bukan solusi permasalahan sampah. Dengan pendekatan proyek dan bisnis, maka sampah dipandang sebagai sumber ekonomi yang harus dipertahankan,” kata Ibrar.

Ia menambahkan, ketergantungan terhadap pasokan sampah berpotensi mendorong masyarakat untuk terus menghasilkan sampah. Kondisi tersebut dinilai tidak sejalan dengan upaya mengurangi timbulan sampah dari hulu.

Pemilahan Sampah Dinilai Belum Optimal

Greenpeace juga menyoroti kondisi pengelolaan sampah yang saat ini belum terpilah dengan baik. Sampah kering masih kerap bercampur dengan sampah basah karena regulasi, infrastruktur, dan dukungan pengelolaan belum sepenuhnya diarahkan pada pemilahan.

Padahal, sampah basah dinilai kurang sesuai dengan teknologi PSEL. Pemilahan sejak dari sumber menjadi hal penting agar sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan memiliki karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan teknologi.

Risiko Anggaran dan Dampak Lingkungan

Selain persoalan pasokan bahan baku, biaya operasional juga menjadi perhatian. Ibrar menyebut sejumlah daerah dan kota masih menghadapi keterbatasan anggaran pengelolaan sampah. Di sisi lain, PSEL membutuhkan anggaran besar agar dapat beroperasi.

Aspek lingkungan juga menjadi sorotan. Proses pembakaran sampah menghasilkan residu yang tetap harus dikelola. Residu tersebut berpotensi membutuhkan tempat pembuangan akhir tersendiri sehingga dapat menimbulkan beban baru dalam sistem pengelolaan sampah.

Greenpeace juga memperingatkan potensi emisi dari proses pembakaran. Emisi tersebut dinilai dapat berdampak terhadap kesehatan warga di sekitar proyek. Transparansi hasil uji emisi, pengawasan kelayakan, serta keterbukaan mengenai dampak PSEL disebut masih menjadi tantangan.

Dalam pengoperasiannya, PSEL akan menggunakan teknologi moving grate incinerator yang dilengkapi Air Pollution Control System (APCS). Teknologi tersebut disebut mampu mengurangi volume sampah secara signifikan dalam waktu singkat.

Pakar: Keberhasilan Bergantung pada Pemilahan Sampah

Pakar Teknik Bioproses UGM, Wiratni, mengatakan keberhasilan proyek PLTSa sangat bergantung pada kesiapan teknis dan perubahan perilaku masyarakat sebagai penghasil sampah.

Menurutnya, fasilitas tersebut akan bekerja lebih optimal apabila sampah yang masuk telah dipilah dengan baik. Sampah yang diproses idealnya berupa sampah kering agar efisiensi termal tetap terjaga dan peralatan tidak cepat mengalami kerusakan.

“Jika masih bercampur antara organik dan anorganik, proses akan merugi dan investasi berisiko sia-sia. PLTSa memang bisa dilengkapi alat pengering, tetapi hal itu meningkatkan biaya operasional sekaligus menimbulkan bau yang mengganggu,” ujar Wiratni, seperti dikutip dari laman resmi UGM.

Ia menegaskan bahwa PLTSa sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya solusi untuk menangani persoalan sampah. Akar masalah tetap berkaitan dengan manusia sebagai penghasil sampah, sehingga perubahan perilaku dan pemilahan dari sumber menjadi bagian penting dalam strategi pengelolaan.

Pengurangan Plastik Sekali Pakai Tetap Menjadi Prioritas

Greenpeace mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan anggaran pemilahan serta pengelolaan sampah organik. Langkah tersebut dinilai lebih sesuai dengan prinsip pengurangan sampah dari hulu.

Pemerintah pusat juga diminta mendorong industri plastik dan sektor manufaktur untuk mengurangi produksi plastik sekali pakai. Selain itu, industri perlu didorong beralih dari model kemasan sekali pakai menuju sistem guna ulang.

Kesimpulan

Proyek PSEL di TPAS Galuga menawarkan solusi teknologi untuk mengolah 1.500 ton sampah per hari menjadi energi listrik berkapasitas 20 hingga 30 megawatt. Pemerintah menargetkan fasilitas ini mulai beroperasi pada 2027 sebagai upaya mengatasi persoalan sampah di wilayah Bogor.

Namun, keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh teknologi pembakaran dan kapasitas listrik yang dihasilkan. Pemilahan sampah, kesiapan anggaran, pengelolaan residu, pengawasan emisi, serta perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor penting yang harus diperhatikan.

Ke depan, PSEL perlu ditempatkan sebagai salah satu bagian dari sistem pengelolaan sampah, bukan satu-satunya jalan keluar. Pengurangan sampah dari hulu, pengelolaan organik, serta pengurangan plastik sekali pakai tetap menjadi langkah utama agar persoalan sampah dapat ditangani secara berkelanjutan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment