Houthi Serang Riyadh dan Fasilitas Minyak Yanbu dengan Rudal serta Drone
Milisi Houthi di Yaman kembali melancarkan serangan terhadap Arab Saudi menggunakan rudal dan drone pada Sabtu (19/9). Serangan tersebut menyasar sejumlah lokasi di Riyadh serta fasilitas minyak di Yanbu, terminal strategis yang berada di pesisir Laut Merah.
Serangan ini menjadi tanda meningkatnya kembali ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi setelah hubungan kedua pihak memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Houthi mengklaim serangan dilakukan terhadap sejumlah sasaran sensitif, sementara Arab Saudi menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal yang mengarah ke ibu kota.
Houthi Klaim Lancarkan Serangan Besar
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan kelompoknya menembakkan “sejumlah besar rudal balistik, rudal jelajah, dan drone” ke sejumlah lokasi sensitif di Riyadh. Selain ibu kota Arab Saudi, Houthi juga mengklaim menargetkan fasilitas perusahaan minyak nasional Arab Saudi di Yanbu.
Yanbu merupakan salah satu terminal penting Arab Saudi yang terletak di pesisir Laut Merah. Klaim penyerangan terhadap fasilitas energi tersebut memperluas cakupan serangan Houthi, yang sebelumnya juga menyasar fasilitas militer, bandara, kota-kota Saudi, dan infrastruktur energi.
Pertahanan Udara Arab Saudi Mencegat Rudal
Arab Saudi mengonfirmasi bahwa pertahanan udaranya mencegat rudal yang mengarah ke Riyadh. Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, juru bicara koalisi militer pimpinan Arab Saudi di Yaman, menyatakan sistem pertahanan udara juga menggagalkan serangan yang menyasar warga sipil dan infrastruktur sipil di sejumlah wilayah lain.
Peringatan darurat terdengar di sejumlah kawasan. Warga juga melaporkan mendengar suara ledakan keras. Dua ledakan disebut mengguncang bagian barat Riyadh, wilayah yang menjadi lokasi sejumlah kedutaan asing.
Gangguan juga dilaporkan terjadi di sektor penerbangan. Data FlightRadar24 menunjukkan adanya penundaan besar-besaran di Bandara Internasional Raja Khalid, Riyadh, pada Sabtu (19/9). Sementara itu, laporan Reuters memperlihatkan asap membumbung di sekitar kawasan bandara. Hingga laporan tersebut disampaikan, belum ada informasi langsung mengenai korban akibat serangan di Riyadh.
Akar Konflik Houthi dan Arab Saudi
Konflik antara Houthi dan Arab Saudi berawal dari krisis politik Yaman yang berkembang setelah demonstrasi Arab Spring pada 2011. Ketika itu, Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh menghadapi demonstrasi besar setelah berkuasa selama lebih dari tiga dekade.
Saleh kemudian menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya, Abdrabbuh Mansour Hadi, melalui proses transisi. Hadi selanjutnya menjabat sebagai presiden dalam masa transisi. Namun, pemerintahannya menghadapi berbagai persoalan, termasuk korupsi, kerawanan pangan, serangan kelompok militan, serta perpecahan di tubuh militer.
Kondisi tersebut dimanfaatkan kelompok Houthi untuk memperluas pengaruhnya. Houthi merupakan gerakan politik dan bersenjata yang berasal dari komunitas Zaydi di Yaman utara. Kelompok ini secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah.
Gerakan Houthi sejak lama menentang pengaruh pemerintah Arab Saudi di Yaman. Ketegangan antara kedua pihak juga berkaitan dengan persoalan politik, agama, ekonomi, serta marginalisasi masyarakat di wilayah utara Yaman.
Houthi Menguasai Sanaa
Pada 2014, Houthi bergerak semakin jauh dari basisnya di Provinsi Saada. Mereka merebut sejumlah wilayah dan kemudian memasuki Sanaa, ibu kota Yaman. Pada September tahun yang sama, Houthi berhasil menguasai Sanaa sehingga Hadi kehilangan kendali atas pemerintahannya.
Perkembangan tersebut mengubah krisis politik menjadi perang terbuka. Pada Maret 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk melakukan intervensi di Yaman. Koalisi itu terdiri atas Arab Saudi dan delapan negara Arab lainnya yang mayoritas berpenduduk Sunni, serta mendapat dukungan dari Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.
Koalisi melancarkan serangan udara terhadap Houthi dengan tujuan mengembalikan pemerintahan Hadi yang diakui secara internasional. Arab Saudi juga memandang perkembangan Houthi sebagai persoalan keamanan nasional.
Arab Saudi menuduh Iran memberikan senjata dan dukungan logistik kepada Houthi. Namun, Iran membantah tuduhan tersebut. Upaya koalisi untuk membantu pemerintah Yaman merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi juga tidak segera mengakhiri konflik.
Gencatan Senjata dan Kembalinya Eskalasi
Setelah bertahun-tahun berperang, Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi memasuki periode deeskalasi. Pada 2022, kedua pihak menyepakati gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Kesepakatan itu pada awalnya berlaku selama dua bulan. Namun, gencatan senjata tersebut turut menciptakan periode yang relatif lebih tenang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, situasi di Yaman kembali memburuk. Houthi disebut memperluas penguasaan di wilayah pesisir Laut Merah, termasuk kawasan strategis di sekitar Mokha dan Bab el-Mandeb. Ketegangan pun merembet secara langsung ke wilayah Arab Saudi.
Houthi kemudian melancarkan serangkaian serangan menggunakan rudal dan drone terhadap fasilitas militer, bandara, kota-kota Saudi, serta infrastruktur energi. Arab Saudi merespons dengan meningkatkan serangan udara terhadap posisi Houthi di Yaman.
Kesimpulan
Serangan terbaru terhadap Riyadh dan fasilitas minyak di Yanbu menunjukkan kembali meningkatnya ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi. Houthi menyebut serangan tersebut sebagai respons terhadap operasi Arab Saudi di Yaman, sedangkan Arab Saudi menilai aksi itu sebagai ancaman terhadap warga sipil dan infrastruktur.
Dengan kedua pihak yang masih saling menuduh sebagai pemicu eskalasi, situasi di Yaman dan wilayah Arab Saudi diperkirakan tetap membutuhkan perhatian. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada respons militer masing-masing pihak serta kemungkinan kembalinya upaya deeskalasi yang sebelumnya dimediasi PBB.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment